Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Infeksi Helicobacter Pylori Penyebab dan Mengatasinya

Penyakit Infeksi Helicobacter pylori (H pylori) tetap menarik untuk dibahas khususnya di Indonesia. Saat ini laporan dari berbagai pusat penelitian termasuk juga dari senter-senter pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi infeksi H pylori ini sudah menurun.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 12 September 2017  |  12:11 WIB
Mengenal Infeksi Helicobacter Pylori Penyebab dan Mengatasinya
h-pylori1 - Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit Infeksi Helicobacter pylori (H pylori) tetap menarik untuk dibahas khususnya di Indonesia. Saat ini laporan dari berbagai pusat penelitian termasuk juga dari senter-senter pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi infeksi H pylori ini sudah menurun.

Masih banyak pertanyaan seputar infeksi H pylori di Indonesia, keragamanan budaya dan suku bangsa membuat kejadian infeksi H pylori juga berbeda-beda dari satu daerah ke daerah yang lain. Ini tentu lahan yang manarik untuk diteliti lebih lanjut oleh para peneliti di Indonesia.

Dalam 3 tahun terakhir sejak Januari 2014 sampai tahun 2017, Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia khususnya Kelompok Studi Helicobacter pylori Indonesia (KSHPI) melakukan penelitian di 20 RS Indonesia baik yang mempunyai fasilitas maupun RS yang belum mempunyai fasilitas Endoskopi.

Penelitian ini bekerja sama dengan peneliti Jepang Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Oita, Jepang. Prof Yamaoka sendiri menjadi guru besar di Universitas Houston USA. Penelitian Helicobacter pylori ini juga merupakan bagian dari survey endoskopi yang disupport oleh Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy (APSDE).

Penelitian ini diketuai oleh Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, SpPD-KGEH, FINASIM, FACP dan melibatkan berbagai peneliti gastroenterologi serta pusat-pusat pelayanan kesehatan di berbagai kota di Indonesia. Penelitian ini telah menghasilkan 1 orang PhD dari Universitas Oita Dr.Muhammad Miftasurur SpPD, PhD dari Unair yang secara aktif membantu penelitian multicentre ini. Penelitian ini juga telah menghasilkan beberapa Konsultan Gastroenterologi Hepatologi dan beberapa spesialis penyakit Dalam.

Tujuan penelitian multisenter ini yaitu untuk mengetahui prevalensi, faktor risiko, keragaman genotip, dan pola resistensi Helicobacter pylori di Indonesia serta mempelajari mekanisme molekular patogenesis kuman H pylori ini di Indonesia melalui data genom dan data klinis yang diperoleh. Total responden penelitian yang telah diperoleh mencapai angka 1100 pasien. Selama penelitian berlangsung, peneliti utama Dr.Ari F Syam beserta Prof. Yoshio Yamaoka turut hadir di setiap lokasi penelitian untuk keperluan pengambilan data tersebut.

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat membangkitkan semangat dan antusiasme para sejawat lainnya untuk melakukan penelitian di bidang gastroenterologi di Indonesia. Hasil publikasi penelitian ini diharapkan juga dapat meningkatkan kualitas penelitian Indonesia di mata dunia dan jumlah publikasi ilmiah dalam jurnal ilmiah bereputasi internasional.

Publikasi kedua penelitian Helicobacter pylori pada salah satu jurnal ternama kedokteran Plos One pada edisi 23 November 2015 melaporkan tentang angka kejadian dan risiko terjadi infeksi H pylori.

Penelitian tentang infeksi Helicobacter pylori ini merupakan update terbaru mengenai angka kejadian infeksi Helicobacter di Indonesia yang meliputi 5 pulau besar di Indonesia. Laporan kedua ini meliputi 267 pasien awal yang kami recruit yaitu pasien dengan sakit maag atau dispepsia.

Penelitian berlangsung selama 1 tahun sejak Januari 2014 sampai dengan Februari 2015. Pasien terdiri dari 143 wanita dan 124 laki-laki, umur rata-rata pasien 47,5 +/- 14,6 tahun dengan pasien termuda 17 tahun dan paling tua 80 tahun. Penelitian ini dilakukan di Medan, Jakarta, Surabaya, Makasar, Pontianak dan Papua. Semua pasien dilakukan endoskopi dan dilakukan biopsi untuk diperiksa adanya kuman pada pasien tersebut.

Pemeriksaan biopsi meliputi pemeriksaan langsung adanya kuman, pemeriksaan histopatologi untuk melihat secara langsung adanya kuman serta pemeriksaan kultur kuman. Dari 267 pasien tersebut 70 bersuku Batak, 54 etnik Tionghoa, 42 suku Jawa, 30 suku Bugis, 40 suku Dayak, 21 suku Papua, 3 Madura, 2 Aceh, 2 sunda, 1 suku Banjar, 1 Bali dan 1 Ambon.

Dari hasil penelitian kami mendapatkan prevalensi dari kuman H pylori di Indonesia hanya 22,1 %. Walau bagaimana angka ini menunjukan bahwa 1 dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) mengalami infeksi H pylori. Suku bangsa dan sumber air minum menjadi faktor risiko terjadi infeksi kuman H pylori. Oleh karena ini kita tetap harus mewaspadai bahwa kuman ini ada diseputar kita. Mengingat dampak klinis yang terjadi akibat infeksi ini begitu luas dari hanya dispepsia fungsional, gastritis kronis, ulkus peptikum, bahkan penyakit ini bisa menyebabkan terjadinya kanker lambung.

