PERKI Dukung Kenaikan Cukai Rokok Untuk Tekan Angka Perokok Aktif

World Health Organization (WHO) mencatat penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian utama di dunia, dengan angka kematian (death rate) 30% atau setara dengan 17,3 juta orang.
Asteria Desi Kartika Sari | 23 Juni 2018 09:17 WIB
Seorang pria memegang kemasan rokok di Paris (25/9/2014) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- World Health Organization (WHO) mencatat penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian utama di dunia, dengan angka kematian (death rate) 30% atau setara dengan 17,3 juta orang.

Angka tersebut diperkirakan akan meningkat mencapai 23,3 juta orang hingga 2030. Negara dengan pendapatan rendah dan sedang seperti Indonesia memiliki kontribusi terbesar, sekitar 80%.

Kematian dini yang disebabkan oleh rokok mencapai hampir 5,4 juta kematian per tahun secara global. Jika ini terus terjadi, diperkirakan 10 juta orang perokok meninggal setiap tahunnya pada 2025.

Sebesar 35%-40% kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular dan berhubungan dengan rokok. Sementara itu, 25%-30% menunjukkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada perokok pasif.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Ismoyo Sunu mengatakan pihaknya sangat mendukung penerapan kebijakan nasional pengendalian tembakau secara holistik, termasuk pengaplikasian sanksi yang dapat dikenakan pada masyarakat, sekolah, ataupun di tempat fasilitas umum.

Dia menyinggung hasil studi di Afrika Selatan dan Prancis yang membuktikan bahwa jika harga rokok dinaikkan, maka akan berdampak positif bagi kesehatan masyarakat dan pendapatan masyarakat.

"PERKI mendukung terwujudnya cukai rokok ditingkatkan sampai 66% karena sudah dibuktikan pada studi, bahwa peningkatan cukai rokok tiga kali akan mengurangi separuh jumlah perokok aktif," ujar Ismoyo, yang dikutip Sabtu (23/6/2018).

Dia menerangkan PERKI memiliki program Keluarga Proaktif Kardiovaskular Sehat Indonesia (Koaktivasi). Program tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko penyakit kardiovaskular dan pengendaliannya dalam keluarga.

"Hal ini merupakan kunci keberhasilan pencegahan penyakit kardiovaskular. Harapannya, program ini dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular sebagai dampak dari konsumsi tembakau.” tambah Ismoyo.

Tag : cukai rokok
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top