Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gerakan "Save Soil", Cintai Bumi Kita Cintai Indonesia

Gerakan Save Soil merupakan suatu gerakan global bertujuan untuk meningkatkan kesadaran penduduk dunia mengenai pentingnya upaya menyelamatkan tanah dan bumi dari kepunahan.
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 24 April 2022  |  19:03 WIB
Ilustrasi anak muda merayakan Hari Bumi - Freepik
Ilustrasi anak muda merayakan Hari Bumi - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Gerakan Save Soil merupakan suatu gerakan global yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran penduduk dunia mengenai pentingnya upaya menyelamatkan tanah dan bumi dari kepunahan. Sadhguru, seorang yugi dan mistikus asal India, merupakan pencetus pertama dari gerakan tersebut.

Gerakan Save Soil sendiri merupakan buah pikiran Sadhguru untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap masalah bencana alam yang terus dihadapi oleh masyarakat dan menyerukan perubahan kebijakan menuju suatu tindakan korektif.

Gerakan tersebut juga mulai digiatkan oleh beberapa aktivis lingkungan, influencer, hingga publik figur di Indonesia. Untuk merayakan Hari Bumi pada 22 April 2022, Save Soil yang berkerjasama dengan Marriott Worldwide Business Councils di Indonesia, telah menggelar  sebuah kegiatan kepedulian lingkungan yang bertajuk ‘Homage to Indonesian Soil’ pada Sabtu 23 April 2022 di Jakarta dan Bali.

Sejumlah narasumber tampak hadir pada agenda tersebut, meliputi aktivis lingkungan, arsitek, peneliti, dan publik figur. Di dalamnya terdapat pembicaraan mengenai pentingnya upaya masyarakat untuk dapat menyelamatkan bumi dan tanah mereka.

Save Soil Ambassador Raline Shah menyebutkan bahwa gerakan Save Soil tentunya menjadi salah satu hal yang bersifat sangat positif. Raline juga sepakat bahwa isu mengenai ekologi dan bumi merupakan suatu hal yang penting untuk dapat masyarakat pikirkan bersama-sama.

“Jadi bagaimana kita rakyat Indonesia bisa mendorong atau use our bargaining power untuk dapat menyuarakan kekhawatiran kita kepada pemerintah agar dapat berupaya membuat kebijakan yang baru mengenai langkah penyelamatan bumi ini,” ujar Raline di Sthala Ubud, Bali, Sabtu (23/4/22).

Menurutnya, kebijakan tersebut tidaklah hanya mementingkan satu sisi ekonomi yang dianggap menguntungkan, namun juga harus bersifat berkepanjangan.

Nico Wanandy, peneliti dari University of New South Wales Sydney juga tampak hadir pada kegiatan ini. Nico menambahkan upaya penyelamatan tanah juga dapat dilakukan dalam skala rumahan yaitu dengan membuat kompos berbahan dasar limbah organik.

“Secara teknis, segala upaya yang kita lakukan akan sangat membantu. Mulai dari keadaan di lapangan hingga sisi pembangunan lingkungan, semuanya sangat bisa disinkronasikan,” ujar Nico di JW Marriott, Jakarta, Sabtu (23/4/22).

Selain itu, menurut Made Janur Yasa, seorang aktivis lingkungan, upaya penyelamatan tanah dan bumi juga dapat dimulai dari pemisahan sampah organik dan nonorganik rumahan yang selanjutnya dapat ditukarkan melalui Bank Sampah.

“Kita masing-masing rumah mengawasi dan mengamankan sampah rumah sendiri. Pilih dan pisahkan mana sampah plastik (anorganik) dan organik. Jual ke Bank Sampah sehingga menjadi bernilai,” ucap Made, Sabtu (23/4/22).

Save Soil juga terus mengajak masyarakat untuk ikut mendukung gerakan tersebut dengan cara bergabung menjadi Sahabat Bumi yang bisa diakses melalui https://save-soil.co/id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lingkungan hidup pencemaran lingkungan
Editor : Dwi Nicken Tari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top