Tik Tok Diblokir, Ini Kata Psikolog

Sepak terjang Tik Tok, mulai dari viral hingga diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika, menjadi perhatian banyak orang. Meski kreativitas penggunanya diakui, tapi ada pula pihak-pihak yang menilai sebagian video Tik Tok berisi konten negatif.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 05 Juli 2018 09:40 WIB
Ilustrasi anak kecil dengan smartphone. - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA – Sepak terjang Tik Tok, mulai dari viral hingga diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika, menjadi perhatian banyak orang.

Meski kreativitas penggunanya diakui, tapi ada pula pihak-pihak yang menilai sebagian video Tik Tok berisi konten negatif.

Pemblokiran ini pun ditanggapi oleh psikolog klinis Tara de Thouars. Menurutnya, yang menjadi masalah bukanlah aplikasinya, tapi karakter berekspresi pengguna aplikasi tersebut.

"Remaja itu kan lagi dalam fase dia cenderung lebih narsis karena sedang dalam masa pencarian identitas diri. Dia butuh diakui, dia merasa kayaknya dunia itu berpusat kepada dia,” papar Tara kepada Bisnis, Rabu (4/7/2018).

Di satu sisi, lanjutnya, Tik Tok bisa menjadi sarana bagi remaja untuk mengekspresikan diri. Namun, keinginan mengekspresikan diri itulah yang mungkin akhirnya muncul berlebihan.

Hal ini bisa terjadi pada orang-orang yang memiliki kebutuhan untuk tampil terlalu besar dan tidak terlalu memahami norma yang ada.

Untuk itu, para pengguna aplikasi yang masih di bawah umur sebaiknya tetap diawasi oleh orang tuanya.

“Harus ada bimbingan dari orang tuanya, mana yang baik dan mana yang tidak. Sebab, di fase umur remaja itu kan mereka berani, jarang berpikir, terkadang jika menurut mereka selama yang dilakukan itu menyenangkan mereka akan tetap lakukan,” jelas Tara.

Oleh karena itu, arahan orang tua sangat penting agar anak tetap bisa berkreasi dan berekspresi tanpa keluar jalur.

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani juga memberikan komentar tentang pemblokiran Tik Tok.

Dia mengaku sempat mendengar beberapa keluhan terkait aplikasi ini. Misalnya, anak yang tergila-gila dengan Tik Tok hingga akhirnya mengabaikan tugas-tugas sekolah.

“Ada pula yang kabarnya dalam usaha menambah follower jadi memberikan video yang sensasional. Misalnya, terlihat gerakan sensual atau yang membahayakan,” tutur Nina.

Untuk itu, dia pun mendukung tindakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang memblokir aplikasi ini.

Nina juga menyinggung rendahnya literasi media sosial masyarakat Indonesia. Hal ini membuat penggunaan media sosial (medsos) menjadi tidak tepat.

“Contohnya, malah menggunakan medsos untuk melakukan bullying atau tergila-gila dengan medsos sampai mengabaikan tugas-tugas lain. Adanya pemblokiran ini harusnya menjadi pengingat bahwa kita perlu menggunakan medsos dengan lebih cerdas dan bertanggung jawab,” terangnya.

Tag : kominfo, aplikasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top