Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waspadai Bahaya Diet Ekstrem, Catat Cara Diet yang Benar

Salah satu metode diet yang rawan mendatangkan efek samping berbahaya adalah very low calory diet (VLCD)
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 15 Maret 2021  |  23:28 WIB
Diet - boldsky.com
Diet - boldsky.com

Bisnis.com, JAKARTA — Saat melakukan diet, beberapa orang sering kali tidak sabar menanti turunnya berat badan sehingga memilih untuk melakukan diet ekstrem. Apalagi jika diet tersebut direkomendasikan salah satu publik figur sehingga banyak yang mengikuti tanpa mengetahui risiko atau efek sampingnya.

Salah satu metode diet yang rawan mendatangkan efek samping berbahaya adalah very low calory diet (VLCD) yaitu diet dengan asupan kurang dari 800 kalori per hari, bahkan ada yang hanya 400-500 kalori per hari.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Dr. dr Samuel Oetoro, MS., SpGK(K) mengatakan bahwa diet ekstrem kurang dari 800 kalori sehari tidak boleh dilakukan sembarangan tanpa pengawasan ahli diet yang kompeten. Sebab ffeknya bisa berbahaya.

“Apalagi diet dengan hanya mengkonsumsi 300-400 kalori per hari yang harus membutuhkan makanan khusus atau makanan pengganti yang disebut meal replacement karena kebutuhan nutrisi pelaku diet ini tidak akan terpenuhi dari makanan biasa,” jelas Samuel dalam Instagram Live Good Doctor Bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI).

Jika dilakukan tanpa pengawasan ahli, dalam hal ini dokter spesialis gizi klinik, diet sangat rendah kalori bisa mendatangkan komplikasi. Beberapa jenis komplikasinya antara lain kekurangan vitamin, mineral dan kekurangan elektrolit.

“Saat ini berkonsultasi dengan dokter sangatlah mudah di era digital ini, hanya dalam 1 klik terhubung dengan aplikasi kesehatan seperti aplikasi Good Doctor dimana tanya jawab dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik dapat diakses dengan mudah. Klarifikasikan langsung kepada dokter untuk mendapatkan informasi tepat ketimbang mendengar atau membaca sesuatu yang ‘trending’ namun tidak benar,” ujarnya.

Memang, sambungnya, untuk mengatasi kegemukan atau kelebihan berat badan bisa diatasi dengan mengurangi asupan kalori setiap hari. Rata-rata orang normal membutuhkan asupan kalori sekitar 1800-2000 per hari.

Namun, untuk orang yang melakukan diet dianjurkan mengurangi asupan kalori sekitar 500-1000 per hari. Artinya, setiap hari hanya mengkonsumsi sekitar 1000-1500 kalori saja.

Pola diet seperti ini memang tidak bisa secara drastis mengurangi berat badan. Penurunan akan terjadi secara bertahap. Penurunan berat badan yang ideal adalah cukup turun 5-10 persen dari berat badan awal selama 6 bulan sampai satu tahun.

“Dengan penurunan sebesar itu, sudah mampu memperbaiki profil kesehatan secara umum dan menurunkan risiko berbagai penyakit,” tuturnya.

Salah Kaprah Serat dan Sayuran

Selain metode diet yang tepat, masyarakat juga perlu memperhatikan kandungan gizi dalam menu dietnya. Akhir-akhir ini marak terjadi salah persepsi tentang sayur dan serat, yang menurut Tya Ariestya di bukunya, menghambat penurunan berat badan.

Arti Indira, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik (PDGKI) menegaskan bahwa pernyataan tersebut sangat tidak benar. Serat yang terkandung dalam sayur dan buah adalah salah satu zat gizi yang harus dikonsumsi pelaku diet.

“Diet menurunkan berat badan yang benar itu harus mengonsumsi makanan yang mengandung zat gizi lengkap: ada karbohidrat, protein, lemak, dan banyak makan buah dan sayur. Sayur tidak akan menghambat penurunan berat badan atau menyebabkan kegemukan,” jelasnya.

Seluruh zat gizi tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk metabolisme dan mempertahankan fungsi seluruh organ tubuh agar tetap sehat dan optimal. Tidak bisa ada salah satu zat gizi tersebut dihilangkan.

Oleh karena itulah, sambungnya, agar program penurunan berat badan berhasil, masyarakat harus lebih bijak menyaring informasi tentang diet yang beredar karena salah memilih program diet bisa fatal.

Dokter Spesialis Gizi Feni Nugraha menyarankan masyarakat untuk bertanya langsung ke dokter. Sebab semua dokter, pasti memiliki pengetahuan yang benar tentang diet penurunan berat badan.

“Melakukan diet tanpa pengawasan dokter boleh saja, namun bukan jenis diet ekstrem. Jika ingin melakukan diet sendiri, jangan melakukan diet ekstrem,” jelasnya.

Jika ingin melakukan diet khusus, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi. Diet khusus yang dimaksud, menurut dr. Fani adalah diet untuk penurunan berat badan dengan cepat dan diet pada orang dengan penyakit tertentu.

Sementara itu, Adhiatma Gunawan, Head of Medical Management Good Doctor mengatakan, masyarakat bisa mendapatkan informasi tentang diet sehat menurunkan berat badan, melalui aplikasi layanan kesehatan terpadu Good Doctor, dengan berkonsultasi langsung ke Dokter Spesialis Gizi Klinik tanpa harus mengunjungi klinik atau rumah sakit.

“Cara ini jauh lebih mudah dan aman di tengah pandemi Covid-19. Layanan kesehatan telemedis seperti aplikasi kami bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi kesehatan, termasuk informasi untuk diet menurunkan berat badan. Dalam aplikasi Good Doctor, pengguna dapat mendapatkan akses tanya jawab kepada ribuan mitra dokter, termasuk Dokter Spesialis Gizi Klinik dengan aman dan nyaman,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan gizi tips sehat diet
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top