Tekan Jumlah Perokok, Penelitian Rokok Alternatif Digencarkan

Tingginya angka perokok mendorong para peneliti dari berbagai belahan dunia melakukan kajian untuk menemukan cara mengatasi masalah ini.
MG Noviarizal Fernandez | 27 Oktober 2018 09:57 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA -- Tingginya angka perokok mendorong para peneliti dari berbagai belahan dunia melakukan kajian untuk menemukan cara mengatasi masalah ini.

Di AS, sebuah penelitian yang dipimpin oleh pakar onkologi David Theodore Levy dari Georgetown University Medical melakukan kajian lebih lanjut terhadap masalah rokok dengan mempertimbangkan strategi peralihan perokok ke penggunaan produk tembakau alternatif. Dalam hal ini, rokok elektrik untuk mempercepat proses pengendalian tembakau di Negeri Paman Sam.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control dengan menggunakan skenario optimistis dan pesimistis serta membuat model potensi dampak kesehatan masyarakat bila rokok digantikan dengan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Hasilnya, penelitian menemukan bahwa diperkirakan sebanyak 6,6 juta orang di AS dapat terhindar dari kematian dini jika perokok beralih ke rokok elektrik.

"Diperlukan sejumlah upaya komprehensif agar proses pengendalian tembakau dapat berhasil. Peralihan dengan menggunakan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik bisa menjadi salah satu upaya mengingat tingkat kandungan risiko kesehatan yang dimiliki lebih rendah dibandingkan dengan rokok," jelasnya dalam jurnal tersebut.

Sementara itu, peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik Amaliya mengatakan bahwa meskipun memiliki perbedaan karakteristik masyarakat, pada dasarnya Indonesia juga memiliki permasalahan yang sama dengan AS dalam hal pengendalian konsumsi rokok.

"Perlu suatu langkah alternatif untuk mengatasi hal ini. Kami di YPKP juga telah melakukan penelitian lebih lanjut mengenai produk tembakau alternatif, baik melalui pendekatan kesehatan dengan memeriksa sel rongga mulut pada tiga kelompok utama, yakni perokok, pengguna rokok elektrik, dan non perokok, maupun pendekatan sosial," paparnya, Sabtu (27/10/2018).

Dari proses penelitian tersebut, YPKP melakukan observasi langsung dengan para perokok.

Hasilnya, ditemukan bahwa banyak perokok yang merasa kesulitan untuk berhenti. Salah satunya, yakni karena alasan psikologi di mana perokok kehilangan sensasi dari kebiasaan hand to mouth.

"Kebiasaan ini juga dapat dirasakan dengan penggunaan produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar dan rokok elektrik. Kemudian, konsep pengurangan risiko yang diterapkan pada produk tembakau alternatif menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah hingga 95% daripada rokok," tutur Amaliya.

Dia melanjutkan merujuk pada berbagai penelitian dan literatur atas potensi produk tembakau alternatif, produk tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi perokok yang berkeinginan untuk berhenti secara bertahap.

 

Tag : merokok
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top