DESAINER LOKAL: Idealisme vs Bisnis

Perhelatan Jakarta Fashion Week dan Islamic Fashion Fair 2013 beberapa waktu lalu telah sukses mengangkat desainer dan industri mode Indonesia dalam sorotan dunia. Seluruh pakaian yang dipamerkan terlihat elok dengan desain yang tidak biasa.
Rahayuningsih | 16 Juni 2013 07:35 WIB

Perhelatan Jakarta Fashion Week dan Islamic Fashion Fair 2013 beberapa waktu lalu telah sukses mengangkat desainer dan industri mode Indonesia dalam sorotan dunia. Seluruh pakaian yang dipamerkan terlihat elok dengan desain yang tidak biasa.

Ajang adu kreatif para desainer itu, kerap dijadikan acuan bagi fashionista yang doyan bereksperimen. Meskipun mampu membuat penonton berdecak kagum dengan hasil rancangan tersebut, sayangnya busana-busana yang dipamerkan hanya ’laku’ untuk segelintir orang.

Alasannya, harga yang dipatok untuk busana terlalu mahal, atau desain yang ditampilkan nyeleneh dan tidak cocok untuk konsumen kebanyakan.

Wakil Presiden Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita mengatakan desainer-desainer lokal kerap menghasilkan karya yang tidak sesuai dengan selera pasar.

Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal itu menyebut beberapa nama desainer tenar yang namanya melambung berkat kemewahan karyanya dan terkesan formal. Namun, karya-karya mereka tidak bisa diterima pasar secara massal karena pasar cenderung suka gaya busana kombinasi antara casual dan formal.

”Indonesia sangat kreatif di bidang fesyen, tetapi saya lihat desainer-desainer lokal kadangkala lebih ke arah satu produk bagus yang ternyata tidak diterima pasar,” tutur Suryadi.

Seharusnya, para desainer lokal memikirkan bisnis sembari berkarya. Artinya, desainer mesti pandai-pandai membaca selera pasar. Untuk pasar
menengah saat ini saja, mereka menginginkan busana yang berkualitas, ikut tren mode, dan berharga jual terjangkau.

”Kalau harga tidak terjangkau habislah dimakan produk luar negeri.” Produk busana luar negeri yang masuk ke Indonesia kebanyakan bergaya casual dan basic. Sebagian besar pasar Indonesia menyukai busana basik yang dapat dipadupadankan dengan busana lain.

Suryadi menyayangkan kondisi yang saat ini terjadi, yakni ketika produk luar mampu membaca selera pasar Indonesia, sedangkan produk Indonesia sendiri tak mengenalnya.

Suryadi mencontohkan pusat-pusat belanja yang menjual lebih banyak produk casual ketimbang formal. Komposisi yang biasa berlaku di sana yakni melego 70% produk casual, sisanya produk formal.

”Indonesia terpukul oleh produk-produk fesyen Bangkok dan China. Sebab, harga yang mereka tawarkan murah. Mengapa murah? Karena mereka buatnya banyak,” kata Suryadi.

Kondisi yang terjadi di industri fesyen Indonesia adalah tidak adanya kerja sama antara perusahaan garmen besar dengan desainer lokal. Menurut Suryadi, ini terjadi
lantaran karya-karya desainer lokal tidak bisa memenuhi selera pasar, sedangkan industri garmen bergerak sesuai dengan selera pasar. Tidak berjodoh.

Suryadi memprediksi fesyen akan berkembang bukan lagi di pusat belanja atau department store, melainkan di speciality store. Fesyen ini dalam arti busana yang dibuat dalam rancangan tertentu dan tidak diproduksi massal.

Dari prediksi itu, Suryadi menyarankan para desainer lokal untuk masuk ke speciality store, bisa sendiri atau bersama-sama dengan desainer lain. Di speciality store mereka bisa memajang karya.

Sedangkan, department store dipusatkan untuk menjual busana basic. Di speciality store, desainer dapat mengarahkan sasaran pasar ke orangorang kaya.

Sekarang saja, menurut Suryadi, orang-orang kaya tidak lagi masuk department store. Mereka cenderung memilih speciality store.

Kelas menengah masuk ke department store yang memajang produk-produk basic dengan iming-iming  potongan harga. Kelas menengah ke bawah sudah sangat berorientasi pada harga, tidak begitu memedulikan kualitas.

Bagi industri garmen dan fesyen agar bersama-sama berkembang, Suryadi punya saran. Keduanya mesti punya merek busana yang melejit namanya. ”Saya lihat Indonesia ini punya kreasi fesyen bagus, tetapi Indonesia kurang bisa merek dibandingkan dengan merek luar. Kualitas, desain, dan harga yang reasonable, itu yang dicari pasar. Tapi tidak cukup memegang tiga hal itu bila merek tidak besar,” kata Suryadi.

”Saya yakin merek dalam negeri bisa jadi pemain di negeri sendiri. Langkah awal, pemerintah perlu bantu. Brand lokal kasih tempat cukup baik di shopping mal misalnya. Sehingga mereka bisa berdampingan dengan merek-merek luar negeri,” kata Suryadi.

Desainer busana Poppy Darsono mengatakan sebagian besar desainer lokal masih kesulitan memasukkan hasil karyanya ke pusat-pusat belanja. Hanya desainer yang mampu bayar sewa outlet yang dapat masuk ke sana.

