Potensi Pasar Seni Rupa : Karya Maestro Masih Jadi Pilihan

Pasar karya seni global tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2017. Setelah 2 tahun menghadapi penurunan tajam, pada 2017 pasar seni global mulai bangkit.
Ilman A. Sudarwan | 19 Februari 2018 01:01 WIB
Lukisan berjudul Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci - christies.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar karua seni global tengah mengalami pertumbuhan yang signifikan sepanjang 2017. Setelah 2 tahun menghadapi penurunan tajam, pada 2017 pasar seni global mulai bangkit. Jumlah penjualan di rumah-rumah lelang seperti Christie kembali moncer.

Dalam pasar seni rupa dalam negeri kurator Mikke Susanto mengatakan, kondisi pasar saat ini masih didominasi segmen karya-karya para maestro seni rupa seperti Sudjojono, Hendra Gunawan, ataupun Affandi.

Para kolektor selama ini umumnya masih mengoleksi karya seni dari kaca mata investasi, sehingga acuannya adalah seberapa keuntungan yang akan didapatkan ketika dijual kembali. Karya-karya para maestro menjadi menarik karena dipercayai harganya akan terus naik.

“Kepercayaan para kolektor kepada seni lukis maestro itu masih dominan ketimbang karya mereka yang masih hidup dan masih muda. Karena mereka memang mencari karya yang harganya tidak akan turun.”

Sementara di kancah global, sebenarnya karya seni cetakan tengah naik daun dalam beberapa tahun ke belakang.

Dikutip dari Bloomberg, pada Juni 2017 Heritage Auctions di Amerika Serikat memutuskan untuk meningkatkan jumlah pelelangan karya seni cetakan mereka. Dari yang tadinya hanya dilaksakanan empat kali dalam satu tahun, menjadi sebulan sekali.

Selain itu, faktor lain seperti kehadiran karya-karya cetakan dari seniman street art ternama seperti BANKSY atau KAWS yang juga mulai memproduksi karya cetakan sedikitnya telah menyuntikkan semangat baru dalam pasar ini.

Namun, kurator Amir Sidharta menyatakan, karya seni cetakan memang belum mendominasi pasar secara luas, hanya dalam fragmen tertentu saja. Para kolektor pendatang baru menjadikan karya ini sebagai alternatif kepemilikan karya seni.

“Kolektor baru ini mengoleksi karena dia suka koleksi karyanya. Saat kemampuan mereka hanya di bawah Rp1-2 juta, ya tidak masalah. Artinya, perupa muda juga jadinya ada yang dukung. Artinya seni lebih merakyat sekarang, di berbagai aspek kehidupan muncul seni, orang tidak terintimadasi dengan harga lagi,” jelasnya.

Direktur cetakan dan multiples rumah lelang Bonhams Deborah Ripley mengatakan investasi dalam karya seni ini juga masih berisiko terlalu tinggi. Saat ekonomi sedang lesu, penjualan karya seni yang paling akan terkena dampaknya adalah karya seni cetakan

“Ketika pasar memang sedang turun, pasar karya dengan harga rendah adalah yang akan terkena dampak paling keras. Saat karya di tingkat atas akan selalu mendapat pembeli asalkan harganya cocok, karya ini tidak akan menemukan pembeli,” ujar Ripley.

Tag : seni, seni rupa
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top