Pada penelitian multicentre ini kami juga ingin mengetahui apa metode yang dapat digunakan secara luas untuk mendeteksi adanya infeksi H pylori. Kami melakukan validasi pemeriksaan urin (Rapirun), untuk mendeteksi infeksi H pylori. Untuk pemeriksaan ini kami mengambil sampel dari 3 senter yaitu Jakarta, Pontianak dan Jayapura). Pemeriksaan test urine untuk H pylori ini dibandingkan dengan pemeriksaan baku emas untuk mendeteksi H pylori yaitu histopatologi, imunohistokimia serta kultur.

Dari hasil penelitian ini didapat sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan test urin ini adalah 83,3% dan 94,7%. Hasil ini menunjukkan bahwa pemeriksaan urine secara langsung untuk mendeteksi kuman H pylori dapat digunakan di Indonesia dan dikembangkan lebih lanjut.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Penyakit infeksi Helicobacter pylori telah mengantarkan penemunya Prof Barry Marshall dan Dr. Robin Warren mendapat hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2005. Penemuan kuman ini telah mengubah cara tatalaksana pasien dengan gastritis atau ulkus peptikum yang sebelumnya hanya diberikan obat anti asam tetapi saat ini juga harus diobati dengan antibiotik jika ditemukan pula kuman sebagai penyebab terjadinya ulkus peptikum.

Jadi, jika ditemukan lesi di gastroduodenum kemudian ditemukan pula kuman H. pylori maka harus dilakukan eradikasi (pemberatasan kuman) yaitu dengan memberikan kombinasi 2 buah antibiotik dikombinasi dengan pemberian penghambat pompa proton dosis ganda. Dengan melakukan eradikasi kuman tersebut kita telah memutus kelanjutan perjalanan infeksi ini sebagai penyebab terjadinya kanker lambung di masa datang. Oleh karena itu diagnosis yang tepat harus ditegakkan dalam kita memberikan pengobatan infeksi Hpylori.

Diagnosis infeksi H pylori dapat ditegakkan dengan metode invasif atau non invasif. Pemeriksaan non invasif melalui pemeriksaan Urea Breath Test (UBT), serologi darah, urin test, H pylori stool antigen. Pemeriksaan invasif meliputi pemeriksaan rapid urease test, histologi, kultur dan PCR. Sejauh ini berbagai modalitas untuk diagnosis infeksi H pylori telah kami coba lakukan penelitian di Indonesia ini.

Sampai sejauh ini pemeriksaan invasif untuk mendeteksi H. pylori masih menjadi pilihan terutama pada kasus dispepsia dengan adanya tanda alarm seperti riwayat hematemeses melena, berat badan turun, adanya anemia yang tidak diketahui sebabnya dan pasien dengan dispepsia pada umur >45 tahun. Pemeriksaan endoskopi tentu untuk mengevaluasi penyebab dari dispepsia dengan tanda alarm dan dilanjutkan dengan biopsi untuk mendeteksi adanya kuman H. pylori baik secara histopatologi maupun dengan cara pemeriksaan rapid urease test dari jaringan biopsi tersebut.

Selain itu jaringan biopsi juga digunakan untuk mendeteksi adanya kuman H. pylori secara kultur. Yang menarik dari penelitian yang kami lakukan bahwa kami mendapatkan sekitar 10% dengan ulkus peptikum, 15,5% dengan esofagitis dan 1 kasus dengan kanker lambung pada pasien yang mengeluh dispepsia. Oleh karena itu tetap bahwa endoskopi menjadi pilihan pertama pada kasus-kasus dispepsia dengan adanya tanda alarm untuk mengevaluasi adanya kelainan organik sebagai penyebab dari sindrom dispepsia tersebut.

Tatalaksana infeksi H. pylori adalah jelas dengan mengeradikasi kuman tersebut. Seperti telah disebutkan di awal yang menarik bahwa kuman ini membutuhkan minimal 2 jenis antibiotik dan satu jenis penghambat pompa proton. Hal tersebut didasarkan pada bukti klinis bahwa eradikasi dari kuman tercapai jika diberikan 2 macam antibiotik sekaligus.
Dalam tata laksana ini dikenal 2 macam rejimen terapi yaitu terapi lini pertama atau disebut terapi tripel dengan menggunakan 2 macam antibotik dan terapi lini kedua atau terapi kuadripel dengan menggunakan 3 macam antibiotik. Penelitian kami mengenai eradikasi H. pylori yang telah dipublikasi di Medical Journal Indonesia bahwa eradikasi dengan menggunakan antribiotik Amoksilin 1000 g/Klari-tromisin 500 mg/Rabeprazole 20 mg 2 kali /hari selama 2 minggu masih mencapai angka eradikasi di atas 90%.

Sesuai anjuran pakar eradikasi dunia Prof. Graham yang dipublikasi pada Gut (2010) menyampaikan bahwa eradikasi kuman H. pylori harus mencapai >90-95% dan mengenai jenis rejimen yang digunakan tentu disesuaikan dengan bukti klinis yang ada di pusat penelitian yang ada di tingkat lokal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asam lambung
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top