Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Simak! Ini Kaitannya Antara Migrain dan Menopause 

Sebagian besar studi menunjukkan bahwa sakit kepala migrain cenderung membaik setelah menopause.
Meuthia Novianthree Nafasya
Meuthia Novianthree Nafasya - Bisnis.com 03 Agustus 2021  |  15:44 WIB
Ilustrasi - Idiva
Ilustrasi - Idiva

Bisnis.com, JAKARTA - Migrain merupakan jenis sakit kepala luar biasa yang mungkin juga dapat menyebabkan gejala lain seperti mual dan sensitivitas cahaya. Hal tersebut dapat membaik dan juga memburuk selama menopause. 

Migrain lebih sering terjadi pada orang yang menstruasi pada usia reproduksi, tetapi mungkin lebih buruk pada pre-menopause. 

Hubungan potensial antara migrain dan menopause adalah bahwa sakit kepala dapat membaik setelah menopause. Namun, bisa juga sebaliknya akan menjadi lebih buruk.

Sakit kepala migrain lebih umum dialami pada orang di usia subur. Bagi sebagian orang yang menderita migrain, hari-hari sebelum dan selama satu periode merupakan pemicu migrain yang signifikan. 

Melansir dari Medicalnewstoday, dalam jurnal Therapeutic Andances in Neurological Disorders menyebutkan adanya peningkatan sebesar 71 persen risiko migrain dalam 2 hari menjelang menstruasi. 

Selama siklus menstruasi, kadar estrogen menurun tepat sebelum menstruasi. Penarikan estrogen ini dapat memicu migrain tanpa aura. Aura merupakan sekelompok gejala seperti lampu berkedip yang terkadang muncul sebelum migrain. 

Sebagian besar studi menunjukkan bahwa sakit kepala migrain cenderung membaik setelah menopause. Hal ini dimungkinkan karena seseorang tidak lagi mengalami perubahan hormon yang pernah memicu rasa sakit kepala. 

Tidak ada yang dapat memprediksi bagaimana menopause akan memengaruhi pola migrain seseorang. Perubahan pola migrain menjelang menopause dapat terjadi karena perubahan kadar hormon. 

Sebuah studi di tahun 2016 membandingkan tingkat sakit kepala premenopause, perimenopause, dan pasca-menopause diantara orang-orang yang mengalami migrain. 

Para peneliti menemukan hasil bahwa pada premenopause memiliki 8 persen tingkat sakit kepala yang tinggi. Kemudian, saat perimenopause memiliki 12,2 persen tingkat sakit kepala tinggi. Selanjutnya, pada pascamenopause memiliki 12 persen memiliki tingkat sakit kepala tinggi.  

Apa itu Menopause?

Menopause menandai akhir dari kemampuan seseorang untuk hamil. Dokter mendefinisikannya sebagai periode 12 bulan tanpa siklus menstruasi. 

Usia rata-rata menopause adalah 51 tahun, tetapi mungkin juga dimulai pada usia 40 tahun atau paling lambat pada usia 60-an. Bagi beberapa orang, menopause dini pada usia 20-an atau 30-an dapat menyebabkan kemandulan. 

Pre-menopause merupakan waktu menjelang menopause. Selama waktu ini, menstruasi seseorang mungkin menjadi lebih tidak teratur. Mereka juga mungkin akan mengalami berbagai gejala seperti hot flashes, palpitasi jantung, kering pada vagina, perubahan suasana hati, depresi, penambahan berat badan, peningkatan tekanan darah, dan lain sebagainya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lansia migran tips sehat
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top