#HoaxKesehatan, Kemenkes Ultimatum Distributor Kangen Water Lakukan Pemeriksaan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan surat untuk distributor alat purifikasi air Kangen Water (KW) yang menyatakan bahwa produk tersebut belum termasuk alat kesehatan karena tidak ada bukti ilmiah.
Nancy Junita | 27 November 2017 12:30 WIB
Kementerian Kesehatan - kemenkes.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan surat untuk distributor alat purifikasi air Kangen Water (KW) yang menyatakan bahwa produk tersebut belum termasuk alat kesehatan karena tidak ada bukti ilmiah.

Penegasan itu disampaikan Kemenkes melalui akun Twitter @KemenkesRI pada Senin (27/11/2017) dengan tagar #HoaxKesehatan. Lewat akun itu, Kemenkes menghimbau PT Enagic Indonesia (PT EI)  selaku produsen Kangen Water menindaklanjuti hasil pemeriksaan dalam waktu 7 hari.

Kemenkes sendiri telah melakukan pemeriksaan produk mesin purifikasi air itu pada 10 November 2017. Kemenkes menegaskan bahwa alat purifikasi air itu adalah alat pembersih air, dan tidak memerlukan izin sebelum beredar karena bukan merupakan alat kesehatan, oleh karena itu akat tersebut boleh beredar bebas.

Sebelumnya, Kemenkes memerintahkan PT Enagic Indonesia, produsen kangen water, untuk menarik brosur yang terkait informasi mengenai produk mesin kangen water yang diklaim sebagai alat kesehatan dan telah diakui negara.

Kangen water adalah air minum yang memiliki pH 9,5 atau bersifat basa (air alkali) yang diproduksi menggunakan mesin khusus. Kangen Water dipercaya bisa bermanfaat untuk kesehatan.

Konsultan gastroenterohepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam mengatakan, secara umum, air pasti bermanfaat untuk tubuh. Namun, klaim air alkali yang bisa mengobati penyakit dinilainya terlalu berlebihan.

Ari menjelaskan di dalam lambung ada keseimbangan antara faktor agresif dan defensif. pH lambung manusia sekitar 1-2. Kalaupun seseorang minum air alkali, nantinya air tersebut akan menjadi netral di dalam tubuh. Bahkan, jika pH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah malah bisa merusak.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemenkes

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top