Ilustrasi seseorang yang tidak bahagia/Freepik.com
Health

Apa Itu Anhedonia: Penyebab, Gejala dan Cara Mengatasinya

Arlina Laras
Senin, 26 Desember 2022 - 15:37
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Anhedonia termasuk ke dalam masalah psikis, di mana terjadi penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan. 

Anhedonia membuat hidup pengidapnya terasa hampa, tidak nyaman, dan membosankan. Anhedonia adalah kondisi di mana pengidapnya kehilangan minat terhadap kegiatan yang dahulu menyenangkan atau disukainya.

Melansir dari WebMD, anhedonia bisa menjadi gejala umum depresi serta gangguan kesehatan mental lainnya. 

Bahkan, beberapa ilmuwan percaya bahwa konsep anhedonia tidak dapat ditentukan secara tegas hitam dan putih. Dengan kata lain, mungkin saja Anda masih suka makan es krim cokelat atau mendengarkan musik jazz; Anda hanya tidak menyukai hal-hal itu seperti dulu karena alasan yang tidak dapat Anda jelaskan.

Sehingga, anhedonia bisa menjadi gejala dari gangguan depresi mayor, tetapi tidak semua orang yang mengalami anhedonia memiliki masalah kesehatan mental yang terdiagnosis.

Lantas, apa itu sebenarnya anhedonia? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Dilansir dari WebMD, terdapat 2 tipe anhedonia, yaitu:

1. Anhedonia sosial

Anhedonia jenis ini membuat penderita tidak ingin menghabiskan waktu untuk bertemu dan bersosialisasi dengan orang lain.

2. Anhedonia fisik

Penderita anhedonia jenis ini tidak mampu menikmati maupun merasa senang akan sensasi fisik seperti pelukan, rasa makanan, hingga seks. Makanan akan terasa hambar, dan gairah seks yang hilang.

Gejala Anhedonia

Sementara itu, mengutip dari Healthline, gejala anhedonia dapat berbeda tergantung dari jenisnya. Namun, secara umum berikut ini gejala yang bisa muncul, seperti:

1. Menarik diri dari lingkungan sosial

2. Berkurangnya kesenangan dari aktivitas sehari-hari

3. Berkurangnya ketertarikan pada hobi atau hal-hal yang disenangi sebelumnya

4. Hilangnya libido atau minat dalam seks dan keintiman fisik

5. Lebih suka untuk menyendiri

Beberapa contoh bagaimana rasanya mengalami anhedonia:

1. Anda dulu suka bermain di liga sepak bola di malam hari tetapi sekarang tidak lagi memiliki keinginan untuk bermain game atau berinteraksi dengan siapa pun dari tim Anda.

2. Memasak dulu adalah hobi favorit Anda, tetapi sekarang Anda tidak tertarik lagi dan terkadang harus mengingatkan diri sendiri untuk makan.

3. Anda tidak lagi bersemangat untuk pergi keluar dengan teman-teman.

4. Kegiatan yang dulunya membuat Anda bahagia, seperti menonton live music, tidak lagi memberikan perasaan positif.

Sehingga, sebaiknya lakukan konsultasi pada tenaga kesehatan mental untuk memastikan penyebab dan cara mengatasi gejala yang tepat. Penting untuk tidak mendiagnosis diri sendiri. Jika Anda yakin sedang menghadapi anhedonia, bicarakan dengan dokter atau ahli kesehatan mental sesegera mungkin.

Penyebab Anhedonia

Anhedonia erat kaitannya dengan depresi, tapi seseorang juga bisa mengalami anhedonia meski dia tidak sedang depresi ataupun merasa sedih. Adapun, beberapa penyakit mental lainnya juga bisa mempengaruhi anhedonia, seperti skizofrenia dan gangguan bipolar. 

Bahkan, orang-orang dengan masalah kesehatan yang tampaknya tidak terkait seperti penyakit Parkinson, diabetes, penyakit arteri koroner, dan masalah penyalahgunaan zat bisa juga mengalami anhedonia.

Di samping itu, adapula pakar yang berpendapat bahwa anhedonia mungkin terkait dengan perubahan aktivitas otak. Pengidapnya mungkin memiliki masalah dengan cara otak memproduksi atau merespons dopamin, zat kimia suasana hati yang "membuat perasaan senang". 

Beberapa penelitian awal (pada tikus) menunjukkan bahwa neuron dopamin di area otak (korteks prefrontal) mungkin terlalu aktif pada orang dengan anhedonia. Nah, entah bagaimana kondisi mengganggu jalur yang mengontrol cara kita mencari “reward” dan merasakannya.

Selain hal-hal di atas, ada pula beberapa kondisi yang diduga dapat memicu terjadi anhedonia, seperti mengalami peristiwa traumatis atau stres baru-baru ini, riwayat pelecehan atau pengabaian, penyakit yang memengaruhi kualitas hidup, penyakit berat, hingga gangguan makan.

Pengobatan Anhedonia

Anhedonia mungkin akan cukup sulit untuk diobati. Dalam banyak kasus, pengobatan dan perawatan dimulai dengan cara mengelola masalah kesehatan mental yang mungkin menjadi penyebab, seperti depresi.

Sejauh ini, para ilmuwan sedang mengerjakan perawatan baru untuk orang dengan anhedonia yang tidak membaik dengan perawatan seperti terapi bicara. Adapun, salah satu yang menjanjikan adalah ketamine, obat yang terkenal sebagai obat pesta yang juga memiliki efek antidepresan. 

Meski masih harus memerlukan lebih banyak penelitian, tetapi setidaknya satu penelitian menemukan bahwa orang dengan depresi bipolar yang menderita anhedonia mendapatkan kelegaan dari gejala ini dalam waktu 40 menit setelah suntikan ketamin.

Selain dengan obat-obatan, anhedonia juga bisa ditangani dengan psikoterapi dan konseling. Biasanya dokter akan memberikan obat-obatan beserta psikoterapi untuk mengatasi gejala anhedonia.

Dengan psikoterapi, pasien akan dibimbing untuk dapat berpikir positif dan mencari cara yang aman dan tepat guna mengatasi gejala yang dirasakannya. Melalui psikoterapi, dokter juga bisa menyarankan pasien untuk mencari support system.

Pastikan juga untuk selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, mengelola stres, mencukupi waktu istirahat, dan tetap berpikir positif, tapi hindari toxic positivity,serta jika hal itu tidak dapat diatasi segera ke pusat pelayanan Kesehatan terdekat agar bisa dicarikan solusi terbaik dari sisi Kesehatan dan kejiwaannya.

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro