Suara Dari Jauh: Karpet Merah Untuk Puisi-Puisi GM

Setelah Tuan Sapardi dipersilahkan masuk terlebih dahulu dalam dua album terdahulu Ari Reda, Becoming Dew (2007) dan Menyanyikan Puisi (2015), saatnya Tuan Goenawan Mohamad diberi tempat utama.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 20 Februari 2017  |  09:06 WIB
Suara Dari Jauh: Karpet Merah Untuk Puisi-Puisi GM
Goenawan Muhammad - Youtube

Bisnis.com, JAKARTA- Setelah Tuan Sapardi dipersilahkan masuk terlebih dahulu dalam dua album terdahulu Ari – Reda, Becoming Dew (2007) dan Menyanyikan Puisi (2015), saatnya Tuan Goenawan Mohamad diberi tempat utama.

Ari Malibu dan Reda Gaudiamo merilis album ketiga, Maret mendatang. Berbeda, dengan Menyanyikan Puisi, dengan sajian musikalisasi dari Sapardi Djoko Damono (Di Restoran, Lanskap), Toto Sudarto Bachtiar (Gadis Peminta-Minta), Mozasa (Kupu-Kupu), kali ini Ari-Reda memberikan penghormatan khusus bagi karya GM.

Setidaknya ada 10 karya manis GM, ditambah dengan dua lagu tambahan masuk dalam album Suara Dari Jauh. Ari Malibu menyebut, puisi-puisi GM memiliki kesamaan dengan Sapardi dalam hal daya pikat keromantisan.

Memang tak semua lagu yang dibawakan erat dengan percintaan, kritik sosial juga masuk dalam menu album. Seakan memberikan kejutan, Ari-Reda memilih tidak meminta pendapat GM, tentang puisi mana saja yang dipilih untuk dimainkan oleh duet manut yang telah berkiprah lebih dari 30 tahun ini.

“Kami diskusi berdua saja, GM tahunya baru 30 Desember kemarin [2016]. Dalam sebuah pertunjukkan kami undang beliau, dan ternyata suka sekali. Padahal kami awalnya deg-degan kalau dia tidak suka,” ungkap Reda setelah pertunjukkan di Galeri Indonesia Kaya, akhir pekan lalu.

Bicara mengenai lama rekamannya, Ari-Reda cukup memerlukan dua hari saja. Proses rekaman dengan konsep live performance, dilakukan di Studio Kuaetnika, Yogyakarta.

Album yang rencananya dirilis pada 23 Maret 2017, di Gedung Kesenian Jakarta, diantaranya akan menyajikan puisi berjudul Surat Cinta dan Z. Reda mengatakan karya GM—dalam penyajian kata—berbeda dengan Sapardi, yang seakan sudah dipersiapkan untuk dijadikan lagu.

Menurutnya, untuk membawa puisi-puisi dalam panggung, bukan dari siapa pengarangnya tetapi, lebih pada konektivitas puisi dengan selera musikalisasi Ari-Reda. “Kami memliih puisi yang nyambung, tapi kalau tidak nyambung, tidak bisa masuk,” tambah Reda.

Alasan lain Ari-Reda memainkan karya GM, tak lain terkait pembuktian bahwa mereka tak selalu melekat dengan karya-karya Sapardi. Memang, tembang Aku Ingin dan Hujan Bulan Juni, seakan sudah menjadi lagu wajib saat mereka naik panggung.

Dalam guraunya, Ari mengatakan hadirnya album ketiga ini membuktikan bahwa Ari-Reda tidak hanya mampu menyajikan karya Sapardi dalam musikalisasi puisi. “Ada perubahan Ari-Reda,” begitu kelakarnya.

Tak hanya berhenti pada penyair senior, Ari-Reda juga tidak sabar untuk masuk dalam karya penyair generasi muda, Seperti Aan Masyur. Tren musik folk yang sedang menggema, ditambah dengan apresiasi anak muda pada musikalisasi puisi, membuat mereka yakin bahwa album-album selanjutnya semakin dekat di hati generasi Millennial.

Bicara soal pertunjukkan impian, bagi Ari-Reda tak sekadar jumlah tepukan penonton. Mereka lebih nyaman, bahwa penonton yang menyaksikan pertunjukkan Ari-Reda, memang datang untuk menonton.

“Kepikiran untuk main dengan orkestra, saya sama Ari sudah sempat hitung-hitung, tinggal tunggu waktu yang pas. Kalau masalah jumlah penonton tidak terlalu menjadi perhatian kami,” tutur Reda.

Untuk lebih dekat dengan Suara Dari Jauh, Ari-Reda mengundang handai taulan untuk datang dan mengapresiasi bersama karya GM dalam peluncuran album tersebut. Maka tepat, seperti bait-bait GM dalam Surat Cinta (1963), Bukankah surat cinta ini ditulis, ditulis ke arah siapa saja. Seperti hujan yang jatuh ritmis, menyentuh arah siapa saja.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
puisi

Editor : David Eka Issetiabudi
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top