Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tekan Jumlah Perokok Indonesia, Produk HPTL Bisa Jadi Solusi?

Produk hasil pengolahan tembakau lainnya atau HPTL dinilai bisa menekan jumlah perokok di Indonesia.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 18 September 2021  |  16:16 WIB
Ilustrasi Perokok.  - Imt.ie
Ilustrasi Perokok. - Imt.ie

Bisnis.com, JAKARTA - Produk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) dinilai perlu dipertimbangkan untuk menjadi solusi alternatif menekan jumlah perokok di Tanah Air. Saat ini, tingkat prevalensi merokok di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tikki Pangestu mengatakan angka perokok di Indonesia telah mencapai 65 juta jiwa. Hal ini mengkhawatirkan, mengingat merokok terkait erat dengan risiko sejumlah penyakit.

“Semua penyakit tidak menular berkaitan dengan rokok, seperti jantung dan lain-lain. Ini beban besar bagi kesehatan kita,” katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/9/2021).

Dengan dampaknya yang besar terhadap kesehatan masyarakat, Tikki merekomendasikan solusi alternatif untuk berhenti merokok dalam bentuk penggunaan produk HPTL. Produk HPTL itu misalnya rokok elektrik maupun produk tembakau yang dipanaskan, karena telah mengadopsi konsep pengurangan risiko.

Menurutnya, penggunaan produk-produk tersebut tidak melalui proses pembakaran seperti rokok, sehingga meminimalisasi risiko terhadap kesehatan. Tikki memaparkan sedikitnya terdapat tiga alasan HPTL bisa dipertimbangkan sebagai alternatif.

“Pertama, produk ini punya risiko jauh lebih rendah dari rokok. Kedua, produk ini lebih efektif dari nicotine replacement therapy, seperti plester maupun permen karet, untuk mereka yang mau berhenti merokok. Inggris juga sudah menyatakan bahwa produk ini 95 persen lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok,” ucapnya.

Ketiga, Lanjut Tikki, negara-negara yang telah mendorong penggunaan produk HPTL seperti Inggris dan Jepang sukses menurunkan angka perokoknya. Di Inggris, 20.000 orang berhenti merokok setiap tahunnya.

Di negara lain sepreti Jepang, katanya, selain menurunnya angka perokok, penjualan rokok juga mengalami penurunan hingga 32 persen semenjak produk HPTL mulai diizinkan beredar di negara tersebut.

“Ini hasil survei sangat signifikan. Jumlah perokok turun,” ungkap Tikki.

Mengacu data Badan Statistik Inggris, angka perokok mengalami penurunan dari 14,4 persen pada 2018 menjadi 14,1 persen atau setara dengan 6,9 juta perokok pada 2019.

Adapun berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesehatan Jepang, angka perokok laki-laki turun di bawah 30 persen untuk pertama kalinya menjadi 28,8 persen pada 2019. Sementara angka perokok perempuan turut berkurang 0,7 poin menjadi 8,8 persen pada 2019.

Tikki berpendapat agar produk HPTL efektif dalam menurunkan prevalensi merokok di Indonesia maka perlu adanya kampanye edukasi mengenai produk ini dan potensinya bagi perokok dewasa yang ingin berhenti merokok.

Selanjutnya, perokok dewasa harus diberikan kemudahan dalam mengakses produk ini salah satunya dengan pemberlakuan tarif cukai yang proporsional sesuai dengan profil risikonya. Yang terakhir dan tak kalah penting adalah diperlukan pembatasan akses bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun terhadap produk ini.

“Kita harus melihat ini sebagai pelengkap intervensi untuk mengatasi epidemi merokok. Keberhasilan ini tergantung pada kebijakan yang rasional serta efektif dan juga memerlukan kemauan, kemampuan, dan keberanian politik,” imbuhnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok merokok
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top