Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biosimilar EPO Infion Diklaim Ringankan Beban Biaya Pengobatan Pasien Gagal Ginjal

Daewoong Infion diklaim mampu mengurangi beban biaya pengobatan dengan menghadirkan produk EPO ke dalam program JKN. Dengan demikian, pasien yang kurang mampu akan tetap mendapatkan perawatan berkualitas tinggi.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  16:36 WIB
Biosimilar EPO Infion
Biosimilar EPO Infion

Bisnis.com, JAKARTA - Daewoong Infion, perusahaan farmasi yang memiliki pabrik produksi biosimilar pertama di Indonesia, telah memproduksi EPO yang merupakan pengobatan anemia untuk pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah dan untuk pasien kanker.

Daewoong Infion diklaim mampu mengurangi beban biaya pengobatan dengan menghadirkan produk EPO ke dalam program JKN. Dengan demikian, pasien yang kurang mampu akan tetap mendapatkan perawatan berkualitas tinggi.

Karena cakupan asuransi pengobatan penyakit ginjal kronis, sebagian besar pasien biasanya hanya mendapatkan perawatan EPO dua kali sebulan. Pasalnya, semua perawatan menggunakan obat impor yang mahal. Namun, melalui produksi langsung Daewoong Infion EPO di dalam negeri, penghematan harga obat asuransi dapat ditingkatkan dari 40% menjadi 60%.

“Kami berencana memimpin pengembangan dan menjadikan Indonesia sebagai kiblat biofarmasi dengan melakukan penelitian, mengeksplorasi biofarmasi baru melalui kerjasama terbuka dengan pemerintah dan perguruan tinggi Indonesia, dengan tetap menghormati agama dan budaya Indonesia dengan menyediakan produk EPO bersertifikasi halal sebagai obat yang diturunkan dari sel hewan pertama di dunia,” kata Chang- woo Suh, President Director, Daewoong Infion dalam keterangan tertulisnya.

Dia mengatakan dengan penyediaan EPO pada Program JKN akan meringankan beban keuangan pasien.
 
Apalagi, jumlah pasien penyakit ginjal kronik domestik meningkat hingga 1,9 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
 
Suh juga memaparkan industri biofarmasi saat ini perlu memperhatikan kebijakan Persyaratan Kandungan Lokal (LCR) yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan tersebut bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan baku obat impor yang mencapai 90-95% dan mendorong produksi bahan baku hingga produk obat jadi secara mandiri.
 
Dukungan aktif dari pemerintah Indonesia mampu mendorong pertumbuhan pasar biosimilar yang merupakan penggerak pertumbuhan utama di dalam industri perawatan kesehatan secara global. Menurut laporan McKinsey & Company, pasar biosimilar di Indonesia diperkirakan akan mengalami pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 10-15% pada tahun 2025 dan merupakan tingkat pertumbuhan terbesar di Asia Tenggara. Pasar biosimilar dalam negeri mampu bertumbuh dengan signifikan karena mampu menyediakan berbagai pilihan pengobatan kepada pasien yang pada akhirnya mengurangi biaya pengobatan.
 
Berdasarkan survei Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia mencapai 3,8 orang per satu juta penduduk. Angka ini meningkat dari 2,0 orang per juta penduduk pada tahun 2013, yang berarti 3.800 orang dari satu juta masyarakat Indonesia menderita penyakit ginjal kronik yang meningkat sekitar 1,9 kali lipat selama lima tahun.
Dengan meningkatnya jumlah pasien, biaya pengobatan menjadi masalah. Sekitar 60% pasien penyakit ginjal kronis membutuhkan cuci darah. Namun, biaya pengobatan untuk penyakit tersebut dapat mencapai Rp2,6 triliun dan merupakan biaya perawatan kesehatan tertinggi kedua dari semua penyakit di Indonesia setelah penyakit kardiovaskular.
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ginjal pengobatan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top