Ilustrasi-Vaksin/Reuters
Health

Melawan Stigma Negatif Vaksin

Rezza Aji Pratama
Rabu, 4 Januari 2017 - 06:04
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-Sejak dikembangkan oleh Edward Jenner pada 1976, peran vaksin dalam memerangi aneka jenis penyakit tak tergantikan. Mulai dari cacar sampai polio, hingga beberapa jenis vaksin yang sedang tahap pengembangan seperti demam berdarah.

Dalam perjalanannya tidak mudah melaksanakan vaksinasi. Selalu ada pesepsi dan kekhawatiran belebihan dari masyarakat ketika suatu jenis vaksin mulai diterapkan. Belum lama ini misalnya, beredar kabar hoax soal efek samping vaksin human papillomavirus (HPV). Kabar yang beredar di grup Whats app dan media sosial itu menyebutkan bahwa vaksin untuk kanker serviks tersebut bisa menyebabkan menopause dini.

Kabar itu akhirnya dibantah oleh berbagai pihak. Vaksin ini sebenarnya sudah dipakai oleh puluhan negara selama 14 tahun terakhir. Sejak pertengahan tahun lalu, Kementerian Kesehatan memang mulai menyuntikkan vaksin HPV kepada anak-anak sekolah dasar di Jakarta.

Kendati demikian, kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin tidak juga luntur. Hal ini juga disadari oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan M. Subuh. “Persepsi yang salah tentang vaksin memang masih jadi persoalan. Kuncinya adalah edukasi terus menerus,” ujarnya.

Saat ini, pemerintah sudah memiliki program delapan imunisasi dasar yang diterapkan secara nasional. Mulai dari polio, hepatitis, hingga campak. Adapun di tahun depan, Kementerian Kesehatan berencana menambahkan tiga jenis vaksin lagi; measles rubella, pneumococcus, dan HPV yang sudah mulai diterapkan tahun ini.

Subuh menjelaskan ketiga vaksin tersebut berstatus demonstrated project. Artinya, tidak ada lagi masa percobaan karena ketiga vaksin tersebut sudah lebih dulu terbukti ampuh di beberapa negara lain.

“Jadi tahun depan kita implementasikan di beberapa daerah, selanjutnya di 2018 kita berharap bisa diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Penentuan daerah yang menjadi sasaran implementasi berbeda-beda, bergantung pada pantauan kesehatan di kawasan tersebut. Subuh menjelaskan, vaksin measles rubella yang dipersiapkan untuk pengganti campak misalnya, akan disuntikkan ke anak-anak di seluruh Jawa.

Sementara itu, vaksin pneumococcus yang berguna untuk menangkal infeksi saluran nafas akut (ISPA) akan di laksanakan di Lombok. Adapun HPV, bakal diterapkan di DKI Jakarta dan DIY Yogyakarta.

Jika ketiga vaksin ini berhasil diterapkan, Indonesia akan memiliki 11 imunisasi dasar lengkap yang berlaku secara nasional. Kendati demikian, 11 vaksin ini sebenarnya belum cukup untuk menyejajarkan diri dengan negara-negara maju yang menerapkan minimal 14 vaksin dasar.

“Target kita bisa sejajar dengan negara-negara maju pada 2025,” tambah Subuh.

Kendati demikian, Subuh mengaku masih mengkaji vaksin apa yang dibutuhkan masyarakat selain ketiga vaksin anyar di atas. Beberapa vaksin yang dipertimbangkan antara lain vaksin demam berdarah.

Kanker Serviks

Salah satu vaksin yang menuai polemik adalah HPV yang dimaksudkan untuk mencegah kanker serviks. Pesan berantai yang menyebutkan vaksin tersebut bisa menyebabkan menopause dini sempat menghebohkan masyarakat.

“Saya tegaskan vaksin HPV tidak menyebabkan menopause dini. Kalaupun ada efek samping biasanya tergolong tingan seperti bengkak dan sakit di bagian tubuh yang disuntik, dan itu wajar,” ujar Andrijono, dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

Data World Health Organization (WHO) per September 2016 menunjukkan saat ini baru 67 dari 194 negara di dunia yang sudah mengimplementasikan program imunisasi HPV. Hasilnya cukup menggembirakan. Sejumlah penelitian menyebutkan tingkat keberhasilannya mencapai 100%.

Bagi pemerintah dan tenaga kesehatan, edukasi soal vaksin HPV seperti berperang melawan kematian. Di antara berbagai jenis kanker, serviks bersama dengan kanker payudara, menjadi salah satu pembunuh nomor satu. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan terdapat sekitar 330.000 kasus kanker di Indonesia, dengan kasus terbesar adalah kanker serviks. Sementara itu, data dari WHO menyebutkan 2 dari 10.000 wanita di Indonesia menderita kanker serviks dan diperkirakan 26 wanita meninggal setiap harinya akibat penyakit ini.

Polemik vaksin tidak hanya berkutat soal efek samping yang ditimbulkan. Beberapa perdebatan bahkan menjurus hingga sentiment agama. Seorang kawan bahkan mengaku enggan divaksin karena percaya bahwa suntikan tersebut diharamkan oleh agama. Di kalangan ulama, perbedaan pendapat soal haram dan halal ini bahkan jua terjadi.

Namun, apapun polemiknya, tenaga kesehatan tetap bersepakat vaksin telah berjasa menyelamatkan jutaan nyawa manusia sejak Edward Jenner menemukannya.

 
Bagikan

Tags :


Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro