Di Balik Kontroversi Airbnb

Saat ini minat berpelesir dari warga dunia kian membuncah. Traveling menjadi seolah bertransformasi nyaris menjadi kebutuhan primer. Seiring dengan tren itu, berbagai aplikasi penunjang wisata perjalanan pun menjamur.
Wike Dita Herlinda | 18 Maret 2018 19:35 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Judul              : Kisah Sukses Airbnb

Penulis            : Leigh Gallagher

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 296 halaman

Cetakan          : Pertama, Februari 2018

ISBN-13         : 978-602-038-183-1

Saat ini minat berpelesir dari warga dunia kian membuncah. Traveling menjadi seolah bertransformasi nyaris menjadi kebutuhan primer. Seiring dengan tren itu, berbagai aplikasi penunjang wisata perjalanan pun menjamur.

Dari sekian banyak aplikasi, salah satu yang paling banyak dicari dan dikenali para pelancong dunia adalah Airbnb. Meskipun baru didirikan pada 2008, perusahaan ini melejit dan langsung populer karena berbagai fitur yang diusungnya.

Melalui fitur Airbnb, para penggemar traveling dimudahkan mencari akomodasi sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Tidak hanya itu, perusahaan tersebut menawarkan berbagai rekomendasi petualangan dan penjelajahan untuk memperkaya pengalaman para pencinta pelesir.

Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa perusahaan yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat itu bermula dari sebuah usaha kecil yang dirintis oleh trio Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharczyk.

Ketiga lelaki tersebut sukses men-disrupsi sebuah industri berbasis pariwisata untuk menghasilkan cuan bernilai miliaran dolar, sekaligus menciptakan banyak kontroversi. Bahkan, pola bisnis Airbnb banyak ditiru oleh perusahaan aplikasi pariwisata di Indonesia.

Keunikan cerita di belakang layar Airbnb itu dicurahkan ke dalam buku bertajuk Kisah Sukses Airbnb yang ditulis oleh editor majalah Fortune, Leigh Gallagher. Buku setebal 296 halaman ini mengungkapkan cerita luar biasa di balik pembentukan perusahaan online lodging platform tersebut.

Buku ini menarasikan bagaimana trio tersebut sukses menyulap usaha rintisan mereka menjadi perusahaan penyedia akomodasi nomor satu di dunia hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Airbnb, menurut tulisan Gallagher, berhasil men-disrupsi bisnis hotel yang bernilai lebih dari US$500 juta. Saat ini, valuasi perusahaan Airbnb mencapai lebih dari US$30 miliar, melampaui valuasi bisnis jaringan Hotel Hilton dan hampir menyaingi rantai Hotel Marriott.

“Airbnb begitu dicintai oleh jutaan anggotanya dalam wadah yang disebuh komunitas ‘host’ serta para traveler di seluruh penjuru dunia. Kisah sukses mereka ditempuh dengan cara yang tidak diduga-duga, yang kerap disebut sebagai ‘Fenomena Airbnb’,” paparnya.  

Selain mengulas kisah sukses Airbnb, buku ini menguliti berbagai sisi kontroversial dari perusahaan tersebut. Mulai dari upaya pemerintah yang ingin mengerem pertumbuhan Airbnb yang kelewat masif, hingga penolakan dari para pebisnis hotel yang belum siap menghadapi disrupsi.

Kontroversi lainnya rupanya datang juga dari para pemilik kamar atau rumah sewaan yang belum siap dengan konsekuensi yang harus mereka hadapi saat memasang penawaran di aplikasi Airbnb. Banyak dari mereka yang ternyata belum siap wilayah privatnya mendadak jadi ruang publik.

Buku ini adalah ulasan mendalam pertama soal sang CEO Airbnb, Brian Chesky. Di dalamnya, Gallagher mengupas bagaimana pemuda ambisius tersebut membawa perusahaannya ke dalam persaingan pasar yang tidak terduga.

Secara garis besar, buku ini cocok dinikmati para pemerhati perusahaan digital kekinian yang ingin belajar dari cara para CEO muda dalam membina sebuah sistem wirausaha yang berani. Selain itu, pembaca bisa mengetahui lebih banyak soal disrupsi industri besar pada zaman sekarang.

Tag : resensi buku
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top