Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cara Menghindari Hidden Hunger pada Anak di Masa Pandemi

Setelah terkena penyakit ini, anak tersebut sama sekali tidak menampakkan gejala. Anak masih tetap berkegiatan seperti pada umumnya. Terlebih di masa pandemi seperti ini, hidden hunger sangat berbahaya dan harus diwaspadai oleh para orang tua.
Krizia Putri Kinanti
Krizia Putri Kinanti - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  16:16 WIB
Ilustasi - Seorang anak makan buah dan sayur. - Istimewa
Ilustasi - Seorang anak makan buah dan sayur. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Siapa pernah dengar penyakit hidden hunger atau kelaparan tersembunyi? bentuk kekurangan gizi mikro yang tersembunyi ini rentan menginfeksi anak-anak.

Setelah terkena penyakit ini, anak tersebut sama sekali tidak menampakkan gejala. Anak masih tetap berkegiatan seperti pada umumnya. Terlebih di masa pandemi seperti ini, hidden hunger sangat berbahaya dan harus diwaspadai oleh para orang tua.

dr. Florentina M. Rahardja, Dokter Spesialis Gizi Klinis mengatakan hidden hunger di masa pandemi akan berpengaruh terhadap imunitas tubuh, tubuh sendiri perlu zat-zat termasuk mikronutrien, apabila kekurangan mikronutrien maka akan menyulitkan sel-sel imun untuk bekerja.

“Mikronutrien perlu untuk pembentukan hormon, aktivitas enzim dalam metabolisme tubuh kita, kita menggerakkan tangan, bernafas itu memerlukan berbagai macam energi. Energi itu dari vitamin dan mineral, untuk imunitas juga. Nah hidden hunger itu, vitamin dan mineral kurang terjadilah deplesi,” tuturnya dalam virtual pers conference Sunpride, Kamis (22/10/2020).

Hal ini juga merupakan salah satu pemicu tingginya angka kematian ibu dan anak, penyakit akibat infeksi, rendahnya kecerdasan anak serta dapat menurunkan produktivitas kerja. Pada ibu hamil, dampak dari hidden hunger bisa menurun kepada anaknya. Ibu yang kekurangan gizi bisa mengalami anemia dan melahirkan anak yang berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi dan terhambat pertumbuhannya atau stunting.

Pemicunya, tidak lain adalah asupan buah dan sayur yang minim. Buah sendiri bisa menjadi pilihan untuk dikonsumsi karena alami, bisa langsung dimakan dan steril. Selain mengandung vitamin dan mineral juga mengandung serat. Yang paling penting pilih buah yang aman bebas dari bahan kimia yang berbahaya.

“Buah bagusnya langsung dimakan saja tanpa diolah lagi. Karena kalau diolah zat gizinya berkurang misalnya digoreng, dimasak hingga berubah warna. Tapi semisalnya mau dipercantik agar bisa dikonsumsi anak-anak, bisa dipotong saja dan disajikannya berwarna-warni, diblender juga lebih mudah, dilumatkan dan dihaluskan. Kalau harus melalui proses masak seperti dikeringkan itu pasti akan merubah komposisi buahnya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak buah
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top