Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Takut ke RS Saat Pandemi Covid-19? Jangan Asal Minum Obat Ya

Masyarakat tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan untuk penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  12:28 WIB
Ilustrasi - Bisnis/ nurul hidayat
Ilustrasi - Bisnis/ nurul hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Masa pandemi Covid-19 menimbulkan efek psikologi di masyarakat. Salah satunya, masyarakat menjadi takut memeriksakan dirinya ke dokter di Rumah Sakit.

Mereka akhirnya memilih mencari obat sendiri untuk mengatasi keluhan yang dialaminya. 

Hal itu tentu saja bukan cara yang baik dan sangat tidak dianjurkan.

Terkait hal itu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengajak masyarakat bijak mengonsumsi obat di masa pandemi Covid-19.

"Salah satu dampak pandemi buat masyarakat mereka takut datang ke rumah sakit, akibatnya mereka yang punya sakit kronis misal gangguan lambung akan mengobati dirinya sendiri. Gangguan lambung berhubungan erat dengan masalah stress," kata dokter spesialis penyakit dalam itu dalam keterangan tertulis, diterima Antara di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Menurut akademisi dan praktisi klinik itu pandemi Covid-19 membuat sebagian orang merasa takut berobat ke dokter atau rumah sakit. Mereka memilih bertahan untuk menahan sakitnya atau mengobati dirinya sendiri.

Padahal, lanjut Ari, saat ini ada telemedis atau pelayanan medis jarak-jauh. Selain itu, tambahnya, sebenarnya juga aman untuk berobat ke rumah sakit bertemu langsung dengan dokter karena rumah sakit telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

Protokol kesehatan itu di antaranya pembatasan jumlah pasien yang berobat sehingga tidak menumpuk dalam satu tempat, dan pemeriksaan suhu sebelum masuk ke gedung poliklinik.

"Masyarakat harus bijaksana dalam mengonsumsi obat apalagi jika obat akan dikonsumsi dalam jangka panjang," ujar Ari.

Oleh karena itu, ujarnya, masyarakat tetap harus berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan untuk penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.

Ari menuturkan memang untuk kasus-kasus sakit lambung, jika kebetulan sedang kambuh, penggunaan obat penekan asam lambung misal obat penghambat pompa proton bisa mengurangi keluhan bahkan menghilangkan keluhan.

Masalahnya, pasien kadang kala mengonsumsi obat itu secara terus menerus tanpa aturan dari dokter.

Sementara obat penghambat pompa proton itu akan menekan sel parietal di lambung untuk memproduksi asam lambung.

Jika proses penekanan terjadi secara jangka panjang akan menyebabkan terjadinya perubahan fisiologi berupa peningkatan hormon gastrin dan kromogranin A. Perubahan hormonal ini akan merangsang terjadinya proliferasi dari fundic gland.

Dalam tiga minggu berturut-turut, Ari menemukan kasus polip lambung dan hasil pemeriksaan biopsi menunjukkan suatu Fundic Gastric Polyps.

Semua polip yang terdeteksi diambil (polipektomi) melalui endoskopi.

Indikasi pasien itu dilakukan endoskopi karena mengalami sakit maag yang bolak balik kambuh dan tetap mengonsumsi obat penekan produksi asam lambung.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asam lambung Covid-19

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top