Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kunci Penting Atasi Permasalahan Stunting di Indonesia

Pemerintah memiliki salah satunya program 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan. Selain itu, ada pula inisiatif terbaru yang diluncurkan yaitu Dapur Sehat (Dashat): Atasi Stunting di Kampung Keluarga Berkualitas.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 26 Agustus 2021  |  17:50 WIB
Stunting - istimewa
Stunting - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya, Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis.

Dan kasus stunting di Indonesia saat ini masih cukup tinggi. 

Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Data Bank Dunia atau World Bank mengatakan angkatan kerja yang pada masa bayinya mengalami stunting mencapai 54%. Artinya, sebanyak 54% angkatan kerja saat ini adalah penyintas stunting. Hal inilah yang membuat stunting menjadi perhatian serius pemerintah.

Awal tahun 2021, Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024.

Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Dwi Listyawardani mengungkapkan, kolaborasi pemerintah dan pihak terkait, khususnya swasta, perguruan tinggi dan para ahli, jadi kunci guna memastikan generasi masa depan mendapatkan nutrisi yang baik. Sehingga masalah gizi buruk hingga stunting dapat diminimalisir.

Dia menjelaskan, meskipun pemerintah telah memiliki banyak program khusus terkait hal tersebut. Masih banyak keterbatasan yang dialami untuk bisa dilakukan secara maksimal, salah satunya terkait pendanaan.

"Kami sama-sama memahami masalah stunting ini tidak bisa diselesaikan oleh Pemerintah saja. Kami terbuka untuk bermitra dengan berbagai pihak, seperti Danone Indonesia yang sudah melakukan bantuan dan intervensi," ujar Dwi dalam webinar Katadata SAFE 2021 bertajuk Nutrition for Next Generation, dilansir dari keterangan tertulis.

Untuk menggenjot kolaborasi itu, kata Dwi, pemerintah memiliki salah satunya program 1.000 mitra untuk 1.000 hari pertama kehidupan. Selain itu, ada pula inisiatif terbaru yang diluncurkan yaitu Dapur Sehat (Dashat): Atasi Stunting di Kampung Keluarga Berkualitas.

"Kami mengarahkan masyarakat gotong-royong menyediakan nutrisi bagi mereka yang membutuhkan. Kepedulian mulai level kecil hingga tingkat desa, RT/RW," tambahnya.

Dalam sejumlah program tersebut Dwi menegaskan, para mitra bisa langsung berpartisipasi di lapangan. Sehingga pelaksanaannya lebih tepat sasaran dan terpantau dengan baik.

Vice President General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto mengungkapkan hal senada. Kolaborasi itu penting dilakukan, agar lebih terarah dan tepat sasaran dalam upaya mendorong peningkatan nutrisi bagi generasi masa depan.

"Kebutuhan kolaborasi antar wilayah berbeda, itu harus kita mapping. Kalau pun ada kerja sama dan kolaborasi itu menyasar sesuai kepentingan lokalnya," tambahnya.

Lebih lanjut Vera membeberkan, saat ini ada gerakan yang sedang dilakukan Danone Indonesia untuk meningkatkan nutrisi untuk wujudkan generasi maju melalui gerakan sosial 'Ayo Tunjuk Tangan' untuk mendukung Anak Indonesia dalam pemenuhan nutrisi dan pendidikan.

Selain itu, Danone Indonesia juga mempunyai program Bersama Cegah Stunting. Program ini hadir untuk membawa berbagai program dalam upaya pencegahan stunting. Beberapa diantaranya termasuk edukasi gizi dan pola hidup sehat bagi anak usia PAUD, SD, remaja, dan keluarga, edukasi kantin sehat, bantuan akses bersih serta edukasi publik dan media massa.

Selain kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasi gizi buruk hingga stunting tersebut, Head of Department of Nutrition faculty of Medicine Universitas Indonesia Nurul Ratna Mutu Manikam menegaskan pentingnya peran ibu dan ayah dalam hal ini.

"ibu dan suami harus dukung nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Jadi ibu hamil harus komitmen untuk mengonsumsi makanan bernutrisi," tegasnya.

Perhatian untuk mencegah gizi buruk harus sudah ditekankan dari masa. Sehingga masalah tersebut bisa diantisipasi sejak dini.

"Kalau bicara stunting harus diperhatikan sejak kehamilan. Kemudian sejak anak ini lahir penuhi ASI sampai 6 bulan
dan dilanjutkan dengan MPASI yang memenuhi nutrisi. Konsistensi makanannya juga harus sesuai usia," tambahnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak stunting
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top