FILM DIBALIK 98, Tetap Tayang Meski Dikecam

Reformasi, reformasi, reformasi sampai mati. Itulah nyanyian ribuan mahasiswa yang bergemuruh di depan Gedung MPR/DPR pada 1998. Mereka turun ke jalan menuntut Soeharto, presiden Indonesia saat itu, untuk lengser dari kursi nomor satu di Indonesia.
Nenden Sekar Arum | 10 Januari 2015 12:30 WIB
Memiliki dua makna. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - “Reformasi, reformasi, reformasi sampai mati.” Itulah nyanyian ribuan mahasiswa yang bergemuruh di depan Gedung MPR/DPR pada 1998.  Mereka turun ke jalan menuntut Soeharto, presiden Indonesia saat itu, untuk lengser dari kursi nomor satu di Indonesia.

Soeharto yang sering dijuluki The Smiling General itu pada waktu tersebut baru saja terpilih kembali menjadi presiden sejak pertama kali memegang jabatan pada 1968.  Namun, pada 21 Mei 1998 atas desakan mahasiswa dan beberapa pihak lainnya, dia mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Negara.

Pengumuman yang menandai berakhirnya kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun tersebut ditimpali dengan teriakan haru, sujud syukur, dan pengibaran bendera reformasi di Gedung MPR/DPR, suatu kompleks bangunan yang dianggap melambangkan kekuasaan rakyat.

Salah satu kejadian bersejarah di Indonesia tersebut seolah kembali berputar ulang dalam bentuk potongan-potongan adegan film Di Balik 98.Film yang disutradarai Lukman Sardi ini merupakan film drama percintaan dan keluarga dengan setting peristiwa Mei 1998.

Film ini menceritakansebuah keluarga yang tercerai-berai dan sepasang kekasih yang harus berpisah akibat peristiwa besar tersebut. Bagus yang berpangkat letnan dua harus menghadapi kenyataan pahit. Istrinya, Salma yang sedang hamil besar, hilang dalam kerusuhan.

Bagus bimbang di satu sisi tidak bisa meninggalkan tugas negara begitu saja. Di sisi lain, sebagai suami, dia khawatir dengan nasib istrinya. Adik iparnya, Diana marah besar mengetahui kakaknya hilang dan Bagus malah tetap bekerja bukannya segera mencari Salma. Di sisi lain, Diana yang merupakan mahasiswi Trisakti dikisahkan ikut demonstrasi menjadi aktivis reformasi bersama kekasihnya, Daniel.

Dalam kerusuhan Mei tersebut, terjadi juga pembantaian salah satu etnis dan keluarga Daniel termasuk menjadi korban di dalamnya. Dia terpisah dengan ayah dan adiknya dalam pembantaian tersebut.

Film ini diperankan oleh deretan aktor dan aktris ternama seperti Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Chelsea Islan, dan Boy William. Tidak sedikit juga pemain pendukung film ini seperti aktor Amoroso Katamsi yang untuk ketiga kalinya memainkan peran menjadi Soeharto.

Amoroso sebelumnya memerankan Soeharto muda dalam film besutan Arifin C. Noer, Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dan  Djakarta 1966. Selain itu ada pula Agus Kuncoro yang berperan sebagai B.J Habibie, Iang Darmawan sebagai Harmoko dan Pandji Pragiwaksono sebagai Susilo Bambang Yudhoyono.

BUKAN SEJARAH

Dalam konferensi pers film ini, Lukman Sardi menegaskan film ini bukan film sejarah melainkan drama keluarga. Namun, dia mengklaim semua data yang ada di film produksinya bisa dipertanggungjawabkan.

“Kami melakukan riset, baik dari wawancara dan buku. Buku yang diambil pun merupakan buku yang sudah dipublikasikan, salah satunya adalah buku Pak Habibie,” katanya.

Lukman menjelaskan walaupun berbasis data, film ini tentunya melalui proses kreatif dan interpretasi sineas, tetapi tetap tidak melenceng dari tema yang diusung.

Menanggapi kabar mengenai somasi film ini karena dituduh memelintirkan sejarah, Lukman tidak banyak berkomentar. Dia hanya menjelaskan dari awal tidak menyiapkan tim hukum untuk film ini karena tidak ingin membuat film yang kontroversial hingga berbuntut somasi.

Lukman menekankan film ini bukan film yang mengulas secara detail tragedi Mei 1998.

Menurutnya, tragedi tersebut memiliki dua makna yakni positif dan negatif. Positifnya yakni terjadinya reformasi di Indonesia, sedangkan sisi negatifnya adalah tindak kekerasan yang menelan banyak korban tidak bersalah dan meninggalkan bekas luka batin bagi banyak orang.

Film berdurasi 107 menit ini direncanakan tetap tayang perdana pada 15 Januari 2015 di bioskop di Tanah Air, meskipun sejumlah tokoh yang menamakan diri aktivis 1998 menilai sejarah dalam film tersebut kurang akurat dan program ‘cuci tangan’ Orde Baru.  Mereka meminta penayangan film itu ditunda atau direvisi.

Sumber : Bisnis Indonesia, Sabtu (10/1/2015)

Tag : film
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top