Kapan Saatnya Pasangan Memilih Bayi Tabung?

Proses mendapatkan buah hati melalui metode bayi tabung sudah ada sejak 40 tahun lalu dan sudah melahirkan 6,5 juta anak di seluruh dunia. Adapun di Indonesia, bayi pertama yang lahir melalui proses bayi tabuh dimulai sejak 1988.
Dewi Andriani | 08 September 2018 11:19 WIB
Seorang ibu menyusui bayinya. - Istimewa

Kehadiran sang buah hati menjadi hal yang paling diidamkan oleh hampir setiap pasangan yang sudah menikah. Tangisan kecil dan senyum manja seorang bayi yang hadir di tengah-tengah keluarga kian menambah kebahagiaan di antara keduanya.

Namun, setiap pasangan memiliki kondisi yang berbeda dalam perjalannya untuk mendapatkan momongan. Ada pasangan yang langsung diberikan keturunan sesaat setelah menikah tetapi tidak sedikit pula pasangan yang kesulitan mendapatkan sang buah hati.

Berbagai faktor dapat menjadi penyebab, tidak hanya kesehatan tetapi juga lingkungan dan gaya hidup. Biasanya, pasangan yang sudah lebih dari dua tahun menikah dan belum mendapatkan keturunan, akan melakukan berbagai cara dan terapi.

Salah satu cara yang kini banyak dilakukan sejumlah pasangan yang mengalami kesulitan dalam pembuahan adalah metode in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung. Arief Boediono, ahli embriologi dari Klinik Morula IVF Indonesia mengatakan bayi tabung merupakan proses pembuahan dengan menggunakan teknologi reproduksi berbantu (TRB).

Proses perkawinan atau pengkondisian antara sel sperma dengan sel telur dilakukan di Laboratorium Embryology dengan cara menyuntikan satu sel sperma terbaik ke dalam satu sel telur. Keduanya kemudian diletakkan dalam inkubator untuk inkubasi selama beberapa hari untuk memantau terjadinya pembuahan normal sehingga membentuk embrio.

Penyebab Kematian Vokalis The Cranberries Akhirnya Terungkap

“Dalam satu kali proses bisa didapatkan sejumlah embrio. Tapi hanya satu yang ditanamkan ke dalam rahim 3 hingga 5 hari setelah pengambilan sel telur dilakukan. Embrio yang lainnya, dibekukan untuk kemudian disuntikan kembali ke dalam rahim jika proses pertama gagal atau bisa ditanamkan untuk anak selanjutnya,” ujarnya.

Proses mendapatkan buah hati melalui metode bayi tabung sudah ada sejak 40 tahun lalu dan sudah melahirkan 6,5 juta anak di seluruh dunia. Adapun di Indonesia, bayi pertama yang lahir melalui proses bayi tabuh dimulai sejak 1988.

Kini, program bayi tabung semakin diminati, Tya Ariestya menjadi satu dari sejumlah selebritis tanah air yang sukses menjalankan program bayi tabung selain Inul Daratista, Cynthia Lamusi, Sissy Prescillia, dan Lula Kamal.

Menurutnya, metode bayi tabung dipilih sebagai bentuk ikhtiar yang dilakukan bersama sang suami, Irfan Ratinggan untuk mendapatkan keturunan setelah melakukan berbagai metode dan terapi pengobatan sekitar 1,5 tahun pernikahan.

Ternyata Leukimia Bukan Satu-satunya Kanker Darah. Lalu Apa Saja?

Tya juga mengakui bahwa dirinya mengidap PCOS (polycystic ovary syndrome) atau sindrom ovarium polikistik yang membuat terganggunya fungsi ovarium di saat usia subur. Hal ini membuatnya tiga kali lebih sulit mendapatkan keturunan dibandingkan wanita pada umumnya.

“Aku pilih program IVF karena aku PSO, sel telur kecil dan banyak jadi susah untuk ovulasi. Sulit untuk memiliki masa subur. Setelah konsultasi dengan dokter sana sini ada beberapa pilihan. Akhirnya dokter menyarankan untuk bayi tabung karena setelah coba proses pembuahan secara alami masih belum berhasil,” kisahnya.

Untuk menjalankan program bayi tabung untuk buah hatinya yang pertama, Muhammad Kanaka Ratinggan, Tya mengaku merogoh kocek sebesar Rp60 juta. Selain dana, dia juga harus mempersiapkan mental serta disiplin dan konsisten dalam menjalankan setiap proses mulai dari konsumsi obat, menjaga asupan makanan, dan menjaga gaya hidup.

