Ilustrasi demesia/usdoj.gov
Health

Gangguan Pendengaran Jadi Salah Satu Faktor Risiko Demensia, Studi Menemukan   

Ni Luh Anggela
Senin, 15 November 2021 - 15:32
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA –Demensia adalah istilah umum untuk berbagai penyakit yang menyebabkan perubahan pada otak. Saat ini, 50 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050.
 
Salah satu cara memangkas risiko tersebut adalah dengan bersikap proaktif tentang masalah tersebut dan mengetahui faktor penyebabnya.
 
Gangguan pendengaran adalah salah satu faktor risiko tersebut, menurut penelitian terbaru yang dipimpin oleh ahli Johns Hopkins Medicine Frank Lin. Lin mengatakan, timnya menemukan bahwa gangguan pendengaran ringan  melipatgandakan risiko demensia, gangguan sedang meningkatkan risiko tiga kali lipat, dan gangguan parah meningkatkan kemungkinan seseorang terkena demensia lima kali lipat.
 
Temuan ini ditemukan setelah melacak 639 orang dewasa selama hampir 12 tahun, seperti dilansir dari Best Life, Senin (15/11/2021).
 
Para peneliti sebetulnya telah lama menyadari korelasi positif antara gangguan pendengaran dan demensia, tetapi baru sekarang mereka mulai memahami hubungan sebab akibat antara kedua kondisi tersebut.
 
Satu meta-analisis, yang meninjau 17 studi tentang hubungan antara gangguan pendengaran dan demensia, mengusulkan tiga kemungkinan alasan mengapa gangguan pendengaran berkontribusi pada peningkatan risiko demensia.
 
Tim menjelaskan, gangguan pendengaran meningkatkan beban kognitif, mengalihkan sumber daya kognitif ke pemrosesan pendengaran dengan mengorbankan proses kognitif lain seperti memori kerja.
 
Mereka juga berhipotesis bahwa mereka yang terisolir secara sosial atau masalah medis mendasar yang menyebabkan  gangguan pendengaran dan demensia bisa menjadi  penyebabnya.
 
“Mungkin juga mekanisme yang diusulkan ini tidak saling eksklusif, dan penurunan dalam satu jalur dapat memengaruhi yang lain.” tim menjelaskan.
 
Gangguan pendengaran dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk kecenderungan genetik, paparan suara keras, efek samping pengobatan, cedera, atau infeksi, kata para ahli Johns Hopkins. Sangat penting untuk memberi tahu dokter Anda segera setelah Anda melihat masalah sehingga mereka dapat menilai penyebab yang mendasarinya.
 
Selain tidak dapat mendengar suara keras, Anda mungkin juga mengalami kesulitan mendengar percakapan di lingkungan yang bising, serta suara bernada tinggi, seperti suara anak-anak. Jika Anda merasa lebih jarang mendengar jenis suara ini atau jika Anda mengalami telinga berdenging (gejala tinnitus) mungkin inilah saatnya untuk berkonsultasi dengan audiolog.
 

Penulis : Ni Luh Anggela
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro