Berperan Jadi Ayah Kartini, Deddy Soetomo Belajar Budaya Jawa

Pemeran senior papan atas Indonesia Deddy Soetomo terlibat dalam film Kartini sebagai Raden Mas Aryo Sosroningrat, ayah Kartini. Raden Mas Aryo Sosroningrat merupakan sosok yang bijaksana dan sangat memahami cita-cita Kartini.
Azizah Nur Alfi | 17 Maret 2017 08:38 WIB
Deddy Soetomo - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pemeran senior papan atas Indonesia Deddy Soetomo terlibat dalam film Kartini sebagai Raden Mas Aryo Sosroningrat, ayah Kartini. Raden Mas Aryo Sosroningrat merupakan sosok yang bijaksana dan sangat memahami cita-cita Kartini.

Meski telah memasuki usia 75 tahun, Deddy Soetomo tetap aktif bermain dalam film layar lebar. Berperan sebagai sosok Raden Mas Aryo Sosroningrat, Deddy Soetomo banyak melakukan penelitian seputar kehidupan Kartini sejak tahun lalu. Penelitian ini sebagai persiapan sebelum syuting film Kartini.

“Memerankan cerita nyata yang diangkat ke layar lebar dan dari cerita sejarah itu tantangan besar buat kita sebagai aktor. Kita harus mencari, mengeksplor, menggali, bagaimana background sosial, background keningratan, background karakter dan background tradisi pada waktu itu. Dan riset itu tidak hanya saya dapat dari bacaan-bacaan saja, tapi juga diskusi dengan pembuat film. Lalu juga saya harus banyak belajar dari orang yang lebih mengerti tentang budaya Jawa pada waktu itu, bagaimana attitude, gestur dan tindak tanduk seorang bangsawan pada waktu itu,” ceritanya melalui keterangan resminya.

Seiring dengan perjalanan mendalami karakternya, Deddy semakin mengagumi Kartini. Baginya, Kartini tidak hanya menelurkan ide tentang emansipasi, tapi lebih besar lagi. Kartini melihat ke bawah, ke keadaan sosial rakyatnya pada waktu itu. Kartini peduli pada rakyatnya, bukan ke dirinya. "Ini sebuah pemikiran yang breakthrough, yang baru pada jaman itu. Dia berani mengajukan syarat-syarat untuk memajukan kaumnya sebelum menerima lamaran. Ini kan tidak pernah terdengar waktu itu,” imbuhnya.

Deddy berharap bahwa film ini bisa dinikmati banyak orang, terutama generasi sekarang. “Apa yang dicita-citakan Kartini itu lebih besar dari apa yang dia tulis, dan sifatnya lebih universal. Nantinya setelah melihat film ini, saya rasa kita akan memperingati 21 April tidak hanya sekedar sebagai Hari Kartini, tapi lebih dari itu, hari di mana kita bisa terinspirasi untuk memajukan pendidikan," katanya berharap.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
film

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top