Pesona Kain Indonesia Barat dalam Kolaborasi 6 Desainer

Tidak bosan-bosannya para perancang mode Tanah Air mengeksplorasi kekayaan wastra Nusantara untuk membangun citra fesyen Indonesia di mata dunia. Hal itu dilakukan baik oleh desainer yang telah mapan dan senior, maupun oleh para pendatang baru.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 23 Juli 2016  |  13:02 WIB
Pesona Kain Indonesia Barat dalam Kolaborasi 6 Desainer
JFFF 2016

Bisnis.com, JAKARTA- Tidak bosan-bosannya para perancang mode Tanah Air mengeksplorasi kekayaan wastra Nusantara untuk membangun citra fesyen Indonesia di mata dunia. Hal itu dilakukan baik oleh desainer yang telah mapan dan senior, maupun oleh para pendatang baru.

Fenomena itu turut dilakukan oleh perancang-perancang kenamaan yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), sehingga lahirlah koleksi bertema Kain Negeri Indonesia Barat.

Enam perancang senior tersebut a.l. Didi Budiardjo, Itang Yunazs, Hian Tjen, Priyo Oktaviano, Chossy Latu, dan Ghea Panggabean. Masing-masing dari mereka menyajikan set-set busana yang menyoroti aneka ragam kain tradisional dari Indonesia Barat.

Chossy Latu, misalnya, menggunakan kain khas Minangkabau dalam set busananya yang bertema Poise of Minang Kabau. Sesuai karakter khasnya, karyanya sangat kental akan nafas ‘sopshisticated, clean, and elegant’.

Koleksi Chossy lebih didominasi oleh potongan-potongan high fashion, tetapi tetap sesuai untuk penggunaan pada acara apapun. Hal berbeda ditawarkan oleh Didi Budiardjo yang mengusung kain tenun gedog khas Tuban, Jawa Timur.

Didi mengombinasikan material denim dan tenun gedog untuk menghadirkan aura modern dan fresh dalam koleksinya. “Bahan tenun gedog adala bahan yang spesial, karena proses pembuatannya yang tidak sebentar,” jelasnya.

Sementara itu, Ghea Panggabean lebih memilih material jumputan ‘pelangi’ khas Palembang. Uniknya, dia mengaplikasikan kain tradisional tersebut dalam potongan bohemian yang menjadi ciri khasnya.

Sebagai nilai tambah, dia juga memasukkan unsur etnik yang terinspirasi dari kebudayaan suku Mentawai. “Untuk menambah sentuhan masa kini, saya menampilkan stylingyang lebih bernuansa modern dengan detail pernik kerang dan motif tribal,” paparnya.

Keunikan lain juga disuguhkan Hian Tjen dengan koleksinya yang bertemaEthnicologi. Hian sendiri merupakan desainer yang populer akan kemegahan dan keglamoran rancangan gaun pengantinnya.

Koleksinya tersebut terinspirasi dari perkawinan antara budaya Indonesia dan Korea, dengan tetap menonjolkan nafas modern dan glamor. Untuk karyanya, dia memilih material tenun Garut dan Baduy, yang dikombinasikan dengan palet warna pastel dan cutting a la Korea.

Di sisi lain, Yusjirwan ‘Itang’ Yunazs menghadirkan keindahan tenun Troso asal Jepara dalam koleksinya. Adapun, Priyo Oktaviano memilih kain lurik asli Jawa untuk set busananya yang bertajukLurik Arik.

Pemilik label pakaian siap pakai SPOUS itu memamerkan beberapa potongan yang wearable, seperti kemeja yang dipadupadankan dengan celana sarung, celana pipa lurus, blouse asimetris, hingga over size dress.

Deputy Chairman JFFF Cut Meutia mengatakan peragaan busana dari keenam anggota IPMI tersebut selaras dengan upaya mengangkat kekayaan wastra Indonesia melalui peragaan karya mode koleksi terbaru para desainer lokal.

“Salah satu wujudnya adalah terbentuknya label eksklusif Kain Negeri, yang merupakan hasil kerjasama dengan IPMI. Selain itu, kami juga berusaha terus mendorong kemajuan industri [fesyen] melalui kompetisi mode bagi generasi muda,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kain

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top