Sejumlah Seniman Indonesia Berpartisipasi di Beijing International Art Bienalle (BIAB) 2017

ICAA (Indonesia-China Art Association) yang didirikan oleh Yince Djuwija, berhasil mendapatkan suatu kehormatan membawa seniman Indonesia dengan fasilitas ruang khusus atau bisa disebut dengan paviliun Indonesia pada Beijing International Art Bienalle (BIAB) ke-7, pada 24 September- 15 Oktober 2017 untuk kategori Special Exhibitions.
Dika Irawan | 21 September 2017 15:46 WIB
Ilustrasi-Pameran seni rupa - Antara

Bisnis.com, Jakarta -- ICAA (Indonesia-China Art Association) yang didirikan oleh Yince Djuwija, berhasil mendapatkan suatu kehormatan membawa seniman Indonesia dengan fasilitas ruang khusus atau bisa disebut dengan paviliun Indonesia pada Beijing International Art Bienalle (BIAB) ke-7, pada 24 September- 15 Oktober 2017 untuk kategori Special Exhibitions.

BIAB diselenggarakan setiap dua tahun sekali, berlokasi di National Art Museum of China, Beijing.

Tema pada Bienalle tahun ini adalah The Silk Road and The Worlds Civilization. Dikuratori oleh Kus Indarto, seniman yang berhasil terpilih melalui seleksi ketat dari panitia pameran bergengsi internasional ini; Camelia Mitasari Hasibuan (Memory of the Silk Road), Chusin Setiadikara (Traceback), I Putu Edy Asmara (Exchange), Erizal As (Rabab Minang), Gatot Indrajati (Flying Ryukin), Ivan Sagita (Everybody has Silk Road, Januri (Many Roads Lead to Beijing dan Hard Work), Johan Abi Tobing (Three Women in Javanese Costume ,Catwalk 1,dan Dancing Girl). Seniman lainnya adalah; Joni Ramlan Wiono (Two Harmonious Culture, Golden Moment dan Village of Two Cultures), Made Gede Paramahita (Hope for the World dan Where is the Way), I Made Wianta (Black and White Eagles dan Golden Poems), Mangu Putra (Small Flowers in the Jungle), Nasirun (Mark), Nyoman Nuarta (Legenda Borobudur III), Franciscus Sigit Santoso (Year of Rooster), Ugy Sugiarto (The Meaning of Friendship dan The Power of Love), serta Yince Djuwidja (Unity in Diversity Bhinneka Tunggal Ika).

Dalam catatan kuratorial, kurator pameran menjelaskan bahwa hampir sebagian besar karya seniman Indonesia yang dihadirkan dalam BIAB di Paviliun Indonesia adalah karya yang mencoba melakukan pembacaan ulang (re-reading) atas tema Silk Road yang kemudian dikontekstualisasikan kembali (re-contextualization) ke dalam persoalan yang berkaitan dengan kondisi dan kultur Indonesia, atau yang berkaitan dengan ketertarikan dan pemahaman personal masing-masing seniman.

Dari sinilah maka muncul karya-karya para seniman yang secara visual memberikan tafsir atau pembacaan atas tema Silk Road dengan berbagai variasi tafsirannya. Tafsir, atau pembacaan visual atas tema Silk Road ini, saya kira, bisa beragam, dan keberagaman tersebut justru akan memberikan pengayaan atas tema tersebut.

Sik Road dalam konteks pemahaman seniman Indonesia yang sejarah kebudayaannya berbeda, tentu akan memiliki titik diferensiasi dengan pemahaman seniman dari China sendiri, atau dari kawasan/negara lain yang masih satu benua, atau apalagi bila dibandingkan dengan seniman dari lain benua.

Yince Djuwija, pendiri ICAA merasa senang dan bangga ikut dilibatkan untuk mengawal proses ini, mulai dari upaya mediasi, lobi hingga pada eksekusi pengiriman karya serta pengoordinasian para seniman untuk berangkat dari Indonesia menuju ke Beijing, Cina.

"Sungguh, ini sebuah kerja yang tidak mudah, kompleks, dinamis, namun sangat menyenangkan karena membawa pengalaman baru secara organisasional bagi lembaga seperti ICAA. Ini merupakan pengalaman yang sangat berharga karena sesuai dengan visi dan misi ICAA yang antara lain melakukan program pertukaran seniman antara Indonesia dan China," ujarnya dalam siaran pers, Rabu(20/9/2017).

Partisipasi pada Beijing International Art Bienalle ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, juga dari China Artists Association (CAA). Dukungan lainnya didapat dari United in Diversity, Agility Freight Forwarder dan Sampoerna Foundation.

Tag : museum
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top