Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sutradara Muda Wregas Ajak Komunitas Film Tetap Tumbuh

Sutradara muda Indonesia, Wregas Bhatuneja hadir dan berdiskusi setelah pemutaran karyanya berjudul Perenjak/In The Year of Monkey (2016) di malam Night of Ideas yang digelar oleh Institut Prancis di Indonesia belum lama ininn
Ramdha Mawaddha
Ramdha Mawaddha - Bisnis.com 28 Januari 2017  |  19:34 WIB
Ilustrasi. - .gradunion.cam.ac
Ilustrasi. - .gradunion.cam.ac

Bisnis.com, JAKARTA— Sutradara muda Indonesia, Wregas Bhatuneja hadir dan berdiskusi setelah pemutaran karyanya berjudul Perenjak/In The Year of Monkey (2016) di malam Night of Ideas yang digelar oleh Institut Prancis di Indonesia belum lama ini.

Film yang terpilih pada program La Semaine de la Critique Festival Film Cannes 201 ini berdurasi 12 menit dan mengambil setting di Yogyakarta.Wregas melibatkan 12 orang kru yang tergabung dalam sebuah komunitas bernama Studio Batu. Komunitas ini didirikan berdasarkan berbagai disiplin karya seni baik seni rupa, musik, teatr, sastra dan film.

Wregas menceritakan jika ide film ini lahir dari sebuah cerita dari gurunya saat SMA. Sekitar tahun 1970-an di Yogyakarta sang guru sering ke Alun-alun tempat gadis-gadis berjualan wedang ronde. Selain jualan wedang ronde, sang gadis juga berjualan korek api yang dijual dengan harga Rp1.000 per batang.

“Cerita ini terus terbayang dalam benak saya hingga saya penasaran dan mencari tahu. Ternyata ibu-ibu yang jualan wedang ronde sekarang tak lagi menjual korek api. Akhirnya cerita ini saya filmkan,” jelas Wregas.

Dalam film ini, Wregas mengatakan jika dia ingin mengungkapkan bagaiman kekuatan seorang wanita dan perjuangan wanita yang hidup sendiri dan menurutnya hal tersebut perlu diapresiasi. “Film ini menjadi bentuk kekaguman dan penghormatan saya yang tinggi pada perempuan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wregas banyak bercerita tentang kondisi komunitas film di Indonesia saat ini. Menurutnya sebuah komunitas film harus bergerak sendiri dan jangan mengandalkan bantuan dana dari pemerintah. Karena yang paling penting menurutnya adalah kesadaran diri sendir- utnuk berjuang menumbuhkan komunitas film.

Wregas memberikan gambaran festival film di Purbalingga yang berjuang keliling kampung untuk memutar film.

“Sebuah proyektor dan mobil yang dibawa keliling kampung. Dan itu terus berjalan meski kadang mobilnya mogok, kadang ada kerusakan tapi dia berjuang bertahun-tahun. Seringkali pemutaran itu dibubarkan tapi kesadaran dari diri sendiri dan perjuangn itulah yang dibutuhkan. Meskipun itu tidak mudah, jalannya panjang dan banyak halangan. Tapi kita berjuang di situ,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

festival film
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top