Merayakan Hari Air di Pelosok Nusantara

Sejak 1993, Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. Semangatnya adalah untuk menyediakan air bersih dan sanitasi yang layak bagi seluruh umat manusia, sehingga masalah defisit air bisa tereradikasi pada 2030.nn
Wike Dita Herlinda | 19 Maret 2017 18:44 WIB
Anak-anak bermain air. - Reuters/Pilar Olivares

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak 1993, Persekutuan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia. Semangatnya adalah untuk menyediakan air bersih dan sanitasi yang layak bagi seluruh umat manusia, sehingga masalah defisit air bisa tereradikasi pada 2030.

Di Indonesia sendiri, perayaan Hari Air Sedunia selalu menjadi peringatan akan pentingnya kecukupan air bersih, serta usaha peningkatan kesadaran untuk mengelola dan memelihara sumber-sumber air bersih secara berkelanjutan.

Apalagi, masih ada sebagian warga Tanah Air yang terjerat problematika air bersih dan sanitasi di daerahnya. Meskipun demikian, harus diakui, upaya penyediaan air bersih di republik ini terus mengalami perbaikan dan peningkatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang periode 2004—2014, akses sanitasi dan air layak minum naik masing-masing sebesar 19,3% dan 22,93%. Pada akhir 2014, akses sanitasi dan air layak minum nasional telah mencapai masing-masing 61,06% dan 68,11%.

Masih menurut catatan BPS, setiap tahunnya akses sanitasi layak di Indonesia naik sebesar 2,29%. Adapun, akses terhadap air bersih layak minum di Tanah Air naik rata-rata 1,93% per tahun. Sehingga, peningkatan akses air minum dan sanitasi naik rata-rata 2% per tahun.

Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, sejumlah kegiatan pun dihelat instansi-instansi di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari bersih-bersih garis pantai dan sungai, reboisasi, hingga membangun sarana sanitasi dan akses air bersih.

Salah satunya seperti yang dilakukan Swiss German University (SGU), yang menggandeng Habitat Indonesia dan pakar sistem pemurnian air Chris Salim untuk menyediakan akses air bersih bagi warga Desa Marga Mulya, Mauk, Tangerang.

Penyediaan air bersih tersebut dilakukan dengan memetakan kelayakan kondisi air Desa Marga Mulya, memasang sistem filtrasi air untuk mendukung akses air bagi seluruh warga, dan memberi edukasi air bersih untuk meningkatkan kualitas hidup.

Meskipun letaknya tidak jauh dari Ibukota, Desa Marga Mulya adalah sebuah desa tertingggal di kawasan Mauk, Tangerang. Lokasinya hanya beberapa kilometer dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Desa tersebut dihuni oleh sekitar 60 kepala keluarga atau sekitar 250 orang. Masyarakat setempat hidup di tengah kondisi yang cukup memprihatinkan. Tidak ada sanitasi layak, air bersih, pekerjaan tetap, serta sarana pendidikan mumpuni.

Oleh sebab itu, berbagai pihak seperti SGU berusaha membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat desa tersebut dengan pengadaan akses terhadap air bersih. Aksi tersebut disambut baik oleh Kepala Desa Marga Mulya, Abu Bakar.

“Warga Kampung Bebulak Sebrang, berterima kasih atas kepeduliannya terhadap kelayakan hidup masyarakat di lingkungan sekitar. Hal ini sangat membantu kami dalam melaksanakan kegiatan kami sehari-hari karena kondisi masyarakat Desa Marga Mulya sangat berkekurangan, khususnya dalam air bersih ini,” ujarnya.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat SGU, Evita H. Legowo, menjelaskan proyek pengadaan air bersih tersebut adalah kunci penting peningkatan taraf hidup masyarakat Desa Marga Mulya.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar semua makhluk hidup. Jika masyarakat Desa Marga Mulya memanfaatkannya untuk minum, mencuci, dan mandi, tentunya akan meningkatkan kesehatan mereka. Dan jika mereka sehat, mereka dapat bekerja dan beraktivitas dengan baik, serta terhindar dari gangguan jasmani akibat buruknya kualitas air.”

Setelah proyek pengadaan air bersih, kata Evita, SGU akan melanjutkan dukungan kepada warga Marga Mulya dengan proyek lain, mulai dari pendidikan, pengajaran mengolah sayuran hidroponik, dan pelatihan dalam hal penjualan dan pemasaran produk.

BERBAGAI DAERAH

Selain di Tangerang, peringatan Hari Air Sedunia dilakukan di Kabupaten Garut, Jawa Barat oleh PT Bank BNI Tbk. (Persero) melalui kegiatan penanaman 1.000 pohon di hulu sungai Cimanuk. Penanaman dilakukan di kawasan Arboretum Legok Pulus, Kecamatan Samarang.

Sementara itu, di Kupang, Balai Wilayah Sungai (BWS) setempat dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merayakannya dengan membersihkan pantai Pasir Panjang dan aksi penanaman pohon di Kecamatan Kota Lama.

“Kami harap partisipasi masyarakat untuk membersihkan pantai Pasir Panjang menjadi bentuk kepedulian mereka terhadap kebersihan lingkungan juga memperingati Hari Air Sedunia ke-XXV,” tutur pelaksana harian BWS Nusa Tenggara II Machabhan Soeparno.

Tak ketinggalan, di Papua, BWS setempat akan menggelar aksi membersihkan kali Remu di Kota Sorong. Apalagi, kondisinya akhir-akhir ini sudah semakin mengeruh akibat banyaknya limbah rumah tangga di bantaran kali.

“Kami ingin kali Remu bisa seperti sungai Brantas di Surabaya, yang dapat dijadikan alternatif warga kota untuk bermain atau berekreasi,” ujar Kepala BWS Papua Elroy Koyari dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, di Maluku Utara, BWS setempat merayakannya dengan menggelar pemutaran film bertema airMy Journey: Mencari Mata Air karya Joko Nugroho, serta pembersihan sungai dan pantai Toboko-Mangga Dua.

“Kami mendukung penuh segala upaya terkait pelestarian sumber daya air, termasuk [kampanye] film ini. Saya berharap kedepannya ada lebih banyak film yang hadir dengan tema-tema lingkungan hidup, terutama tentang air,” kata Kepala BWS Malut Rudy Hartanto.

Di Yogyakarta, perayaan Hari Air Sedunia dilakukan dengan penanaman pohon dan bersih-bersih sungai Opak, Kecamatan Berbah, Sleman oleh Perhimpunan Pecinta Alam DIY. Pohon yang ditanam pun dipilih dari jenis gayam, beringin, asam jawa, dan bambu; yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk konservasi air.

Sekadar catatan, tahun ini PBB menetapkan wastewater (air limbah) sebagai tema peringatan Hari Air Sedunia. Sebab, selama ini 80% air limbah di dunia dialirkan begitu saja ke sungai atau laut tanpa melalui proses pengolahan.

Akibatnya, potensi air yang dapat dimurnikan dari limbah tersebut terlewatkan begitu saja. Padahal, saat ini kecukupan air bersih layak minum di berbagai pelosok bumi masih sangat terbatas. Saat ini hanya 0,3% dari total volume air di dunia yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan umat manusia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hari air se dunia

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top