Buku Ini Rangkum Jatuh Bangunnya Grup Musik The Groove

Bagaimana melihat ketangguhan sebuah kelompok musik di tengah serbuan pendatang baru dengan ragam genre musik yang ditawarkan.
Azizah Nur Alfi | 17 Juni 2016 09:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Bagaimana melihat ketangguhan sebuah kelompok musik di tengah serbuan pendatang baru dengan ragam genre musik yang ditawarkan. Maka, tengoklah perjalanan kelompok musik The Groove yang diwarnai keluar masuknya personel, tetapi mampu bertahan hingga 19 tahun perjalanannya. Yang tidak kalah penting, mereka dapat mempertahankan identitas bermusik dengan genre acid jazz.

Sederet fakta ini dibeberkan dalam buku The Groove Forever U'll be Mine setebal 190 halaman. Buku yang dirilis bersamaan dengan album ke-5 dengan judul yang sama ini, ditulis oleh Gideon Momongan dan Alditama. Latar belakang penulis yang memiliki kedekatan dengan kelompok musik asal Bandung itu, mampu menyajikan cerita The Groove secara lebih dalam dan utuh. Buku yang padat informasi, tetapi dikemas dengan bahasa yang santai untuk dinikmati.

Gideon Momongan merupakan jurnalis dan fotografer musik. Dia mengikuti perjalanan bermusik The Groove yang saat itu masih bernama Odyssey. Perkenalan ini terjadi sejak mereka masih manggung di kafe-kafe Bandung. Adapun, Alditama merupakan penikmat The Groove sejak 2001 dan akhirnya menjadi manajer The Groove sudah sejak sembilan tahun belakangan.

Keduanya butuh waktu 2,5 tahun mengumpulkan data dari setiap personel dan orang terdekat mereka. Beberapa cerita justru baru terungkap setelah terbitnya buku ini. Salah satunya, latar belakang hengkangnya beberapa personel The Groove.

Berani. Satu kata yang mewakili band yang digawangi oleh Ali Akbar (piano), Ari Firman (bass), Arie Arief (gitar), Deta Gunima (drum), Reza Hermanza (vokal), Reza Jozef Patty (perkusi), Rieka Roslan (vokal), dan Tanto Putrandito (keyboard). Kelompok musik ini mampu melesat dengan cepat karena menghadirkan sesuatu yang berani, baik dari genre musik yang masih awam maupun konsep musik dan panggung yang menghipnotis penikmat lintas usia. Tidak sedikit band-band baru juga lahir dengan genre serupa.

Buku ini menceritakan jatuh bangun The Groove selama 19 tahun perjalanan kariernya. Mulai dari manggung dari kafe-kafe di Bandung, hijrah ke Jakarta, hingga masuk dapur rekaman. Euforia The Groove tidak hanya terjadi di dalam negeri. Kesuksesan mereka juga mendapatkan basis fans dari Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Jepang. 

Kesuksesan ini tidak lantas menjadi cerita perjalanan tanpa konflik. Konflik antar personel kerap terjadi, yang berujung pada keluar masuknya personel. Buku ini termasuk menjawab penyebab keluarnya Rieke Roslan yang menjadi motor dan pencipta lagu utama The Groove. Kala itu, rumor yang beredar Rieke keluar karena ingin bersolo karier.
Keluar masuknya personel diikuti dengan kekosongan karya The Groove. Selama 11 tahun, sejak album terakhir di 2005, The Groove hanya merilis single Lets Go! (Reunion) dan Kusambut Hadirmu (2013).
“Ini sesuatu yang harus diceritakan. Bagaimana berjuang di industri musik,” tutur vokalis Rieke Roslan.

Judul: The Groove Forever U'll be Mine
Penulis: Gideon Momongan dan Alditama
Penerbit: RPM Music
Cetakan Pertama: Mei 2016
Halaman: 190 halaman

Tag : buku
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top