Subsektor Kekuatan Baru Ekonomi Kreatif

"Ekonomi kreatif berhubungan dengan ide dan uang. Ini adalah jenis ekonomi pertama di mana imajinasi dan kreativitas menentukan apa yang orang-orang ingin lakukan dan hasilkan,” tutur John Howkins.
Asteria Desi Kartika Sari | 20 Oktober 2018 20:12 WIB
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf memberikan sambutan pada Outlook Conference 2019 di Jakarta, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA-- "Ekonomi kreatif berhubungan dengan ide dan uang. Ini adalah jenis ekonomi pertama di mana imajinasi dan kreativitas menentukan apa yang orang-orang ingin lakukan dan hasilkan,” tutur John Howkins.

Ekonomi kreatif dinilai potensial untuk menggerakkan roda perekonomian domestik pada tahun-tahun mendatang. Bidang ini merupakan perwujudan nilai tambah kekayaan intelektual dari kreativitas manusia. Gagasan kreatif yang muncul dapat berbasis ilmu pengetahuan, warisan budaya, maupun teknologi.

Harapannya, ekonomi kreatif Indonesia menjadi kekuatan baru ekonomi nasional di masa mendatang, seiring dengan mulai ditunjukannya gambaran positif terhadap kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB).

Subsektor ekonomi kreatif atau ekraf yang diperkirakan tumbuh pesat adalah film, game atau animasi, serta musik. Hal tersebut linear dengan pesatnya perkembangan teknologi digital.

Pemanfaatan teknologi digital tersebut sudah dapat dirasakan dampaknya di beberapa subsektor. Merujuk kepada data resmi yang dirilis Bekraf per 2016 tercatat 8,2 juta jumlah usaha yang bergerak di sektor ekonomi kreatif.

Dari data tersebut subsektor ekraf dengan pertumbuhan tertinggi, yaitu TV dan radio 10,33%; film, animasi, dan video 10,09%; seni pertunjukkan 9,54%; serta desain komunikasi visual (DKV) 8,98%; aplikasi dan game developer sebesar 8,06%.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan subsektor seperti film, seni, musik, gim dan aplikasi berpotensi untuk ditingkatkan sehingga Indonesia dapat menjadi pusat industri kreatif di dunia, meskipun kontribusinya belum sebesar subsektor fesyen, kriya,

dan kuliner. "Subsektor ini berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru," ujar Triawan.

Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf Wawan Rusiawan menambahkan melihat kondisi ekonomi makro, industri ekonomi kreatif dituntut menjadi kekuatan baru penggerak ekonomi. Apalagi, pada 2019, kontribusi terhadap PDB dari ekraf ditargetkan Rp1.211 triliun.

Dia menuturkan, meskipun belum keluar data resmi terkait realisasi PDB ekraf pada 2017 tetapi pihaknya meyakini secara nilai sudah melampaui Rp1.000 triliun, bahkan mendekati Rp 1.102 triliun pada tahun ini.

“Peran teman-teman [pelaku industri kreatif] sangat penting, kami harus saling berdekatan dengan mereka untuk mengembangkan iklim yang kondusif agar mereka nyaman dalam berbisnis," tambah Wawan.

Ditambah lagi, dia mengatakan subsektor film, seni, musik, gim dan aplikasi memiliki pasar yang besar di luar negeri. Sehingga, diharapkan pelaku industri ekraf Indonesia dapat melebarkan sayap di dunia internasional. Meski begitu, dia mengingatkan pasar domestik tak kalah harus digarap dengan lebih serius.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi kreatif

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top