Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HARI PENGLIHATAN SEDUNIA: Kebutaan Ancam Penduduk Dunia

Peringatan Hari Penglihatan Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Tahun ini peringatan Hari Penglihatan Sedunia jatuh pada 12 Oktober 2017.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 13 Oktober 2017  |  16:54 WIB
 Katarak penyebab utama kebutaan di Indonesia - Antara
Katarak penyebab utama kebutaan di Indonesia - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Memperingati Hari Penglihatan Sedunia, Organisasi Kesehatan Dunia mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap gangguan penglihatan yang terjadi, baik dari usia muda hingga tua.

Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati setiap tahun pada hari kamis, pekan kedua Oktober. Peringatan Hari Penglihatan Sedunia itu dimulai sejak 1998 oleh Lions Club International yang kemudian diintegrasi menjadi VISION 2020 di bawah koordinasi World Health Organization (WHO) dan International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB).

Peringatan Hari Penglihatan Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Tahun ini peringatan Hari Penglihatan Sedunia jatuh pada 12 Oktober 2017.

Pada peringatan tahun ini, IAPB mengambil tema Make Vision Count dan tema nasional Mata Sehat, Investasi Bangsa untuk menyebarluaskan informasi kepada seluruh masyarakat di dunia.

Harapannya, informasi ini memberikan perhatian dan mendukung penanggulangan masalah gangguan penglihatan dan kebutaan demi terwujudnya visi 2020, yakni hak setiap orang untuk dapat melihat.

Menurut data WHO, 4,25% atau 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dengan rincian 14% (39 juta jiwa) mengalami kebutaan, dan 86% (246 juta) mengalami low vision atau kurang awas pada 2012.

Adapun di Indonesia, terdapat sekitar 3,5 juta orang mengalami kebutaan pada kedua belah mata di mana 50%-nya atau sekitar 1,5 juta orang mengalami kebutaan akibat katarak.

Kebanyakan dari mereka yang mengalami katarak di Indonesia berusia minimal 45 tahun, sedangkan di luar negeri pada usia 60 tahun.

Spesialis Mata Rumah Sakit Royal Progress Sunter Christina Yuliana mengatakan, pada anak-anak penggunaan kacamata juga perlu menjadi perhatian. Menurut dia, nilai yang jelek bukan berarti anak tidak pintar, tetapi bisa saja karena ada gangguan penglihatan.

"Gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata sekecil apa pun sebaiknya jangan diabaikan, segera periksakan mata apabila dirasakan ada gangguan penglihatan atau gangguan kesehatan mata ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat," katanya, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (13/10/2017).

Data WHO menyebutkan bahwa pada 2006, sekitar 13 juta dari 153 penderita refraksi adalah anak-anak berusia 5-15 tahun dan sebagai orangtua sebaiknya memperhatikan kebutuhan anak . 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buta Gangguan Penglihatan
Editor : Nurbaiti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top