Peperangan di Yaman Membuat Wabah Kolera Mengganas, 300.000 Orang Tewas

WHO berharap, kasus epidemik kolera yang merebak di Yaman dapat dipangkas hingga setengahnya menjadi 218.798 kasus. Dalam dua bulan terakhir, WHO telah menyisir wilayah Yaman untuk melakukan penanganan.
Nindya Aldila | 28 Juni 2017 16:24 WIB
Warga mengangkat tubuh seorang anak laki-laki yang ditemukan dari reruntuhan rumah yang rusak akibat serangan udara pasukan gabungan di bawah komando Arab Saudi di barat laut kota Saada, Yaman (31/8/2016). - Reuters/Naif Rahma

Bisnis.com, JENEWA – WHO berharap, kasus epidemik kolera yang merebak di Yaman dapat dipangkas hingga setengahnya menjadi 218.798 kasus. Dalam dua bulan terakhir, WHO telah menyisir wilayah Yaman untuk melakukan penanganan.

Seperti diketahui, Yaman telah menjadi target empuk dari peperangan yang terjadi antara kubu Saudi dan kelompok pembelot Houthi, Iran. Penyebaran lewat kotoran yang mencemari makanan dan minuman akibat sanitasi yang buruk.

Sebelumnya, WHO memperkirakan jumlah korban jiwa telah mencapai hingga 300.000 kasus dalam enam bulan dengan kecepatan dua kali lebih cepat.

“Kami tidak pernah melihat [penyakit] dengan jumlah setingggi ini. Kami merespons dengan sangat agresif dan kami berharap hasilnya bisa sefera terlihat,” kata Penasihat Senior WHO Yaman Ahmed Zouiten seperti dikutip dari Reuters, Rabu (28/6/2017).

Kendati infrastruktur kesehatan di Yaman banyak yang mengalami kerusakan dan banyak tenaga kesehatan yang belum mendapatkan gaji selama enam bulan terakhir, WHO memberikan insentif kepada dokter, perawat, petugas kebersihan, dan staf kesehatan lainnya yang melyani penyakit kolera.

WHO juga telah menyediakan tambahan 50-60 tempat tidur pada pusat kesehatan yang dijaga oleh 14 tenaga kesehatan. Targetnya, jumlah tempat tidur ini bisa mencapai 5.000 buah.

Namun, menurut Ahmed, tindakan pencegahan menjadi tindakan paling efektif. Hingga saat ini, terdapat 10 tenaga kesehatan yang bertugas untuk mencegah kasus diare menjadi lebih parah. Paling tidak, dibutuhkan sebanyak 2.800 titik kesehatan untuk menghadapi penyakit ini.

Hasilnya mulai terlihat, hampir semua provinsi menunjukkan angka kematian sedikit jiwa hingga tidak ada sama sekali.

Menurutnya, kasus paling parah terjadi di daerah yang dikuasai para pemberontak Houthi, seperti  Amanat al-Asimah, di sekitar ibukota Sanaa, daerah pelabuhan Hodeidah, dan Provinsi Hajjah.

Dalam dua pekan terakhir, angka kasus ini telah turun tajam, terutama dalam seminggu terakhir. Kendati daerah Hajjah melampaui 1.000 kasus baru setiap hari, Ahmed mengatakan bahwa banyak kasus lama yang kembali dihitung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
diare

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top