SERBA SERBI KAIN: Kenali Cara Tepat Merawat Busana

Nama-nama kain yang sedang populer sebenarnya merupakan merek dagang. Misalnya, Lycra, Tencel, Cerruti, Neoprene, atau Scuba. Kebanyakan nama kain disebut dari asal serat, jenis benang, dan konstruksi pembuatan , seperti; katun, satin, krep, twil, tweed, dll.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 12 November 2016  |  12:20 WIB
SERBA SERBI KAIN: Kenali Cara Tepat Merawat Busana
Kain tenun - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Bukan hal yang lebay rasanya saat desainer kenamaan Donna Karan menyatakan, “Masa depan fesyen terletak pada kain.” Tanpa banyak disadari, kain telah menjadi bagian penting dalam pembentukan peradaban umat manusia.

Jagat fesyen tidak ada apa-apanya tanpa peran tekstil. Dari kain pula, karakter seorang perancnag mode akan terefleksi secara jujur melalui karya-karyanya. Itulah sebabnya, penting bagi insan fesyen untuk memiliki pengetahuan yang mumpuni soal kain.

Sayangnya, tidak semua orang paham bagaimana memperlakukan kain. Bisa jadi, Anda pun memiliki banyak pakaian indah dan mahal, tetapi buta tentang cara merawatnya. Busana yang sudah dibeli mahal-mahal pun akan sia-sia jika tidak tahu bagaimana menjaganya.

Untuk memahami soal kain dan bagaimana memperlakukannya dengan tepat, hal paling mendasar yang harus diketahui adalah jenis-jenis kain itu sendiri. Kain dibedakan menjadi dua filum besar, yaitu; kain dari serat (fibre) natural dan buatan manusia.

Serat natural bisa nabati seperti kapas, linen, ramie, pisang, kapuk, rosela, jute, sisal, manila, kelapa, atau sabut. Namun, bisa juga hewani seperti wool, sutra, kasmir, angora, mohair, llama, unta, alpaca, vicuna, dan lain sebagainya.

Ada satu lagi jenis serat natural yang kerap diabaikan orang, yaitu serat yang terbuat dari material mineral. Misalnya saja, benang emas, perak, silikon, dan sebagainya yang kerap dijadikan bahan campuran dalam penenunan kain.

Sebaliknya, serat buatan dibagi menjadi artifisial seperti rayon, viscocetencel, atau acetate, dan sintetis seperti poliester atau tetoron, akrilik, nilon, dan poliamida.  Serat-serat itu dibuat dari minyak bumi untuk menggantikan kain dari serat alam yang semakin mahal harganya.

Dosen Bidang Fashion Fabric di Binus Northumbria School of Design (BNSD) dan ESMOD Jakarta, Nurul Akriliyati, menjelaskan serat artifisial umumnya juga terbuat dari tanaman yang diproses menjadi pulp di pabrik terlebih dahulu sebelum dibentuk.

Nama-nama kain yang sedang populer sebenarnya merupakan merek dagang. Misalnya, Lycra, Tencel, Cerruti, Neoprene, atau Scuba. Kebanyakan nama kain disebut dari asal serat, jenis benang, dan konstruksi pembuatan , seperti; katun, satin, krep, twil, tweed, dll.

“Karakter yang dimiliki oleh serat menjadi ciri khas dari kain yang dibentuknya. Selain dari serat, karakter kain dipengaruhi dari cara pembuatan benang dan konstruksi pembuatan kain itu,” jelas Nurul di sela-sela talkshow di Main Atrium Senayan City.

Kain yang berasal dari serat natural biasanya lebih mudah menyerap air, tetapi agak sulit melepaskannya. Selain itu juga lebih mudah kusut dan meninggalkan bekas noda. Karakter ini sangat memengaruhi tingkat kenyamanan dalam penggunaannya.

Namun, ada juga kain serat alam yang mudah menyerap air tetapi juga mudah melepaskannya. Misalnya saja kain wool, mohair, dan kasmir. Mereka memiliki karakter khusus untuk menahan suhu tubuh penggunanya.

Sebaliknya, kain sintetis cenderung sulit menyerap air tetapi mudah melepaskannya. Sehingga, perawatan dan pencuciannya jauh lebih mudah. Akan tetapi, kain sintetis tidak tahan panas, sehingga dibutuhkan kehati-hatian ekstra saat penyetrikaan.

Setelah mengenal jenis kain, Anda dapat memilih yang sesuai untuk kebutuhan. Apalagi, jika Anda memiliki kulit yang sensitif. Nurul mengatakan bayi, anak-anak, atau orang dengan alergi bahan sintetis lebih disarankan memilih busana dari serat alam.

