3 Cara Gampang Mempertajam Otak

Ada anggapan bahwa otak terbentuk secara permanen. Tdak seperti organ lain, otak tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri atau mengembalikan fungsinya yang hilang setelah rusak atau terkena penyakit.
Newswire | 02 Maret 2015 10:24 WIB
Otak - cbsnews.com,au

Bisnis.com, JAKARTA— Ada anggapan bahwa otak terbentuk secara permanen. Tdak seperti organ lain, otak tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri atau mengembalikan fungsinya yang hilang setelah rusak atau terkena penyakit.

Tapi, sekarang kenyataannya otak adalah saraf yang plastis. Kegiatan dan pengalaman mental dapat mengubah struktur di dalamnya.

Guardian melansir nukilan dari buku terbaru Norman Doidge, The Brain’s Way of Healing: Stories of Remarkable Recoveries and Discoveries, pada pertengahan Februari lalu.

Norman Doidge adalah psikiater dan peneliti di Center for Psychoanalytic Training and Research, Columbia University dan Departmen Psikiatri di University of Toronto, Amerika Sertikat.

Bukunya mengurai sejumlah penemuan mutakhir dalam penelitian otak yang dapat membantu mempertajam otak manusia. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Berjalan 3 Km Sehari

Olahraga rutin, seperti berjalan, telah terbukti menjadi faktor utama dalam menurunkan risiko demensia sampai 60%. Salah satu alasannya adalah bahwa ketika binatang berjalan sangat jauh, dia biasanya mencari wilayah baru yang belum dijelajah untuk hidup, karena mereka menyelamatkan diri dari predator atau karena makanan sudah habis di tempat asalnya.

Otak, dalam mengantisipasi fakta bahwa binatang harus belajar banyak tentang wilayah baru ini, melepas faktor-faktor pertumbuhan, yang bertindak seperti pupuk di otak, yang memungkinkan otak membangun koneksi-koneksi antarsel agar lebih mudah saat dia belajar hal baru.

Berjalan rutin memiliki efek yang sama pada kita. Dia menempatkan otak kita dalam keadaan syaraf yang lebih plastis. Latihan keras tidaklah perlu. Jumlah yang dibutuhkan untuk mengurangi risiko demensia adalah berjalan 2 mil atau 3,2 km, atau bersepeda 10 km, lima hari dalam seminggu.

2. Belajar Tari, Bahasa atau Musik Baru

Seiring bertambah tua, khususnya bila memasuki usia pertengahan, kita tak lagi memacu otak kita sebanyak yang kita lakukan ketika masih bersekolah.

Sebagian besar orang pada usia menengah hanya mengulang keterampilan yang sudah dikuasai, seperti membaca koran dan mengulangi tugas yang akrab di tempat kerja.

Untuk menjaga penuaan otak, maka otak memerlukan latihan baru dan kerja keras dengan melakukan sesuatu yang sesulit mempelajari bahasa baru atau tarian baru, atau memainkan alat musik baru.

Kegiatan ini melibatkan bagian otak yang disebut nucleus basalis, yang bertanggung jawab untuk membantu kita memperhatikan dan mengkonsolidasikan koneksi-koneksi baru di otak ketika kita belajar. Idealnya, latihan ini dilakukan setiap hari selama satu jam atau lebih, dengan konsentrasi yang tinggi dan fokus.

3. Istirahat yang Cukup

Sebuah studi baru di University of Rochester, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa selama tidur sel-sel otak yang disebut glia membuka jalur khusus yang memungkinkan produk limbah dan penumpukan racun di otak, termasuk protein yang sama yang membuat demensia, untuk dihilangkan.

Di atasnya, saat kita tidur, koneksi baru, yang terbentuk antara saraf-saraf yang dibuat oleh pembelajaran yang kita lakukan sehari sebelumnya, menjadi terkonsolidasi dan membuatnya lebih awet.

Sayangnya, kehidupan modern semakin membuat kita kehilangan istirahat. Lampu, dan, tentu saja, Internet, membuat kita lebih sering terjaga, sehingga kita tak mendengarkan sinyal tubuh kita bahwa inilah saatnya untuk tidur.

Pada abad ke-19, orang Barat dewasa rata-rata berpikir tidur sembilan jam itu normal. Di AS sekarang, kenormalan itu adalah mendekati tujuh jam dan terus turun.

Berapa lama istirahat ideal? Rekomendasinya beragam, tapi beberapa peneliti mengatakan 8,5 jam adalah rata-rata yang lebih baik.

 

 

Sumber : Tempo.co

Tag : otak
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top