Upaya Siloam Bersaing dalam Medical Tourism

Banyak negara yang menggunakan kekuatan teknologi dan inovasi di bidang kesehatan untuk menggaet wisatawan asing. Di Asia, negara-negara seperti Thailand, India, Singapura, Malaysia, dan Korea sudah terkenal sebagai destinasi wista kesehatan (medical tourism).
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 18 April 2017  |  16:07 WIB
Upaya Siloam Bersaing dalam Medical Tourism
Ilustrasi - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak negara yang menggunakan kekuatan teknologi dan inovasi di bidang kesehatan untuk menggaet wisatawan asing. Di Asia, negara-negara seperti Thailand, India, Singapura, Malaysia, dan Korea sudah terkenal sebagai destinasi wista kesehatan (medical tourism).

Korea, misalnya sangat terkenal sebagai destinasi operasi medis untuk keperluan estetika atau kecantikan. Demikian halnya dengan Thailand. Sementara itu, Malaysia dan Singapura terkenal sebagai tujuan untuk program bayi tabung, pengobatan infertilitas, dan sebagainya.

Indonesia sebenarnya tidak mau kalah dengan fasilitas kesehatan untuk menggaet konsumen asing. Beberapa rumah sakit di Tanah Air telah mempersiapkan diri untuk menjadi tujuan medical tourism yang mengakomodasi kebutuhan berobat dari warga negara asing.

Salah satunya dilakukan oleh PT Siloam International Hospitals Tbk. Lalu, seperti apa saja fasilitas yang ditawarkan oleh jejaring rumah sakit yang dimiliki oleh grup Lippo itu? Berikut penuturan Sugianganto Budisuharto, Siloam Hospitals Director:

Sejauh ini, apakah semua cabang Siloam sudah menawarkan fasilitas medical tourism?

Kami sudah menyediakan fasilitas medical tourism, tapi baru di Siloam BIMC [Bali International Medical Centre] Nusa Dua Bali. [Cabang] Lainnya belum.

Mengapa di Bali? Karena memang dari dulu, 85% pasien di Siloam Nusa Dua didominasi oleh warga negara asing. Mayoritas pasiennya berasal dari Jepang dan Australia.

Tadinya kami tidak sengaja menjadikan Siloam Nusa Dua sebagai destinasi medical tourism. Namun, di sana kami memang memiliki fasilitas klinik bedah kecantikan, MRI [magnetic resonance imaging], dan pelayanan untuk penyakit-penyakit yang tidak butuh urgensi.

Selain itu, Siloam Nusa Dua juga telah menerima akreditasi rumah sakit internasional dari Australia, sehingga turis-turis dari Australia tidak ragu-ragu lagi kalau mau berobat di rumah sakit kami.

Program/fasilitas apa saja yang ditawarkan untuk  medical tourism?

Sejauh ini yang sudah ada adalah fasilitas untuk wellness seperti spa dan yoga, bedah kecantikan, dan penanganan penyakit-penyakit yang tidak urgen.

Namun, kami sedang menjajaki pelayanan untuk orang tua yang membutuhkan istirahat dengan pendampingan. Namanya adalah fasilitas long term care center.

Pemerintah sudah mempromosikan program medical tourism sejak 2012. Nah, kalau dari Siloam sendiri, bagaimana menyambut program tersebut?

Kami sudah ikut. Pada saat pembahasan soal program medical tourism itu, kebetulan saya yang diutus untuk mewakili Siloam. Kami berkunjung ke Kementerian Pariwisata, dan disarankan untuk membidik kawasan ekonomi khusus [KEK] sebagai areal medical tourism.

 Sayangnya, program pemerintah itu belum matang. Dari segi infrastruktur kami sudah siap. Kami bahkan sudah siap dengan pengadaan fasilitas penunjang seperti mal dan hotel dari Lippo Group. Namun, membangun medical tourism tidak segampang itu.

Sepuluh areal KEK yang disarankan pemerintah itu semuanya belum matang [secara infrastuktur]. Justru, yang paling siap untuk dijadikan destinasi medical tourism itu di Bali, karena turis asing itu maunya kalau berobat di kawasan Kuta atau Nusa Dua.

Kalau dipaksakan membangun medical tourism di areal KEK, yang terdekat dari Bali paling Mandalika. Padahal, Mandalika masih belum memenuhi syarat. Serba repot juga.

Lalu, kami coba ke Kemenko Perekonomian karena urusan KEK ada di bawah mereka. Naumn, lagi-lagi kami disarankan untuk masuk [membuka fasilitas medical tourism] ke KEK.

