Perajin Batik Harus Beri Nilai Tambah Produk Lokal

Asteria Desi Kartika Sari | 24 Juli 2018 20:20 WIB
Ilustrasi - Antara/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian menilai perlunya ketekunan dan konsistensi dalam menjaga, melestarikan, dan mengomersialisasikan industri batik lokal. Belum lagi, ada kekhawatiran tentang masalah regenerasi pembatik, juga penenun, yang dianggap ujung tombak produk industri lokal.

Padahal berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, kain batik dan tenun berkontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspor yang diraup dari wastra (sandangan) itu mencapai US$151,7 juta pada 2016. Oleh karena itu, guna menciptakan regenarasi yang optimal, vokasi industri akan terus didorong.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu pilar utama dalam kebijakan pemerataan ekonomi. Hal tersebut dapat direalisasikan melalui pendidikan vokasi melalui konsep link and match antara pelaku industri dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) demi menyiapkan tenaga yang terampil sesuai kebutuhan industri.

“Kami ingin membangun generasi yang dapat menciptakan nilai tambah terhadap produk lokal. Kami mendorong vokasi industri anak muda semakin mencintai produk lokal,” kata Direktur Industri Kecil dan Menengah, Kimia, Sandang, Aneka, dan Kerajinan Kementerian Perindustrian, Ratna Utarianingrum dikutip Selasa (27/7/2018).

Sebagai dukungan, Ratna mengatakan kementerian telah menyediakan inkubator dan dan balai-balai riset di beberapa tempat untuk terus mengembangkan potensi-potensi untuk meningkatkan skala produksi industrinya.

Adapun beberapa program juga diterapkan supaya pelaku industri tidak berjalan sendiri. Program tersebut di antaranya bimbingan teknis, bantuan perawatan, restrukturisasi mesin dan peralatan, pemasaran offline, serta kerja sama dengan marketplace.

"Lewat bimbingan teknis, para pelaku dibekali kemampuan desain produk dan packaging. Mereka bisa mendapat diskon ketika memperbarui alat, pameran di dalam dan luar negeri serta berpartisipasi di platform digital,” jelasnya.

Dia mengatakan mereka akan dididik dari awal supaya tidak goyah. Apalagi untuk para pelaku industri yang masih muda. Lebih lanjut, dia berpesan supaya pengusahan lokal seperti IKM tidak boleh malu untuk berkolaborasi, terutama dengan pelaku industri yang telah memiliki nama besar.

“Dengan ikon seprofesi yang sudah banyak dikenal, bisa menggerakkan para pelaku industri lainnya untuk bisa mencontoh dan memperkenalkan hasil produksinya kepada pasar luas. Nilai jual karyanya pun bisa meningkat,” ujar Ratna.

Dia juga menyarankan pelaku IKM untuk rutin mengikut berbagai kegiatan peragaan busana. Tujuannya agar mereka bisa mencapai pasar yang lebih besar. Lalu, pelaku IKM ini juga bisa meningkatkan daya saing dengan pelaku lainnya. “Supaya pelaku industri bisa berkarya secara nasional, karena setiap kota pasti memiliki potensi pasar masing-masing," imbuhnya.

Tag : batik, tenun
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top