Setelah sukses dalam program yang pertama, wanita berusia 32 tahun tersebut kembali mencoba program bayi tabung. Kali ini, dana yang dikeluarkan lebih besar mencapai Rp100 juta karena obat-obatan dan stimulasi suntikan yang diberikan dua kali lipat dibandingkan program yang pertama.

“Ada 8 embrio yang berhasil jadi, nanti akan dipilih yang terbaik untuk disuntikan ke rahim. Masih deg-degan, doakan ya semoga berhasil,” harapnya. Sebab, diakui olehnya usai menjalankan program yang pertama, Tya sempat menyuntikan kembali embrio yang sempat dibekukan tetapi belum berhasil. Dana yang dikeluarkan saat itu sekitar Rp20 juta.

Sepatu Pro Bounce dan Mad Bounce Untuk Generasi Basket Masa Depan

CEO Morula IVF Indonesia Ivan Sini, SpOG mengatakan ketika menjalankan program bayi tabung peluang keberhasilannya memang tidak mencapai 100%. Artinya tidak semua program berhasil. Namun, peluang kehamilan melalui bayi tabung mencapai 32% hingga 50%.

“Bagi pasangan yang sedang berupaya hamil. Perkiraan peluang kehamilan secara alami hanya sekitar 2% -- 4%. Sementara menurut WHO peluang kehamilan bayi tabung bisa 32% dan di klinik Morula mencapai 40% hingga 50%,” ujarnya.

Menurutnya, ketika percobaan pertama gagal, pasangan dapat mencoba yang kedua dengan menanamkan embrio yang sudah dibekukan di awal. Pada saat yang kedua kali, peluang keberhasilan menurunya bisa mencapai 70% hingga 80% lebih tinggi.

Ivan menuturkan ada beberapa hal yang menjadi faktor penentu keberhasilan program bayi tabung. Pertama, kualitas sperma. Hanya sperma dengan kualitas terbaik yang berhasil membuahi sel telur dan berkembang menjadi embrio.

“Dalam proses bayi tabung ini, akan dipilih satu sperma yang paling bagus bentuk dan kualitasnya, kemudian dibantu suntikan ke sel telur sehingga berkembang menjadi embrio. Kalau spermanya buruk maka akan gagal menjadi embrio ketika disuntikan ke sel telur,” ujarnya.

Kedua, embrio atau bibit yang akan ditanamkan ke rahim sebagai cikal bakal janin. Embrio akan berkembang dengan baik jika mengandung kromosom yang baik. Embrio akan ditanamkan ke rahim pada saat hari ke lima dengan melepaskan cangkangnya.

Ketiga, rahim yang menjadi tempat perlindungan janin. Jika terjadi kondisi tidak normal karena adanya pembengkakan, kista, dan lainnya akan menyulitkan proses penanaman embrio.

Faktor Keempat adalah hormonal sebagai faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan perkembangan janin. Oleh karena itulah, dalam program bayi tabung, wanita perlu mendapatkan stimulasi dalam bentuk obat atau suntikan untuk menyeimbangkan hormon.

Kelima, usia juga menjadi faktor penentu. Sebab, semakin bertambahnya usia wanita maka akan lebih sulit tingkat keberhasilannya. “Bukan berarti tidak bisa, hanya mungkin akan lebih kecil tingkat keberhasilannya dibandingkan yang berusia di bawah 40 tahun.”

Havainas Kreasikan Sepatu Espadrilles untuk Bantu Korban Gempa Lombok

Oleh karena itulah, dia menyarankan agar pasangan yang ingin mencoba program bayi tabung dapat segera menjalankan ketika usia pernikahan sudah mencapai 2 hingga 3 tahun. Sebab, usia mempengaruhi tingginya keberhasilan program tersebut. Semakin ditunda, peluang keberhasilan untuk mendapatkan keturunan melalui program bayi tabung akan semakin kecil.

“Dulu program bayi tabung banyak dilakukan pada usia 38 hingga 39 tahun saat usia pernikahan 8-9 tahun. Kini banyak yang di usia 35 tahun saat usia pernikahan 4-5 tahun. Tapi memang idealnya  ketika usia di bawah 35 tahun, tingkat keberhasilannya akan lebih besar karena saat itu jumlah sel telur dan kualitas sperma masih bagus,” tuturnya.

Tag : keluarga, bayi tabung
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top