Sebenarnya, di Kamar Dagang dan Industri [Kadin], masalah medical tourism pun menjadi bahasan kami. Dan, sudah ada inisiatif untuk membangun medical tourism secara bersama-sama, dan tidak hanya bertumpu pada perusahaan rumah sakit swasta.

Sebab, untuk membangun medical tourism dibutuhkan infrastruktur yang matang. Kami siap bekerja sama untuk itu. Bahkan, kami sudah siap menggandeng Martha Tilaar untuk pengadaan spa dan yoga.

Sekali lagi, memang belum ada petunjuk khusus dan mendetail dari pemerintah soal skema medical tourism ini.

Selain di Bali, mana lagi yang prospektif bagi Siloam untuk dikembangkan menjadi medical tourism?

Medical tourism paling tepat di Bali. Magnetnya turis dan pasien asing memang ke sana. Tidak gampang untuk membangunmedical tourism itu.

Kalau kita pakai sudut pandang turis, mereka pasti was-was; ‘Apa benar Indonesia sudah siap dengan segala fasilitasnya? Apa benar rumah sakit di Indonesia lebih baik daripada Jepang dan Australia?’

Selain itu, mereka juga pasti memikirkan, ‘Kalau berobat di Indonesia, bagaimana kalau ternyata penyakitnya membutuhkan perawatan lanjutan. Apakah Indonesia siap? Lalu, kalau terjadi malpraktik, perlakuan hukumnya seperti apa? Lalu, pelayanan unggulannya apa? Masa hanya spa dan yoga.’

Hal-hal seperti itu belum dipikirkan masak-masak oleh pemerintah, sehingga tidak mudah bagi kami untuk membuka fasilitasmedical tourism di luar Bali.

Di Bali, sudah 5 tahun terakhir Siloam Nusa Dua mayoritas pasiennya adalah turis asing. Kami sudah mendapatkan kepercayaan. Di Nusa Dua, turis asing juga hanya percaya pada servis dari Siloam, karena kami satu-satunya rumah sakit berstandar internasional di sana.

Selain dukungan dari pemerintah, menurut Anda, apa lagi yang diperlukan untuk mempromosikan medical tourism di Indonesia?

Berdasarkan studi banding saya terhadap medical tourism di Thailand; di sana mereka menggunakan special bonded zonekhusus untuk mengelola areal medical tourism-nya. Dalam arti, pasien yang berobat hanya boleh dari kalangan turis asing, bukan warga lokal.

Dokternya pun boleh menggunakan dokter asing. Namun, dokter asing yang praktik di sana pun tidak boleh menangani pasien lokal. Dokter asing yang akuntabel diperlukan juga untuk membangun kepercayaan dari pasien.

Nah, ini yang masih menjadi ganjalan bagi pemerintah. Sepertinya pemerintah keberatan dengan hal itu, meskipun tidak diungkapkan secara eksplisit. Pemerintah masih berat mengizinkan dokter asing praktik di dalam negeri. Padahal, tidak harus penuh waktu.

Selain dari segi tenaga medisnya, untuk membangun medical tourism itu dibutuhkan spesialisasi dan spesifikasi. Di Thailand,medical tourism-nya spesifik menangani kecantikan dan ganti kelamin untuk transgender.

Lalu, di India spesifik untuk jantung. Bahkan, RS Apollo dari India sudah menebar agen-agen mereka di Indonesia guna menggaet pasien Indonesia untuk operasi bypass jantung dengan penawaran harga yang paling murah di India.

Nah, Indonesia belum punya keistimewaan atau spesifikasi semacam itu. Kalau mau membangun medical tourism, fasilitas apa yang akan dijadikan unggulan? Kita tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas wellness seperti spa dan yoga saja.

Kalau di Siloam, sebenarnya kami sudah terkenal sebagai tempat terbaik untuk bedah saraf karena kami punya profesor Eka Julianto Wahjoepramono, yang adalah Ketua Asosiasi Bedah Saraf Asia Pasifik. Bahkan, kebanyakan mahasiswanya adalah orang asing.

Dari segi bisnis, bagaimana potensi medical tourism di Indonesia?

Sekali lagi membangun medical tourism itu tidak segampang yang direncanakan pemerintah. Kalau sekadar fasilitas spa saja, Indonesia sudah siap 100%. Namun, dibutuhkan fasilitas medis yang lebih advance dan diakui dunia untuk membangun kepercayaan warga asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
siloam, siloam international hospital

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top