“Serat alam memiliki pori-pori, bisa menyerap kelembapan, dan baik untuk sirkulasi udara, sehingga sangat cocok untuk iklim tropis. Untuk iklim tropis, sebaiknya rutin mengganti baju tidur setiap hari karena debu dan keringat lebih cepat terserap ketimbang di negara 4 musim.”

TEKNIK PERAWATAN

Nurul menjelaskan teknik perawatan kain adalah hal yang sangat krusial dalam mempertahankan keindahan busana. Saat mencuci, biasakan membedakan baju berdasarkan warna putih, warna gelap, dan warna terang.

“Busana tidak boleh dicuci dengan mesin, tetapi harus manual. Kain sutra harus dirawat ekstra hati-hati karena seratnya lebih rapuh, demikian pula dengan kain lace; jangan terlalu sering di-dry clean karena bisa membuat seratnya melar,” tuturnya.

Dia juga menyarankan agar menghindari penggunaan deterjen yang mengandung senyawa alkali karena dapat memudarkan material serat alami seperti sutra. Hindari juga penggunaan pemutih pada serat alam karena dapat mengubah tekstur dan warna bahan.

Sementara itu, Marketing Manager Softener So Klin, Julie Widyawati, menambahkan teknik mencuci yang tepat pada kain akan menghasilkan busana yang lembut dan wangi. Hal itu praktis bisa membangkitkan mood dan kepercayaan diri seseorang dalam menjalani hari.

“Dalam perawatan kain, jangan lupakan teknik pewangian. Anda dapat memilih keharuman yang lembut bagi kain, tetapi tahan lama.  Misalnya saja wangi bunga-bungaan untuk menonjolkan kesan feminin, seksi, glamor, tetapi sekaligus lembut,” tuturnya.

Lantas, bagaimana dengan trik memilih kain yang sesuai dengan karakter penggunanya? Julie mengatakan perempuan dengan cita rasa glamor dan sedikit misterius dapat memilih busana berbahan ‘jatuh’ dengan palet gelap seperti ungu tua, hitam, dan biru.

Pada kesempatan yang sama, desainer mode Billy Tjong berpendapat cara mudah untuk memilih kain adalah dilihat berdasarkan warna yang sesuai kulit. “Namun, itu hanya pakem saja. Sebenarnya yang paling penting adalah kita merasa nyaman dengan apa yang dipakai.”

Billy menambahkan sedikit trik untuk perawatan dan penyimpanan pakaian bergaya couture. Misalnya saja gaun atau kebaya yang kaya akan taburan kristal dan payet. Menurutnya, jenis pakaian dengan material berat seperti itu jangan terlalu sering dicuci.

“Cara pengeringannya pun jangan digantung, karena kainnya bisa melar akibat menahan beban. Kalau punya manekin, pakaikan di manekin. Kalau tidak, cukup dilipat, dibungkus kertas roti, dan disimpan ke dalam boks, lalu diberi silica gel,” tuturnya.

Untuk kain dengan material berat, seperti wool, Billy menyarankan agar dicuci dengan tangan. Cukup menggunakan sampo bayi dan jangan diperas. Keringkan dengan cara diangin-anginkan. Jangan menggunakan mesin cuci karena bisa menyusut.

Dos:

1.      Saat mencuci, pisahkan pakaian berdasarkan warna: putih, warana cerah, dan warna gelap

2.      Cuci dan jemur pakaian berwarna dalam keadaan terbalik, bagian dalam di luar

3.      Jemur pakaian tidak langsung terpapar sinar matahari

4.      Khusus kain sutra, cuci dengan tangan dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan

5.      Sesuaikan panas setrika dengan jenis kain yang akan disetrika

6.      Cuci dengan tangan kebaya brokat tanpa payet, lalu angin-anginkan, dan simpan dengan cara digantung

Don’ts:

1.      Jangan menyemprotkan parfum secara langsung pada pakaian dari bahan sutra

2.      Kebaya dengan payet harus dicuci dengan tangan, dikeringkan dengan diangin-anginkan tetapi jangan digantung, lalu simpan dengan cara dilipat

3.      Pakaian dari bahan wool wajib dicuci dengan tangan dan sabun khusus kain wool, dengan air dingin. Jangan diperas, dan hanya boleh diangin-anginkan tanpa digantung

4.      Jangan mengabaikan simbol-simbol pemeliharaan produk (termasuk teknik pencucian, pemakaian suhu air, pemutihan, dry clean, putaran mesin, dan penyetrikaan) yang tertera pada busana

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kain

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top