Ilustrasi/Medications-online
Health

Tips Mencegah Alergi Pada Anak

Deandra Syarizka
Minggu, 8 Maret 2015 - 08:30
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Alergi atau reaksi tubuh yang berlebihan terhadap benda asing yang disebut allergen sudah tak asing lagi kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Gejala batuk di ruangan berdebu, atau udara dingin, hingga sesak napas seperti asma merupakan salah satu contoh penyakit alergi yang sering kita temui.

Sayangnya, hasil penelitan Health Economics Study of Allergy yang dilakukan oleh kumpulan dokter dalam Forum Nasional Sadar Alergi (ForNASA) mengemukakan fakta bahwa tingkat prevalensi alergi pada anak di Indonesia semakin meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini. Beberapa penyakit alergi yang paling sering ditemui pada anak Indonesia antara lain asma, rhinitis alergi (radang pada selaput lendir hidung) dan dermatitis atopi (alergi kulit).

Data menunjukkan dalam rentang waktu 2001 hingga 2006, jumlah anak penderita asma di Jakarta  meningkat dari 8,9% menjadi 13,9%. Hal yang sama juga ditunjukan oleh jumlah anak penderita dermatitis atopi yang meroket dari sebelumnya 3,9% menjadi 24,6%. Sementara itu, jumlah anak penderita rhinitis alergi sedikit menurun dari 14,2% menjadi 12,3%.

Dokter Spesialis  Penyakit Dalam  sekaligus Konsultan Alergi Imunologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Samduridjal Djauzi mengungkapkan alergi dapat menjadi pembuka jalan untuk penyakit imunologi lainnya dalam siklus hidup. Penyakit alergi menahun dapat mengurangi kualitas hidup seseorang  baik dari segi kesehatan maupun keuangan karena biaya pengobatan untuk alergi cukup mahal dan bersifat jangka waktu panjang.

“Bagi pasien yang terkena alergi, ada tiga macam pengobatan yang bisa dilakukan. Pertama, mengenali pencetus alergi dan menghidarinya. Maksudnya kalau alergi debu ya menghindari tempat yang berdebu. Kedua, melakukan pengobatan, baik untuk menghilangkan gejala maupun untuk pencegahan jangka panjang. Ketiga, khusus penderita rhinitis alergi,dapat melakukanimmunotherapy,” ujarnya.

Immunotherapy, lanjut dia, adalah metode terapi yang menggunakan prinsip pengendalian secara medis agar tubuh menjadi lebih toleran terhadap allergen. Misalnya, bagi pasien alergi susu sapi, maka immunotherapy yang dilakukan adalah dengan memberikan susu sapi terhidrolisis sedikit demi sedikit ke dalam tubuh sesuai dosis yang telah ditetapkan dokter.

Selain itu, dokter juga akan memberikan ekstrak allergen dan obat yang diberikan secara berkala melalui suntikan atau tablet yang diletakkan di bawah lidah pasien. Semakin lama, dosis ekstrak allergen yang diberikan akan semakin meningkat hingga pasien dinyatakan sembuh dari alergi.

Kendati telah tersedia beragam metode pengobatan alergi, bagaimanapun prinsip mencegah lebih baik dari mengobati harus tetap dipegang teguh oleh masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memiliki kesadaran alergi dan penyakit yang berhubungan dengan imunologi sejak masa kehamilan sehingga orang tua menjadi lebih waspada dalam melakukan tindakan pencegahan primer alergi sejak dini.

Menurut Dokter Spesialis Anak Sub-Spesialis Alergi-Imunologi RSCM Zakiudin Munasir, pencegahan alergi primer yang paling sederhana dan efektif terhadap alergi adalah dengan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan anak. 

Namun, jika ibu tidak dapat memberikan ASI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan susu yang mengandung formula hidrolisat parsial whey dan formula hidrolisat ekstensif kasein.

“Zat tersebut mampu mengurangi risiko alergi dan beban ekonomi (untuk mencegah biaya untuk pengobatan alergi), walaupun formula tersebut tetap tidak bisa menggantikan manfaat ASI,” ujarnya. (Bisnis.com)

Penulis : Deandra Syarizka
Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro