Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Label Makeup Independen RI Mulai Go International

Meledaknya pergerakan beauty societydi media sosial turt mendorong kelahiran berbagai merek kosmetika baru di dunia. Demam label kosmetika indie juga merebak di Indonesia, sehingga industri kecantikan tidak hanya didominasi oleh pemain besar yang sudah stabil.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 25 Juni 2016  |  15:16 WIB
Ilustrasi - Parade
Ilustrasi - Parade

Bisnis.com, JAKARTA - Meledaknya pergerakan beauty societydi media sosial turt mendorong kelahiran berbagai merek kosmetika baru di dunia. Demam label kosmetika indie juga merebak di Indonesia, sehingga industri kecantikan tidak hanya didominasi oleh pemain besar yang sudah stabil.

Label-label kosmetika indie lebih banyak menggunakan strategi pemasaran melalui media sosial dan kerjasama dengan para beauty guru. Namun, banyak dari mereka yang sudah mulai berani membuka booth-booth kecil di pusat perbelanjaan.

Tidak hanya itu, berbagai label kosmetika indie dari Tanah Air juga telah sukses merambah pasar internasional. Salah satunya dilakukan oleh PT Polka Jelita Indonesia, produsen lipstik cair merek Polka, sekaligus salah satu pioneer atau punggawa label kosmetika indie lokal.

Founder sekaligus CEO PT Polka Jelita Desty Uwais mengatakan produk mereka kini telah merambah ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia. Padahal, label kosmetika Polka baru didirikan selama setahun terakhir.

Lantas, bagaimana Desty bersaing di tengah semakin menjamurnya label kosmetika indie lokal? Bagaimana pula prospek dari tren ini ke depannya? Simak penuturannya:

Sejak kapan label Polka didirikan? Bagaimana awal mulanya? Dan, mengapa tertarik untuk terjun dan bersaing di industri kosmetika?

Polka berdiri pada Maret 2015. Pada awalnya [saya mendirikan label kosmetika baru] karena melihat adanya potensi pasar kosmetika di ranah digital. Kami melihat bahwa tidak ada batasan di ranah pasar [digital] itu.

Pasar kosmetika digital bergerak melalui sistem user sharing. Kami percaya dengan kekuatan kualitas [produk] yang baik serta dikemas dengan kreativitas yang baik, kami bisa diterima oleh pasar.

Mengapa tertarik terjun di industri kosmetika? Ya, selain karena mempunyai passion di situ, kami ingin menampilkan hal yang berbeda dan unik dalam tren dunia kecantikan dan kosmetika di Indonesia.

Apakah memang mendirikan label kosmetika baru karena mengikuti ramainya pergerakan beauty society di Instagram dan YouTube?

Iya, itu salah satunya. Kami membuat brand kosmetik Polka seiring dengan maraknya aktivitas [beauty society] di ranah digital, dan label kosmetika indiedi Indonesia pada waktu itu masih belum ada.

Jadi, kami memberanikan diri untuk memulai dengan modal konsep baru yang diawali dari peluncuran produk yang sedang menjadi tren dunia di Indonesia.

Berarti Polka adalah salah satupioneer label kosmetika indie di Tanah Air ya. Namun, dilihat dari segi tren, apa yang memicu boominglabel kosmetika indie di Indonesia setahun belakangan ini?

Ya. Kami mendirikan brand kosmetik secara independen dengan godokan konsep kami. Ada 4 orang pemangku kepentingan yang memiliki latar belakang berbeda, tapi punya visi yang sejalan dalam mendirikan Polka.

Kalau dicermati, di Indonesia itu apapun baru mulai booming ketika sudah ada salah satu yang memulai. Bukan hanya di dunia kosmetika, tapi juga di industri lain, misalnya makanan dan minuman. Karena, sebenarnya orang Indonesia memang kreatif.

Bagaimana ceruk pasar kosmetika indie di Indonesia (jika dibandingkan dengan merek lokal yang sudah mapan)? Bagaimana juga permintaannya? Dan, siapa pangsa pasarnya?

 Tergantung dari konsep dan positioning product yang ditawarkan. Kami menyikini apabila merek kosmetika indie tersebut memiliki konsep yang kuat dan kemudian cocok dengan pasar, pasti akan mendapat posisi khusus di anatara konsumennya.

Target pasar kami pada awalnya memang khusus untuk beauty junkie atau penggemar makeup saja di ranah digital. Namun, permintaannya ternyata makin meluas di digital marketplace.

Bagaimana strategi pemasaran kosmetika indie selain melalui medsos dan promosi lewat beauty guru? Bagaimana juga cara menembus pasar internasional?

Karena ranah pasar digital itu tidak terbatas, maka kesempatan untuk menembus pasar internasional lebih mudah sebenarnya.

Di Indonesia saja bertebaran merek-merek kosmetika dari luar negeri. Kami berpikir ‘Kenapa tidak sebaliknya? Kenapa [produk kosmetika] Indonesia tidak seperti itu [ekspansif ke luar negeri]?’

Kami memiliki perwakilan-perwakilanbeautypreneur di luar negeri yang juga memiliki visi seperti kami. Untuk strategi pemasarannya, kami utamakan melalui pasar online dan gerai on ground pilihan yang sesuai dengan nafas brand kami.

Saya rasa, [kami menyasar pangsa] pasar yang berbeda dengan merek-merek yang sudah mapan. [Kami] sedikit antimarketing untuk menciptakan ‘desire’ sehingga ‘feel’ dari produknya menjadi eksklusif.

Bicara soal produk, mengapa Anda menyasar segmen lipstik cair? Apa signature label Anda dibandingkan label-label lain?

Sebab lipstick cair itu adalah produk yang sedang sangat tren di dunia kosmetik. Kami menggunakan produk yang sedang tren sebagai product entry [perkenalan] ke pasar.

Signature kami adalah penyajian produk yang bold [berani] dan catchy.Kami menyajikan kualitas produk dan pengemasan yang terbaik, sehingga feelproduk kami menjadi sangat eksklusif.

Ke depannya kami akan membuat itembaru selain lipstick cair. Kami sedang menggodok beberapa konsep produk yang sedang menjadi tren di dunia kosmetik.

Apa tantangan membangun brandkosemetika indie di Indonesia? Apa juga keuntungannya?

Label kosmetika indie ditantang pada membangun kepercayaan konsumen terhadap brand. Namun, keuntungannya adalah label indiebiasanya mengundang rasa penasaran dari para konsumen untuk mencobanya.

Sehingga, aturan branding dari sebuah label kosmetika indie harus sesuai dengan napas brand-nya disertai dengan penyajian produk yang berkualitas baik. Jika itu terpenuhi, maka label-label indie tersebut akan memiliki tempat tersendiri di hati para konsumennya.

Pada akhirnya, konsumen akan get hooked [terpikat] dan loyal terhadap label kosmetika indie tersebut. Jadi, banyak brand-brand kosmetika indieyang akhirnya mengubah rasa penasaran atau curiosity konsumen menjadi rasa loyalitas mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tren kecantikan
Editor : Andhina Wulandari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top