Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Sarah Gilbert, Sosok Wanita di Balik Rancangan Vaksin Oxford

Jika Sarah Gilbert hanya mengikuti instingnya, vaksin virus corona terbaru yang menunjukkan hasil sangat menjanjikan mungkin tidak akan pernah ada.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 25 November 2020  |  16:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA –  Vaksin covid-19 buatan Oxford baru saja diumumkan efektivitasnya mencapai lebih dari 90 persen. Di balik kesuksesan vaksin itu, ada nama seorang perempuan bernama Sarah Gilbert. 

Jika Sarah Gilbert hanya mengikuti instingnya, vaksin virus corona terbaru yang menunjukkan hasil sangat menjanjikan mungkin tidak akan pernah ada. Pasalnya, bertahun-tahun lalu, profesor itu sempat mempertimbangkan untuk ‘membungkus’ sains dari kehidupannya.

Sebagai mahasiswi muda jurusan ilmu biologi di University of East Anglia, Gilbert memiliki energi dari keragaman pemikiran dan pengalaman di departemen tersebut. Akan tetapi ketika melanjutkan gelar doktornya di University of Hull, dia memiliki banyak fokus yang tidak sesuai keinginannya.

Dia mengatakan bahwa sebagian ilmuwan akan dengan senang hati bekerja ekstra pada satu subjek untuk waktu yang sangat lama. Tapi Gilbert tidak demikian. Dia mengaku senang mencoba dan mempertimbangkan ide dari banyak bidang yang berbeda.

“Saya memang mempertimbangkan untuk meninggalkan sains pada saat itu dan melakukan sesuatu yang berbeda. Akan tetapi saya memutuskan untuk sekali lagi berkarier di bidang ilmiah saya membutuhkan penghasilan,” katanya kepada The Life Scientific dari BBC Radio awal tahun ini.

Ini adalah keputusan yang akhirnya membawa dunia pada pengumuman awal pekan ini, yang menyatakan bahwa vaksin virus corona yang dikembangkannya di University of Oxford sangat efektif menghentikan pasien mengembangkan gejala Covid-19.

Menurut hasil laporan awal uji klinis tahap akhir, vaksin secara umum memberikan perlindungan hingga 70 persen. Akan tetapi, para peneliti mengatakan bahwa angkanya bisa lebih tinggi dan mencapai 90 persen dengan penyesuaian dosis.

Penelitian Malaria

Lahir di Kettering, Northamptonshire pada April 1962, Gilbert merupakan anak dari seorang ayah yang bekerja di bisnis sepatu, sementara ibunya merupakan guru bahasa Inggris dan anggota perkumpulan opera amatir setempat.

Seorang teman sekolahnya mengatakan bahwa sifat Gilbert yang pendiam dan kaku, suatu sifat yang mungkin menjelaskan keputusannya bertahun-tahun kemudian, untuk mempertahankan gelar PhD-nya kendati dia ragu.

Setelah menyelesaikan gelar doktornya, dia mendapat pekerjaan di pusat penelitian pembuat bir. Tugasnya mencari cara memanipulasi ragi pembuatan bir, sebelum akhirnya bekerja di bidang kesehatan manusia.

Dia mengaku tidak pernah bermaksud menjadi spesialis vaksin. Namun pada pertengahan 1990-an, dia bekerja sebagai akademisi di University of Oxford, meneliti genetika malaria dan itu mengarahkannya pada penelitian vaksin malaria.

Hidupnya menjadi sedikit lebih rumit saat dia melahirkan anak kembar tiga. Membesarkan mereka adalah pengalaman yang disarankan seorang teman untuk menjelaskan pendekatan yang tidak masuk akal.

Putranya Freddie menggambarkan ibunya selalu mendukung dan mengutamakan kepentingan terbaik anak-anak. Ketiga anak itu memilih untuk mengikuti jalan mereka sendiri, katanya - meskipun semuanya akhirnya memilih untuk belajar biokimia di universitas.

Mengembangkan Berbagai Vaksin

Gilbert akhirnya naik pangkat di Oxford, menjadi profesor di Jenner Institute yang bergengsi. Dia mendirikan kelompok penelitiannya sendiri dalam upaya menciptakan vaksin flu universal, yang berarti vaksin yang akan efektif melawan semua jenis virus flu yang berbeda.

Pada 2014, dia juga memimpin uji coba pertama vaksin Ebola. Selain itu, ketika virus MERS - Middle East respiratory syndrome - menyerang, dia pergi ke Arab Saudi guna mencoba mengembangkan vaksin untuk jenis virus korona ini.

Uji coba kedua vaksin itu baru saja dimulai ketika pada awal 2020, virus corona baru yang menyebabkan pandemi Covid-19 muncul di China. Gilbert dengan cepat menyadari bahwa dia mungkin bisa menggunakan pendekatan yang sama.

Teresa Lamber, rekan profesor Gilbert di Oxford mengatakan mereka cepat menyadarinya, ketika para ilmuwan China mempublikasikan struktur genetik dari virus baru itu. “Selama akhir pekan, vaksin itu dirancang dengan sangat baik. Kami melakukannya dengan sangat cepat,” katanya.

Urgensinya, dalam menghadapi kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia, mungkin menjelaskan beberapa praktik kerjanya yang lebih tidak ortodoks. Lambe menjelaskan bahwa rekannya itu cenderung bekerja dari pagi-pagi sekali sampai larut malam. Milis yang datang padanya bisa dikirim pukul 4 pagi.

Butuh beberapa minggu untuk membuat vaksin yang bekerja melawan Covid-19 di laboratorium. Kemudian batch pertama mulai diproduksi pada awal April, karena regimen pengujian yang ketat. Gilbert menggambarkan proses tersebut sebagai serangkaian langkah kecil - bukan sebagai momen terobosan besar.

"Sejak awal, kami melihatnya sebagai perlombaan melawan virus, bukan perlombaan melawan pengembang vaksin lain. Kami adalah universitas dan kami tidak melakukan ini untuk menghasilkan uang,” katanya awal tahun ini.

Teman sekolah, universitas, dan koleganya menggambarkan Gilbert sebagai orang yang teliti, pendiam, dan teguh serta seseorang dengan ketabahan sejati. Seorang mahasiswanya mengatakan bahwa dia kadang-kadang bisa sangat pemalu dan pendiam kepada orang-orang.

Sementara yang lainnya menyebutkan bahwa mereka tak jarang merasa terintimidasi oleh Gilbert ketika berada di kampus. Akan tetapi, tidak demikian jika orang menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengannya.

Pandangan dunia sekarang tertuju pada Gilbert dan beberapa arsitek vaksin Covid-19 lainnya di dunia. Akan tetapi, Anne Moore, rekan ahli biokimianya mengatakan bahwa profesor dan pakar vaksin itu akan sangat membenci perhatian semacam itu.

“Dia akan membencinya, benar-benar membencinya. Maksudku, Sarah [Gilbert] adalah orang di ruangan itu yang tidak ingin menjadi pusat perhatian,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

oxford Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top