Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berbagi Jadi Solusi Tangani Food Waste

Banyak petani yang meninggalkan produk pertaniannya di lahan karena harga jual yang merosot akibat minimnya pembeli.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 17 November 2020  |  17:42 WIB
Garda Pangan bukan hanya menangani food waste, namun juga food lost. Adapun food lost adalah makanan yang terbuang dari hulu sampai ke ritel.
Garda Pangan bukan hanya menangani food waste, namun juga food lost. Adapun food lost adalah makanan yang terbuang dari hulu sampai ke ritel.

Bisnis.com, JAKARTA - Sampah makanan bisa menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup di bumi. Pasalnya, sampah tersebut menghasilkan gas metana yang dampaknya lebih buruk dari karbon dioksida CO2 dan berkontribusi terhadap pemanasan global, berujung pada cuaca ekstrem juga bencana, hingga munculnya penyakit.

Sampah makanan banyak dihasilkan dari aktivitas manusia. Entah ketika tidak menghabiskan makanan di piring, sisa makanan di restoran atau perhotelan, bahan makanan di supermarket, hingga acara pernikahan. Ya, kerap kali makanan yang buang sejatinya masih layak dikonsumsi. Alasan yang dijumpai selalu karena makanan berlebih.

Resah dengan sampah makanan membuat Eva Bachtiar bersama suami dan rekannya mendirikan Garda Pangan. Yayasan ini mengumpulkan makanan berlebih dari restoran, katering, bakery, hotel, lahan pertanian, event, pernikahan, dan donasi individu, dengan melewati serangkaian uji kelayakan makanan, untuk disalurkan pada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya dan Malang.

"Garda Pangan meminimalisir food waste tapi di sisi lain membuka akses pangan ke masyarakat pra-sejahtera," ujar Eva beberapa waktu lalu.

Dia menerangkan Garda Pangan bukan hanya menangani food waste, namun juga food lost. Adapun food lost adalah makanan yang terbuang dari hulu sampai ke ritel. Misalnya bahan makanan yang terbuang di lahan pertanian maupun dalam perjalanan karena tidak masuk standar peritel.

Di tengah pandemi virus corona ini, Eva menyebut banyak petani yang meninggalkan produk pertaniannya di lahan karena harga jual yang merosot akibat minimnya pembeli. Sementara jika dipanen, tidak cukup untuk menutupi ongkos produksi maupun gaji pekerja.

"Petani sudah putus asa, mereka tinggal di lahan. Kami tetap beli. Kita ingin bantu petani secara ekonomi walaupun nggak banyak. Kami buat volunteering trip dan gleaning trip," tuturnya.

Sementara food waste yakni sampah makanan dari peritel sampai ke end user. Misalnya, makanan yang tidak lagi cantik namun nyatanya masih baik untuk dikonsumsi dan makan berlebih dari acara pesta atau di restoran.

Saat pandemi, Garda Pangan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam menerima dan menyortir makanan berlebih tersebut. Mereka pun menutup sementara akses relawan publik dan sebisa mungkin untuk membagikan makanan dari pintu ke pintu. Andai kata tidak mampu, mereka membagikan makanan dengan model antrian berjarak.

Di sisi lain, edukasi tetap dilakukan saat menangani food waste dari mitra mereka. Eva menerangkan setiap bulannya Garda Pangan akan menyajikan data mengenai sampah makanan yang dihasilkan dari mitra mereka, terutama yang bergerak pada bisnis makanan.

garda food, garda pangan,

Langkah Garda Pangan pun tidak sia-sia. Para pemilik bisnis makanan itupun sadar bahwa ternyata sampah makanan yang dihasilkan menimbulkan kerugian dalam skala ekonomi. "Ada bakery premium di Surabaya, tadinya hasilkan 100 porsi per hari. Sekarang dia kurangi 10-15 porsi per hari," bebernya.

Eva berharap agar para pemilik bisnis makanan sadar akan pentingnya untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan. Garda Pangan pun mempunyai mimpi memiliki cabang di seluruh Indonesia untuk bisa mengedukasi dan menyadarkan lebih banyak lagi pihak untuk menangani persoalan sampah makanan. Namun yang paling dasar yakni, semua orang membiasakan diri untuk bertanggung jawab menghabiskan makanan yang telah diambilnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

makanan petani makanan sehat
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top