Ilustrasinya, rata-rata biaya sewa gerai di pusat belanja sebesar US$100 per bulan per meter persegi. Biaya dapat dibayar di muka dengan cicilan lima kali. ”Siapa desainer lokal yang sanggup bayar segitu ketika penjualan mereka belum untung besar?” kata Poppy yang tenar lewat karya-karya batik rancanganya.

Di negara-negara tetangga, seperti Singapura, pemerintah di sana memberikan harga istimewa kepada desainer lokal yang menyewa gerai di pusat belanja. Dengan begitu, desainer lokal dapat mengembangkan usahanya tanpa perlu terlalu pusing memikirkan tingginya biaya sewa gerai.

”Pemerintah kita bisa melakukan hal serupa. Urunan saja empat kementerian untuk memberikan insentif biaya sewa gerai bagi desainer lokal Indonesia,” tutur Poppy.

Selain menyarankan pemberian insentif kepada desainer lokal, Poppy mengusulkan agar pemerintah memproteksi desainer lokal. Caranya, membatasi serbuan merek-merek asing di pasar fesyen Tanah Air.

Penilaian Poppy, sudah lama pemerintah memberi bantuan hanya dimaksudkan untuk salah satu tujuan, tidak ada penyatuan antarkementerian. Tiap kementerian membuat program dengan tujuan masing-masing.

”Mereka belum bertanggung jawab sepenuhnya. Kalau kami buat pameran, kami cari sponsor jungkir balik. Beda dengan Hong Kong, Malaysia, dan India yang didukung 100% oleh pemerintah sehingga industri fesyen mereka sangat kuat,” kata Poppy.

Selama 3 dekade berkiprah di dunia mode, Poppy melihat desainer lokal yang ratat-rata memiliki usaha kecil dan menengah sudah menunjukkan kemampuan luar biasa. Tanpa memikirkan keuntungan besar, atau fashion show mereka laku atau tidak, para desainer lokal tetap menjalankan kewajibannya untuk terus berkarya.

Srie Agustina, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan menambahkan, pihaknya tengah berupaya agar produk-produk dalam negeri dalam hal ini tekstil dan produk tekstil untuk masuk ke mal. Karena selama ini penetrasi produk asing lebih mendominasi.

”Mal ini kan sifatnya voluntary. Untuk voluntary, kami belum mengatur hal itu. Tapi Kami akan membantu agar produkproduk lokal juga masuk mal. Namun, kami lebih mengedukasi konsumen agar membeli produk lokal dan menangkal membanjirnya produk impor,” katanya.

Perancang busana, Biyan Wanaatmadja mengatakan dirinya sadar betul banyak pemain asing yang merangsek industri fesyen Tanah Air. Apalagi dia mendengar
isu gembar-gembor perdagangan bebas pada 2015 semakin gencar dibicarakan. ”Namun saya masih yakin, Indonesia itu tempatnya orang-orang kreatif. Negara ini juga merupakan salah satu yang melestarikan tradisi sandang dengan baik.”

Itu artinya, ungkap Biyan, potensi pasar fesyen di Indonesia masih cukup besar ke depan. Tinggal bagaimana memikirkan produk dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Hal itulah yang hingga saat ini terus didukung Biyan dengan meregenerasi para desainer baru. Selain meniupkan semangat tersebut, sebagai langkah pengenalan produk
fesyen dalam negeri dia kerap melakukan pameran dan peragaan busana.

”Ini bisa dilihat dari 10 tahun terakhir. Anak muda sudah tidak malu-malu terjun menjadi desainer, bahkan dari berbagai latar belakang pendidikan,” ungkapnya.

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Sisca Tjong, perancang sekaligus pemilik brand Paperdolls.

Desainer muda Indonesia mengakui saat ini sudah semakin mudah bagi mereka untuk memasukkan lini produk ready to wear mereka ke pusat perbelanjaan, melalui ritel berkonsep department store seperti Metro, Debenhams, serta The Goods Department Store.

”Beberapa departement store sudah mulai mengakomodasi merek lokal, sehingga untuk masalah distribusi tidak ada masalah. Yang rumit justru di proses produksi, karena beberapa material yang diperlukan susah didapat,” tuturnya.

Mayadewi Hartarto, President Esmod Jakarta mengatakan persaingan di industri fesyen ke depan akan semakin ketat bukan hanya ’serangan’ dari dalam negeri bahkan luar negeri sekalipun. Hal itulah yang disadari Esmod Jakarta.

Prediksi kian ketatnya pertempuran desain fesyen di Indonesia menjadi sebuah peluang tersendiri. Untuk itu, Esmod Jakarta memutar otak bagaimana menelurkan para desainer tangguh yang bisa bersaing di kancah internasional.

”Untuk itu kami di Esmod lebih menciptakan human resources yang nantinya memiliki bekal di bidang yang mereka kuasai. Dan yang jelas dunia fesyen akan semakin pesat, untuk itu kami perkuat generasi para desainer,” katanya.

Dia menambahkan upaya yang terus dilakukan Esmod adalah berinovasi. Memperbarui pengetahuan dan update wawasan di dunia fesyen menjadi hal wajib yang terus ditiupkan ke para siswanya.

(MIFTAHUL KHOER, BUNGA CITRA ARUM & GLORIA N. DOLOROSA)

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top