Ilustrasi ketakutan. Kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri adalah pedang bermata dua. /Istimewa
Fashion

Isolasi Diri Setahun, Kembali ke Masa Sebelum Pandemi Terasa Menakutkan

Janlika Putri Indah Sari
Kamis, 1 April 2021 - 18:00
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Selama setahun terakhir, mengisolasi di rumah telah menjadi kebiasaan baru bagi semua orang. Para ahli mengatakan saat nanti kembali bersosialisasi dapat menyebabkan kecemasan bagi banyak orang. Mengambil pendekatan bertahap akan membantu kebanyakan orang untuk kembali bersosialisasi.

Dengan jumlah masyarakat yang telah divaksinasi Covid-19 terus meningkat, gagasan untuk kembali ke keadaan normal akan semakin dekat. Namun jika kembali ke beberapa aktivitas kehidupan sebelum pandemi terasa menakutkan, Anda tidak sendirian.

Selama setahun terakhir, semua orang terus beradaptasi dengan realitas baru. Dimana semenjak pandemi ini hidup di masa tidak pasti dan ketakutan terhadap dampak virus mematikan bagi kesehatan sendiri dan orang terkasih.

Di situasi ini terpaksa secara fisik jauh dari keluarga dan teman, banyak orang menghabiskan tahun lalu di rumah, dengan panggilan video menjadi cara utama bersosialisasi.

Melansir dari healthline, psikolog di NYU Langone Health, Paraskevi Noulas mengatakan bila manusia adalah makhluk kebiasaan, maka dari itu situasi ini sudah dianggap biasa karena dilakukan setiap hari.

"Awalnya menyesuaikan diri dengan isolasi di rumah sangat menantang. Akan tetapi sekarang setelah setahun kemudian, kita sudah terbiasa dengan keadaan normal baru,” ujarnya

Menurutnya, kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri adalah pedang bermata dua, karena sekarang setelah kita terbiasa mengisolasi begitu banyak, ini akan menjadi transisi lain untuk terlibat dengan orang lain secara sosial. Baik itu secara langsung di dalam ruangan atau di luar.

Para ahli mengatakan bahwa wajar untuk merasa cemas dan memiliki tingkat disfungsi sosial setelah melewati satu tahun pandemi global ini.

Noulas mencatat bahwa kita semua berada pada spektrum dari introversi hingga ekstroversi. Sementara orang-orang di sisi introvert mungkin lebih mudah menghadapi pandemi dengan cara tertentu, ekstrovert juga berjuang.

Dampak emosional pandemi terhadap hubungan sosial para ekstrovert kemungkinan besar lebih signifikan, katanya. Namun, mereka juga menemukan cara untuk menggantikan sosialisasi secara virtual sehingga bisa bertoleransi selama setahun terakhir.

Noulas mengatakan metode terbaik yang digunakan terapis untuk mengobati orang dengan kecemasan adalah terapi eksposur.

“Semakin kita mengekspos diri kita pada suatu situasi, semakin banyak pikiran dan tubuh kita menyesuaikan diri dengannya. Kami melakukan ini dengan cara yang aman, secara bertahap, dengan dukungan jika diperlukan dari orang lain, dan kami menggunakan teknik pernapasan dalam dan relaksasi untuk membantu orang-orang berhasil menyelesaikan setiap eksposur," paparnya

Noulas juga merekomendasikan untuk melakukannya dengan perlahan. Kemudian orang dengan kecemasan sosial, kecemasan umum, agorafobia, dan riwayat trauma mungkin memerlukan bantuan ekstra.

“Bagi mereka dengan kondisi klinis yang memengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi dalam masyarakat. Transisi kembali ke dunia nyata akan menjadi tantangan dan kami sangat menyarankan mereka mencari bantuan profesional untuk membantu proses tersebut,” tutup Noulas. .

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro