Anglia G Auwines, Kisahnya di Balik Food Truck

Restoran food truck yang menjamur belakangan ini memiliki daya tarik tersendiri karena memanfaatkan mobil sebagai tempat berjualan. Namun, bukan pekerjaan mudah membangun restoran berjalan ini lantaran harus memodifikasi mobil agar bisa digunakan untuk dapur.
Dika Irawan | 21 November 2017 17:12 WIB
Jakarta Food Truck - Pakaroti.com

Bisnis.com, JAKARTA - Meskipun restoran food truck yang menjamur belakangan ini memiliki daya tarik tersendiri karena memanfaatkan mobil sebagai tempat berjualan,. ternyata, bukan pekerjaan mudah. Setidaknya, membangun restoran berjalan ini,  harus memodifikasi mobil agar bisa digunakan untuk dapur.

Anglia G Auwines pemilik Jakarta Food Truck,  harus memutar otak untuk mendesain mobil biasa hingga  menjadi food truck. Dengan bekal ilmu chef yang dimilikinya, Anglia berhasil menyulap mobilnya menjadi food truck. Hingga kini, food truck nya tetap eksis melayani para penggemarnya di Ibu Kota.

Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Anglia lewat sambungan telepon:

Bagaimana ide awal mendirikan restoran dari daur ulang alat transportasi? Apa yang menginspirasi? Apa pula tujuannya?

Jadi memang konsep awalnya restoran berjalan pada 2013. Sebab pada saat itu sewa lokasi mahal. Jadi saya yang  ketika itu baru selesai sekolah profesional chef mau buat restoran. Di luar negeri konsep food truck sudah jadi tren. Itulah yang menginspirasi saya. Namun, konsep food truck saya lebih karena ingin menghadirkan kaki lima yang bersih dan punya sendiri.

Bagaimana mendapatkan alat transportasinya? Dimana membelinya?

Untuk mobil beli baru, Isuzu. Bagian kitchen kami rancang sendiri. Jadi memang pada saat itu ada trial dan error. Belum ada mobil yang dirancang untuk food truck. Kebetulan saya juga kerja di hotel sehingga memahami instalasi untuk kitchen. Kami bicara dengan bagian enginering dari pihak karoseri untuk mendesain mobil ini. Kami food truck pertama. Food truck dalam arti sebenarnya yaitu ada profesional kitchen-nya. Ada saluran gas, pembuangan air, dan jenset.

Berapa biayanya/investasinya?

Sekitar Rp500 jutaan pada saat itu untuk membuat food truck.

Siapa segmen yang diincar?

Kalangan muda, dari anak sekolah hingga keluarga muda. Namun, belakangan banyak orang kantoran yang muda juga tertarik makan di food truck. Rata-rata di bawah usia 40 tahun.

Bagaimana animonya?

Saat ini sudah banyak food truck baru bermunculan. Puncaknya pada 2014. Namun, animo pengunjung hingga kini cukup banyak karena kami perhatikan kualitas interior dan eksterior. Tiap tahun kami perbaharui untuk menarik pengunjung.

Apa ada konsep khusus untuk menu-menu yang disajikan?

Kami keluarkan 15 macam menu makanan. Kami sesuaikan dengan selera masyarakat. Ada lokal dan western.

Bagaimana bersaing dengan restoran-restoran konvensional?

Kami sih tidak bersaing secara langsung dengan mereka, karena kami memiliki konsep sendiri. Kami biasa hadir di acara-acara outdoor, dimana restoran konvensional tidak bisa menjangkaunya.

Bagaimana mendapatkan perizinan untuk daur ulang alat transportasinya? Juga untuk menjalankan bisnis kafe/restoran berjalan (khusus untuk kafe/resto bus)?

Kalau perizinan dari Dinas Perhubungan yaitu izin KIR. Bila kami berada di lokasi lain ya disesuaikan dengan izin di sana.

Bagaimana prospek bisnis ini ke depannya? Inovasi apa yang dibuat untuk mempertahankan pelanggan?

Masih menjanjikan, kami saat ini baru ada di Jakarta. Namun banyak permintaan di daerah. Kemungkinan kami akan bermitra dengan pihak-pihak terkait di daerah.

Bagaimana dengan aspek keselamatan kepada pelanggan jika konsumen menikmati makanan di dalam moda transportasi tersebut?

Kami ada prosedur keselamatannya. Kami lakukan pengecetan berkala, pengecekan instalasi, gas, dan listrik. Bila ada yang rusak langsung diganti. Sebenarnya sama seperti restoran pada umumnya.

Tag : food truck
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top