Chairil Anwar Diangkat dalam Film

Penyair legendaris Chairil Anwar memang meninggal di usia muda, 27 tahun. Namun, seperti dalam bait puisinya Aku mau hidup seribu tahun lagi, puisi-puisi Chairil masih hidup dan menggema selamanya.
Azizah Nur Alfi | 29 Oktober 2016 04:41 WIB
Salah satu event pembacaan sajak-sajak Chairil Anwar - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Penyair legendaris Chairil Anwar memang meninggal di usia muda, 27 tahun. Namun, seperti dalam bait puisinya Aku mau hidup seribu tahun lagi, puisi-puisi Chairil masih hidup dan menggema selamanya.

Di tangan penyair, wartawan, dan penulis biografi, Hasan Aspahani pula, kisah dan puisi Chairil kembali hidup melalui buku Chairil: Sebuah Biografi dan diterbitkan Gagasmedia yang baru dirilis September kemarin. Tak berhenti pada buku, penyair yang baru saja menerima Anugerah Buku Puisi Terbaik melalui bukunya Pena Sudah diangkat, Kertas Sudah Mengering itu, juga telah menandatangani kontrak dengan pengembang naskah PlotPoint Kreatif untuk mengangkat riwayat hidup Chairil dalam sebuah film.

“Saya telah memberikan hak untuk memfilmkan buku ini kepada agen naskah saya,” tuturnya saat bedah buku Chairil: Sebuah Biografi dalam Festival Bulan Bahasa Indonesia Jilid ke-10 Universitas Indonesia.

Hasan mengatakan sejak awal proses penyusunan buku biografi tersebut memang ditujukan untuk sebuah film. Maka tidak heran, ketika membaca biografi Chairil, pembaca seolah dibawa masuk pada satu adegan per adegan kehidupan Chairil. Hasan sukses membawa nuansa filmistis yang berangkat dari kehidupan Chairil.

Hasan menghabiskan waktu satu tahun untuk riset kemudian menuliskannya dalam buku ini. Riset dilakukan dengan wawancara kepada orang terdekat Chairil, juga riset dokumentasi melalui 35 buku dan 300 copy dokumen dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Buku ini tidak saja mengupas tentang puisi-puisi Chairil, tetapi juga sejarah di balik terciptanya puisi tersebut. Hasan juga menjawab mitos yang selama ini beredar, seperti puisi Aku.

“Mitos yang beredar puisi Aku dinilai sebagai ekspresi kemarahan kepada Ayahnya karena menikah lagi. Di buku ini menjelaskan bagaimana Chairil justru memiliki hubungan yang dekat dengan ibu tirinya, Ramadhana,” katanya memaparkan.

Melalui beberapa babnya, Hasan juga membawa semangat dan etos Chairil. Nuansa yang begitu filmistis, kata Hasan, juga tentang kisah cinta dan patah hati terbesar seorang Chairil Anwar kepada Sumirat. Juga tentang kesukaan Chairil pada ketan Srikaya buatan istrinya, Hapsah.

“Cerita yang akan menjadi tontonan menarik. Buku ini memang dipersiapkan untuk film, sehingga saya harus mencari bagian-bagian yang filmistis,” katanya.

Sebelum menjadi film, imbuhnya, buku ini rencananya akan ditampilkan terlebih dulu melalui pentas monolog pada tahun depan.

Salman Aristo dari PlotPoint Kreatif, disebut Hasan, akan menuliskan skenario film biografi Chairil Anwar. Jadi, kapan rencana film ini akan tayang? Hasan belum tahu pasti karena sepenuhnya tentang film yang diangkat dari buku ini telah diserahkan kepada PlotPoint Kreatif.

Penulis skenario Salman Aristo mengatakan saat ini rencana memfilmkan riwayat hidup sang penyair Chairil Anwar masih dalam tahap mencari investor.

“Masih dalam taraf pencarian investor,” katanya.  

Editor Gagas Media Resita Wahyu Febiratri mengatakan belum banyak biografi Chairil yang mengupas banyak sisi kehidupannya. Buku dan film ini nantinya bisa menjawab generasi muda yang belum tahu dan mengenal banyak tentang Chairil. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
chairil anwar

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup