Gara-gara Pempek, Penderita Karies Gigi di Palembang Tinggi

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sri Hananto Seno mengatakan pempek merupakan makanan yang terbuat dari tepung di mana bahan tersebut mengandung gula cukup tinggi dan mudah terfermentasi di dalam gigi.
Dinda Wulandari | 18 September 2018 16:54 WIB
Pempek Palembang - Istimewa

Bisnis.com, PALEMBANG -- Mengonsumsi pempek terlalu sering ternyata bisa menimbulkan masalah gigi, termasuk karies gigi.

Hal ini terjadi di Kota Palembang, di mana jumlah penderita karies gigi ternyata cukup banyak. Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Sri Hananto Seno mengatakan pempek merupakan makanan yang terbuat dari tepung di mana bahan tersebut mengandung gula cukup tinggi dan mudah terfermentasi di dalam gigi.

"Makanya, karies di Palembang cukup tinggi karena salah satu makanan yang sering dikonsumsi masyarakatnya adalah pempek," tuturnya dalam acara Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2018 di Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (18/9/2018).

Tingginya penderita karies itu tercermin dari indeks Decay-Missing-Filled Teeth (DMF-T) di Palembang yang mencapai 5,3. Indeks tersebut digunakan untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen.

"Indeks DMF-T Palembang bahkan lebih tinggi dibanding nasional yang sebesar 4,6. Artinya, kerusakan gigi penduduk Indonesia mencapai 460 gigi per 100 orang, sedangkan Palembang 530 gigi per 100 orang," papar Seno.

Namun, konsumsi makanan yang mengandung gula berlebihan hanya menjadi salah satu pemicu. Faktor lainnya adalah kebiasaan masyarakat untuk menyikat gigi tiap hari dengan benar masih di bawah rata-rata.

Untuk itu, promosi pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut dinilai perlu terus digalakkan.

Dia menjelaskan proses karies akibat gula sebetulnya dapat dikendalikan dengan lebih mewaspadai konsumsi gula dan menginterupsi waktu pembentukan karies. Hal ini dilakukan melalui rutinitas menyikat gigi pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur menggunakan pasta gigi yang mengandung flouride, serta berkonsultasi ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.

Sementara itu, Division Head for Health & Wellbeing and Profesional Institutions Yayasan Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah mengungkapkan Palembang menjadi salah satu kota yang dipilih untuk pelaksanaan BKGN 2018.

Secara keseluruhan, BKGN 2018 akan diadakan di 23 fakultas kedokteran gigi dan 40 cabang PDGI di berbagai wilayah hingga Desember 2018.

"Kami targetkan di Palembang saja bisa melayani 1.500 orang untuk pemeriksaan gigi dan mulut. Sementara itu, secara nasional sebanyak 65.000 masyarakat," sebutnya.

Berbeda dengan pelaksanaan BKGN tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini BKGN tidak hanya menyasar anak-anak dalam memberikan ragam edukasi mengenai cara merawat kesehatan gigi dan mulut, melainkan seluruh anggota keluarga. Fokus utamanya adalah memahami dan mewaspadai risiko gula tersembunyi.

"Salah satu bentuk edukasi yang menarik adalah area wisata kuliner yang mengangkat hidangan khas Palembang, yaitu pempek. Di area ini, kami mengangkat bahwa di balik kelezatan hidangan yang dikonsumsi tiap hari, walau tidak manis sekalipun, masyarakat perlu mewaspadai risiko karies yang dapat diakibatkan oleh gula tersembunyi," imbuh Ratu.

Tag : palembang, gigi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top