Cara Mengatur Pemakaian Gadget di Tengah Keluarga

Banyak memang manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan gawai untuk menunjang aktivitas pekerjaan serta kegiatan lain seperti berkomunikasi, mendapakan informasi dan pengetahuan, bersosialisasi dan sebagainya. Namun, banyak pula dampak negatif bila kita tidak memerhatikan penggunaannya secara proporsional.
Yoseph Pencawan | 15 April 2018 12:21 WIB
Anak-anak bermain gadget - Istimewa

Dalam banyak penelitian terdapat kesimpulan bahwa penggunaan gawai atau gadget dapat menimbulkan pengaruh terhadap perilaku manusia sehari-hari, baik secara individu maupun dalam berkelompok, termasuk di tengah keluarga.

Banyak memang manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan gawai untuk menunjang aktivitas pekerjaan serta kegiatan lain seperti berkomunikasi, mendapakan informasi dan pengetahuan, bersosialisasi dan sebagainya. Namun, banyak pula dampak negatif bila kita tidak memerhatikan penggunaannya secara proporsional.

Seperti yang dipublikasikan Kaspersky Lab baru-baru ini berdasarkan hasil studi terbarunya. Studi ini menunjukkan bahwa sebanyak 55% orang berdebat dengan pasangan mereka karena terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk perangkat.

Persentase lebih tinggi ditunjukkan oleh pasangan yang tinggal bersama, sedangkan pasangan yang hidup terpisah hanya 49%. “Ini menunjukkan orang-orang tidak suka merasa diabaikan dan ingin perhatian pasangannya tertuju pada mereka ketika mereka bersama,” kata VP untuk Product Marketing Kaspersky Lab Dmitry Aleshin.

Sebanyak 55% pasangan dalam survei itu mengungkapkan penggunaan perangkat digital yang berlebihan. Mereka menyoroti penggunaan perangkat digital yang meskipun dapat membantu pasangan untuk lebih dekat, juga bisa menciptakan jarak di antara mereka dan berpotensi membahayakan hubungan.

Sebanyak 62% pasangan memag setuju berkomunikasi melalui perangkat digital dan internet membantu mereka merasa lebih dekat dengan pasangan mereka. Namun, penelitian ini menemukan penggunaan perangkat juga dapat menyebabkan argumen antara pasangan tentang berbagai masalah yang terkait dengan perangkat.

Sebanyak 51% pasangan menyinggung tentang penggunaan perangkat pada waktu makan atau percakapan tatap muka. Akses ke perangkat juga merupakan sumber gesekan dalam hubungan, seperti tentang giliran siapa yang menggunakan perangkat, lupa untuk mengisi baterai atau dan kehilangan perangkat.

Berangkat dari hasil studi tersebut, psikolog Tanti Diniyanti meyakini penggunaan gawai saat sedang bersama keluarga secara berlebihan, selain akan berdampak negatif terhadap hubungan dengan pasangan, juga akan memengaruhi anak. “Anak akan merasa diabaikan, tidak diperhatikan atau disisihkan oleh orang tuanya,” ujar dia.

Penggunaan gawai saat sedang bersama keluarga secara berlebihan oleh orang tua juga dapat mengakibatkan anak akan merasa kesepian, merasa sendiri dan berpotensi akan lebih mementingkan urusannya sendiri.

Dalam kondisi ini, jarak relasi antara anak dengan orang tua akan melebar sehingga mereka tidak dapat merasakan kehangatan dan kebersamaaan di dalam keluarga.

“Anak juga berpotensi mencari ulah untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya, dan bisa juga pergi tanpa diketahui oleh orang tua yang lebih sibuk dengan gawainya.”

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu ada kesepakatan di dalam keluarga untuk tidak memegang gadget ketika sedang bersama, seperti saat makan bareng, baik di rumah maupun di tempat lain, seperti restoran.

Setiap anggota keluarga juga perlu membuat kesepakatan bersama untuk mematikan gadget pada jam-jam tertentu, misalnya pada pukul 18.00 – 21.00 WIB, atau saat jam belajar bagi anak dan orang tua tidak lagi mengurus pekerjaannya.

“Perlu juga ada kesepakatan-kesepakatan lain, seperti bila sedang pegang gadget dan ada anggota keluarga mau bertanya atau mengajak berbicara, maka gadget harus disimpan dan perhatian hanya fokus kepada siapa yang bertanya.”

Menyimpan gawai saat sedang dalam pembicaraan dengan anggota keluarga itu penting untuk lebih memahami topik pembicaraan, menghargai dan menghindari ketersinggungan dari anggota keluarga lain yang sedang berbicara.

Setiap anggota keluarga juga perlu meminta izin untuk menjawab panggilan telepon bila sedang bersama keluarga. “Juga, jangan membawa gadget ke kamar mandi.”

Setiap anggota keluarga pun boleh saling mengingatkan bila ada anggota keluarga yang melanggar kesepakatan tersebut dan tentunya dengan cara penyampaian yang santun. Boleh saja memberikan konsekuensi yang disepakati atas pelanggaran yang dilakukan. Terpenting, orang tua harus memberikan contoh dalam menerapkan kesepakatan ini.

Tanti mengatakan, penting memahami bahwa jalinan dengan anggota keluarga lebih dapat tercipta kuat (strong relationship) bila ada banyak kesempatan berhubungan dengan tatap muka dan interaksi langsung. Dalam kondisi tersebut akan terjalin bonding, attachment, attention, communication parent-kids serta komunikasi suami-istri yang baik.

Senada, psikolog Ihsan Gumilar juga berpendapat mematikan atau memisahkan gawai sejenak saat sedang beriteraksi dengan keluarga merupaka tindakan yang tepat untuk menekan dampak buruk penggunaan perangkat. Tindakan ini sekaligus dapat melatih dan meningkatkan kemampuan fokus pada lawan bicara atau interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

Baik orang tua maupun anak-anak harus dapat menahan diri (self-control) untuk tidak selalu mengakses atau memegang gawai. “Setiap anggota keluarga harus saling mengingatkan untuk tidak menggunakan gawai pada saat-saat tertentu.”

Tag : gadget
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top