Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Haruskah Tunda Kehamilan Selama Pandemi?

Psikolog Adityana Kasandra Putranto mengatakan bahwa hal yang wajar jika beberapa pasangan mengambil keputusan menunda kehamilan untuk menghindari risiko.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 29 September 2020  |  14:03 WIB
Ibu hamil. - Istimewa
Ibu hamil. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Tak sedikit ibu sengaja menunda kehamilan di masa pandemi, alasan khawatir tertular Covid-19 menjadi yang paling utama.

Psikolog Adityana Kasandra Putranto mengatakan bahwa hal yang wajar jika beberapa pasangan mengambil keputusan menunda kehamilan untuk menghindari risiko.

“Proses kehamilan dan melahirkan mengharuskan kita untuk mengunjungi dokter di rumah sakit. Dalam kondisi ini, tenaga kesehatan dan rumah sakit sangat rentan menjadi sumber penularan virus. Jadi, wajar mengambil keputusan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RSIA Tambak
Arie Aldila Pratama mengatakan bahwa menunda kehamilan selama pandemi tidak selalu tepat, terutama pada wanita yang tengah menjalani program kehamilan sejak sebelum pandemi.

Selain belum ada satupun jurnal infertilitas yang menyarankan untuk menunda kehamilan di masa pandemi COVID-19, usia juga seharusnya menjadi pertimbangan.

“Pada pasangan dengan riwayat infertilitas, usia sangat berpengaruh. Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Jika sampai bertahun-tahun, masa sih mau ditunda-tunda untuk mendapatkan anak? Bagaimanapun, ada batas usia bagi seorang wanita dalam kondisi terbaiknya untuk hamil. Semakin tua usia wanita, kemungkinan hamil berkualitas semakin turun,” jelasnya.

Untuk itu, Arie merekomendasikan agar pasangan yang tengah menjalani program kehamilan karena riwayat infertilitas, sebaiknya tidak menunda atau menghentikan program.

Lain halnya jika satu pasangan sudah punya dua atau tiga anak. Pada kondisi seperti ini, barulah disarankan menunda kehamilan di masa pandemi Covid-19.

Sebab, meskipun belum ada pembuktian bahwa virus penyebab Covid-19 bisa menyebabkan kecacatan lahir tetapi sebaiknya tetap waspada.

“Ini kan virus baru. Jadi, kita juga perlu waspada, meskipun dari data-data bayi yang lahir di Wuhan sekalipun belum ada pembuktian adanya kecacatan karena ibunya terinfeksi COVID-19,” ungkapnya.

Menunda kehamilan bisa dilakukan dengan alat kontrasepsi. Seperti yang disebutkan di atas, dari hasil survei, 43 persen wanita menggunakan alat kontrasepsi (KB) untuk mencegah kehamilan di masa pandemi Covid-19.

Pilihan Kontrasepsi

Berdasarkan data, dari semua jenis alat kontrasepsi, kondom menjadi pilihan yang paling populer. Memang, setiap pasangan berhak memilih alat kontrasepsi yang tepat, tetapi Arie merekomendasikan spiral sebagai alat kontrasepsi yang digunakan.

“Spiral tanpa hormon dan bisa digunakan untuk lima tahun ke depan. Kapanpun mau punya anak lagi, tinggal dicopot,” jelasnya.

Karena tanpa hormon, spiral tidak mengganggu siklus haid ataupun kesuburan. Selain itu, angka kegagalan spiral juga cukup rendah, yaitu hanya 0.6 persen hingga 0.8 peraen. Dibandingkan dengan kondom, angka kegagalannya mencapai 20 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hamil pandemi corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top