Kisah Inspiratif Panglima TNI

Panglima Tentara Nasional Indonesia atau TNI adalah salah satu jabatan paling prestisius di Indonesia. Di dunia militer, bisa dibilang ini adalah sebuah pencapaian tertinggi yang melegitimasi prestasi seorang tentara di dalam kariernya.
Wike Dita Herlinda | 23 Maret 2018 21:47 WIB
Ilustrasi - jibi

Judul              : Anak Sersan Jadi Panglima

Penulis            : Eddy Suprapto

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Tebal              : 216 halaman

Cetakan          : Pertama, Februari 2018

ISBN-11         : 602-038-096-3,

ISBN-13         : 978-602-038-096-4

 

Panglima Tentara Nasional Indonesia atau TNI adalah salah satu jabatan paling prestisius di Indonesia. Di dunia militer, bisa dibilang ini adalah sebuah pencapaian tertinggi yang melegitimasi prestasi seorang tentara di dalam kariernya.

Dalam sejarahnya, seringkali jabatan tersebut diduduki oleh petinggi di Angkatan Darat (AD). Sangat jarang posisi tersebut diduduki oleh seseorang yang meniti kariernya dari Angkatan Udara (AU). Dari 17 orang yang pernah menjadi Panglima TNI, sebanyak 13 di antaranya berasal dari AD.

Baru sekali posisi tersebut diduduki oleh AU, yaitu oleh Marsekal TNI Djoko Suyanto pada 28 Desember 2007. Namun, mitos bahwa Panglima TNI hanya bisa dijabat oleh anggota AD kembali termentahkan saat Marsekal TNI Hadi Tjahjanto naik ke posisi tersebut pada 8 Desember 2017.

Hal itu menjadikan Hadi sebagai sosok yang mencuri perhatian. Apalagi, ternyata kisah hidupnya juga dipenuhi oleh perjuangan inspiratif yang bisa memotivasi orang lain untuk terus berjuang memberikan yang terbaik.

Kisah inspiratif itulah yang dituangkan oleh penulis Eddy Suprapto dalam buku biografi Hadi yang bertajuk Anak Sersan Jadi Panglima. Buku ini merupakan untaian kisah hidup Hadi yang terangkai dari pertemanan Eddy dan Hadi sejak SMA.

Di dalam jilidan setebal 216 halaman itu diceritaakan bagaimana sebenarnya sosok seorang Hadi berdasarkan cerita dari teman-teman lamanya, serta ragam kenangan dari orang tua dan saudaranya. Narasi yang dipaparkan terangkum secara hangat dan mudah mengena pada pembaca.

Eddy mengungkapkan bahwa pada awalnya Hadi sempat menolak kisah hidupnya dituangkan ke dalam sebuah buku biografi. Namun, dia berusaha meyakinkan temannya itu agar lebih banyak lagi orang yang termotivasi dan terinspirasi dari catatan perjalanan Sang Panglima.

Perjuangan hidup Hadi tercermin dari pemilihan judul di setiap bab dalam buku ini. Dimulai dari Cerita Anak Kolong, Kawah Candradimuka, Batu Pijakan, Dipandang Sebelah Mata, Mimpi yang Menjadi Kenyataan, hingga Sang Panglima.

Masing-masing bab melantunkan sebuah pelajaran tentang semangat hidup pantang menyerah Hadi, lengkap dengan sisi lain dari pejabat TNI itu dari sudut pandang orang-orang terdekatnya.

 "Meskipun jauh dari sempurna, kesungguhan hati saya [ingin] mencoba merangkum [kisah hidup Hadi]. Waktu dan narasumber yang terbatas tidak menjadi batasan bagi saya untuk menghadirkan buku ini," tutur Eddy.

Eddy menceritakan bagaimana Hadi terlahir dari keluarga Sersan Mayor TNI AU Bambang Sudarto dan perempuan asli Singosari Nur Saa'dah. Hidup sebagai lima bersaudara, Hadi berhasil merampungkan pendidikannya dan menjadi seorang penerbang.

Perjuangan Hadi untuk bisa tetap sekolah dan membantu ayahnya yang hanya seorang mekanis pesawat bergaji pas-pasan dinilai Eddy sebagai insiprasi luar biasa. Tidak ada yang menyangka anak sersan yang pernah menjadi caddy dan pembuat donat itu bisa menjadi panglima.

Masa kecilnya yang sulit juga menjadi motivasi untuk mengubah nasib. Bahkan, Ibu Hadi pernah menjual jatah sepatu suaminya hanya agar bisa membeli segenggam beras untuk dimakan bersama keluarganya.

Buku ini juga mengulas prinsip hidup Hadi yang merancang cita-citanya menjadi pilot sejak dini. Dia terus mendisiplinkan diri untuk mencapai cita-citanya itu dengan mempersiapkan tes jasmani untuk masuk Akabri.

Buku ini juga mengungkap kehidupan personal Hadi, termasuk bagaimana dia bertemu dengan Nanik Istumawati yang kini menjadi istrinya. Saat berjumpa, Nanik yang anak seorang polisi itu masih duduk di bangku SMP.

Pada awalnya, karena masih terlalu muda, kisah asmara mereka sempat ditentang oleh orang tua Nanik. Perjuangan Hadi untuk memenangkan gadis pujaannya dan merawat kisah cintanya sampai sekarang juga menjadi salah satu kisah inspiratif yang menarik dibaca di buku ini.   

Kisah lainnya adalah bagaimana Hadi dipandang sebelah mata dan kerap diremehkan saat menempuh pendidikan penerbangan di Prancis. Gosip miring pun sempat beredar, tetapi dia memilih untuk fokus pada berbagai kesempatan demi menggapai cita-citanya.

Ini adalah salah satu buku yang sarat inspirasi bagi pembaca. Tidak semua prestasi atau jabatan yang terlihat 'wah' datang dari langit dalam sekejap. Pembaca harus mengetahui bahwa setiap pencapaian dilalui dengan penuh perjuangan, sebagaimana dialami oleh Hadi Tjahjanto.

Tag : panglima tni
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top