Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ilmuwan Sebut Vaksin Covid-19 Perlu Diperbaharui untuk Lawan Strain Baru

Penelitian oleh ilmuwan pemerintah Afrika Selatan mengungkapkan bahwa mutasi varian baru, yang dikenal sebagai 501Y.V2 atau B1351, membuat varian itu secara substansial lebih kebal terhadap antibodi dalam plasma darah
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 21 Januari 2021  |  13:02 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa vaksin virus corona mungkin perlu didesain ulang untuk meningkatkan perlindungan terhadap varian baru yang muncul dengan cepat di Afrika Selatan.

Penelitian oleh ilmuwan pemerintah Afrika Selatan mengungkapkan bahwa mutasi varian baru, yang dikenal sebagai 501Y.V2 atau B1351, membuat varian itu secara substansial lebih kebal terhadap antibodi dalam plasma darah yang disumbangkan oleh pasien Covid-19.

Penemuan ini menunjukkan kemungkinan lebih besar untuk menginfeksi kembali orang yang sudah pernah tertular Covid-19, dan vaksin yang diluncurkan di seluruh dunia mungkin kurang efektif.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (21/1) peneliti menemukan bahwa kemampuan antibodi untuk menetralkan virus biasanya turun delapan kali lipat dengan adanya varian baru, yang berarti diperlukan antibodi lebih untuk menonaktifkan virus varian baru.

Dalam penelitian yang belum ditunjau oleh sejawat, tim dari National Institute for Communicable Diseases di Johannesburg menemukan bahwa potensi plasma kaya antibodi sangat bervariasi.

Kemampuan menetralkan plasma dari beberapa pasien turun hingga 64 kali lipat ketika diuji terhadap varian baru, sementara untuk yang lain kemampuan untuk menghapus varian baru tidak terpengaruh.

Ilmuwan menyatakan hampir setengah atau 21 dari 44 pasien tidak memiliki aktivitas netralisasi yang terdeteksi. Mereka memperingatkan bahwa varian baru menimbulkan risiko infeksi ulang yang signifikan.

Selain itu, para ilmuwan juga menyoroti persyaratan mendesak untuk vaksin yang dapat dirancang ulang dengan cepat. Ini juga didorong oleh adanya laporan bahwa kasus infeksi ulang dengan varian B1351 telah terjadi di Afrika Selatan.

Penurunan delapan kali lipat dalam netralisasi adalah ambang batas yang digunakan World Health Organization (WHO) untuk memutuskan kapan pembaruan diperlukan untuk vaksin influenza musiman.

Trevor Bedford, imunolog dan virologi dari University of Washington mengatakan jika hasil dari Afrika Selatan dikonfirmasi, risiko penyebaran varian lebih luas akan membenarkan rencana pembaruan strain potensial.

"Kami memiliki vaksin luar biasa yang bekerja melawan virus yang beredar saat ini. Dan jika diperlukan, situasi yang muncul ini dapat ditangani melalui pembaruan vaksin yang akan datang," ujarnya.

Danny Altmann, Profesor imunolog di Imperial College London mengatakan hasil terbaru ini cukup mengganggu dan dapat memengaruhi pengembangan vaksin yang sedang dilakukan, yang bahkan beberapa di antaranya telah diberikan kepada masyarakat.

James Naismith, Profesor biologi struktural di University of Oxford mengatakan temuan tersebut bukan kabar yang baik di tengah situasi pandemi yang masih terus meningkat, tetapi dia juga mendesak masyarakat agar tidak panik.

"Respons kekebalan manusia di dunia nyata lebih dari sekadar netralisasi berbasis serum. Tentu kami lebih memilih netralisasi yang terjadi, tapi bukan berarti virus baru akan menginfeksi, membuat sakit, dan meyebar dari mereka yang sudah terinfeksi strain asli," katanya.

Sementara itu, penelitian lebih lanjut menunjukkan vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech memberikan perlindungan terhadap varian B117, yang telah menjadi penyebab meningkatkan kasus harian di London dan Inggris utara.

Ilmuwan menguji kemampuan antibodi yang diambil dari 16 peserta uji coba vaksin untuk menetralkan virus yang membawa protein lonjakan dari virus asli dan mutasi. Hasilnya, tidak ada perbedaan antara keduanya.

Jonathan Stoye, virologi di Francis Crick Institute mengatakan berita ini seharusnya tidak dianggap mengejutkan, tetapi sangat disambut baik. Dia mengatakan akan menjadi hal yang menarik untuk melakukan eksperimen yang sama dengan varian Afrika Selatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Vaksin Covid-19
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top