Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengenal Apa Itu Impostor Syndrome

Hal itu, dipicu adanya game among us yang menggunakan istilah itu sebagai bagian dari permainannya.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 06 Oktober 2020  |  19:56 WIB
Ilustrasi Depresi - Istimewa
Ilustrasi Depresi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Tiba-tiba saja istilah impostor menjadi tren saat ini.

Hal itu, dipicu adanya game among us yang menggunakan istilah itu sebagai bagian dari permainannya.

Impostor syndrome juga disebut sebagai sindrom penipu yang mungkin kadang dirasakan Anda dalam kehidupan nyata.

Dikutip dari Web MD, salah satu alasan seseorang merasa seperti merasakan impostor syndrome adalah bahwa, meskipun Anda telah naik ke level berikutnya, tapi masih merasa seperti orang yang sama sebelum hal itu terjadi. Dan Anda merasa tidak pantas mendapatkannya.

Pergeseran ke peran baru yang lebih tinggi terjadi dalam hidup bisa sangat mengejutkan dan memicu sindrom ini

Semisal, sehari setelah Anda mendapat promosi, diterima di Stanford, menjadi pengacara, punya bayi, mendapatkan kontrak buku, membuka toko kue, atau menjadi presiden? Apakah Anda benar-benar siap untuk peran yang lebih besar dan lebih banyak tanggung jawab?

Merasa seperti impostor adalah tanda bahwa Anda sedang melakukan peregangan, tumbuh, dan melakukan hal-hal yang baik. 

Dikutip dari wikipedia, impostor Syndrome adalah pola psikologis di mana seseorang meragukan keterampilan, bakat, atau pencapaian mereka dan memiliki ketakutan yang terus-menerus terinternalisasi untuk diekspos sebagai "penipuan".

Terlepas dari bukti eksternal tentang kompetensi mereka, mereka yang mengalami fenomena ini tetap yakin bahwa mereka adalah penipuan, dan tidak pantas mendapatkan semua yang telah mereka capai.

Sindrom ini bisa terjadi pada pria dan wanita secara setara. 

Sindrom penipu juga terjadi dalam konteks penyakit mental dan pengobatannya. Orang-orang tertentu mungkin menganggap diri mereka tidak terlalu sakit (kurang tertekan, tidak terlalu cemas) dibandingkan rekan-rekan mereka atau orang sakit jiwa lainnya, dengan alasan kurangnya gejala yang parah sebagai indikasi tidak adanya atau masalah mendasar yang kecil.

Orang ini tidak mencari bantuan untuk masalah mereka, karena melihat masalah mereka sebagai tidak layak untuk mendapat perhatian psikiater

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

game stres
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top