Bayer Indonesia Gelar Diskusi DBD Asia Pasifik

PT Bayer Indonesia menggelar acara Bayer Vector Control Expert Meeting ke-5 sebagai upaya menyatukan ahli kesehatan masyarakat dan pengendalian vektor di Indonesia, guna mendiskusikan kasus demam berdarah (DBD) di Asia Pasifik dan daerah-daerah lain yang terkena dampaknya.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 17 Juli 2018 14:22 WIB
PT Bayer Indonesia menggelar Bayer Vector Control Expert Meeting ke-5 untuk membahas kasus demam berdarah di kawasan Asia Pasifik di Jakarta, Selasa (17/7). - Bisnis/Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bayer Indonesia menggelar acara Bayer Vector Control Expert Meeting ke-5 sebagai upaya menyatukan ahli kesehatan masyarakat dan pengendalian vektor di Indonesia, guna mendiskusikan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Asia Pasifik dan daerah-daerah lain yang terkena dampaknya.

Kasus penyakit DBD telah meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa dekade, dengan kenaikan hingga 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir.

Menurut data WHO dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), di Asia Pasifik tercatat 15,2 juta kasus DBD terjadi pada 2016.

Khusus di Indonesia, dalam tahun yang sama terjadi 202.314 kasus penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus tersebut. Jumlah ini termasuk 1.593 kasus kematian.

"Bayer Vector Control Expert Meeting ini bagian dari komitmen kami untuk terus membantu pemerintah dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat serta mendukung penelitian dan pengembangan dan lebih lanjut memastikan bahwa inovasi terbaru dalam pengendalian vektor dapat dibicarakan dan dibagikan dalam format dialog terbuka untuk mendiskusikan topik yang sangat penting ini," ungkap Jason Nash, Head of Innovation in Asia Pasific, Environmental Science, Bayer Crop Science, di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Komitmen Buyer dalam memerangi penyakit yang ditularkan vektor melalui pengendalian vektor telah berlangsung selama 60 tahun. Bayer sangat mendukung pendekatan terpadu dalam mengendalikan penyakit yang ditularkan melalui vektor serta melibatkan para ahli pengendalian nyamuk dari seluruh dunia.

Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengembangkan resolusi yang lebih efektif guna melindungi masyarakat dari risiko tertular penyakit tersebut.

"Upaya melawan penyakit yang ditularkan vektor membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan yang melibatkan sektor swasta maupun publik, akademisi, pemerintah, serta organisasi non pemerintah. Ancaman DBD, virus zika, dan malaria tidak mengenal batas dan menjadi perhatian semua orang. Oleh karena itu, Bayer selalu menjadi bagian dari perjuangan melawan penyakit yang ditularkan nyamuk dan merupakan mitra aktif dalam melakukan pembinaan kesehatan masyarakat di seluruh dunia melalui pengendalian vektor sejak 1950-an," imbuh Nash.

Tag : demam berdarah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top