Nikmati Keju & Susu Tanpa Khawatir Risiko Jantung dan Strok

Berdasarkan penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition, ditemukan bahwa orang-orang yang secara teratur menikmati keju, susu utuh, dan produk-produk susu penuh lemak lainnya tidak berisiko tinggi dari serangan jantung, strok, bahkan kematian.
Asteria Desi Kartika Sari | 27 Juli 2018 08:26 WIB
Keju - theatlantic.com

Bisnis.com, JAKARTA – Ada bukti baru bahwa lemak jenuh yang terkandung dalam keju, susu, dan jenis produk sejenis lainnya tidak terkait dengan peningkatan risiko jantung. Bukti ini tentu membuat pecinta keju tak perlu terlalu khawatir saat diet.

Berdasarkan penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition, ditemukan bahwa orang-orang yang secara teratur menikmati keju, susu utuh, dan produk-produk susu penuh lemak lainnya tidak berisiko tinggi dari serangan jantung, strok, bahkan kematian.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa lemak bukanlah penjahat kesehatan. Justru, gula dan karbohidrat sederhana mungkin menjadi masalah yang jauh lebih besar.

Temuan semacam itu bertentangan dengan keyakinan dominan bahwa mengonsumsi makanan seperti mentega dan keju adalah kebiasaan buruk yang harus dipatahkan.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati hampir 3.000 orang dewasa selama 22 tahun dan mengukur tingkat lemak susu dalam darah mereka untuk memperkirakan asupan keju dan produk-produk tinggi lemak lainnya.

“Temuan kami tidak hanya mendukung, tetapi juga secara signifi kan memperkuat, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa lemak susu, bertentangan dengan kepercayaan populer, tidak meningkatkan risiko penyakit jantung atau kematian secara keseluruhan pada orang dewasa,” kata penulis utama sekaligus asisten profesor Universitas Texas Marcia Otto seperti dikutip BusinessInsider.

Sayangnya, banyak orang terus percaya bahwa makan telur memberi Anda kolesterol tinggi, jus jeruk adalah bagian dari sarapan lengkap, atau makanan berlemak membuat gemuk, meskipun sudah ada bukti yang telah menyanggah mitos-mitos ini.

“Saya tumbuh dengan dua orang tua yang sadar kesehatan dan percaya bahwa semua makanan tinggi lemak buruk bagi Anda. Kulkas kami dipenuhi dengan margarin, susu rendah lemak atau bebas lemak adalah satu-satunya jenis yang saya minum, dan bilah sereal yang saya makan saat anak-anak berkilau dengan label rendah lemak,” ceritanya.

Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa ketika dimakan dalam isolasi, lemak tidak berkontribusi terhadap penambahan berat badan. Menurut Pedoman Diet untuk Amerika, Departemen Pertanian AS masih menyarankan orang-orang untuk tidak mengonsumsi banyak produk penuh lemak, dan mendorong orang untuk makan makanan seperti sereal, roti, dan biji-bijian olahan lainnya.

Pedomannya jelas tentang jenis yang harus dimakan, yakni bebas lemak atau rendah lemak.

Selain itu, The American Heart Association juga masih merekomendasikan untuk membatasi lemak jenuh dan secara khusus menyebut keju dan makanan berbasis hewani lainnya memiliki potensi dapat meningkatkan kadar kolesterol ‘jahat’ dan berkontribusi untuk masalah jantung.

Pada studi baru-baru ini yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet. Para ilmuwan membandingkan lebih dari 135.000 orang di 18 negara pada diet rendah lemak atau rendah karbohidrat.

Orang yang mengkonsumsi makanan rendah lemak berisiko lebih besar terhadap kematian akibat serangan jantung dan penyakit jantung. Sebaliknya, orang-orang yang memilih rendah karbohidrat memiliki risiko yang jauh lebih rendah. Melihat hal tersebut, dia menyimpulkan pedoman diet global harus dipertimbangkan kembali.

Hasil seperti itu telah memicu popularitas diet ketogenik, yang menekankan makanan seperti daging, mentega, dan bacon dan memotong hampir semua karbohidrat, termasuk yang berasal dari buah. Dari hasil tersebut, lanjutnya, mungkin ahli gizi seharusnya tidak pernah memberitahu orang untuk berhenti makan lemak.

Tag : kesehatan
Editor : M. Taufikul Basari
Top